
Karena tidak ingin gadisnya terbangun dan berakhir nanti merengek karena sulit tidur kembali, Danial membuka salah satu pintu tersebut, laki-laki yang berada di belakang nya ikut masuk kembali dan menutup pintu dengan rapat.
"Tolong! jangan sakitin gue uhuk... uhuk." Leher Kintan terasa patah karena cekikan Danial yang sangat keras. Kintan takut, ia hanya bercanda tidak bermaksud untuk membuat Danial marah.
Danial tersenyum miring, tidak lagi ada wajah datar di sana. Ia merogoh sesuatu di kantong celananya.
Mata Kintan melebar sempurna ketika melihat sebuah pisau di sana. Danial membawa itu kemana-mana. Jadi yang dikatakan Satria benar, Danial itu adalah ....
"Biar gue yang melakukannya!" laki-laki yang sedari tadi membuntuti mereka adalah Steven. Ia sangat ingin melenyapkan perempuan ini sedari dulu, karena telah berani menyentuh Kesya waktu itu.
Srek! Srek!
Steven tersenyum miring ketika kedua kaki Kintan menjadi korbannya.
Hal tersebut berlanjut, tidak mempedulikan darah merembes keluar dari sana. Ini akibat selalu bermain-main dengan mereka.
Sedangkan di luar ruangan, Kesya menggigit bibir bawahnya karena kesal Steven meninggalkan nya. Ah! menyebalkan.
"Lo kenapa di sini?" tanya Lala bersama dengan Rapa menghampiri Kesya.
"ah?" Kesya sempat terkejut dengan keberadaan mereka.
"gu ... gue mau...."
"Kesya ke sini bersama dengan Steven," jelas Rapa. Baik Lala dan Kesya melotot kan matanya. Selain dingin dan pendiam ternyata Rapa suka membocorkan rahasia orang. Mana wajahnya tidak tampak bersalah sedikitpun lagi.
"Lo pacaran sama Steven?" tanya Lala memicingkan matanya.
'Gue sih mau seperti itu. Tapi ya seperti itulah. Emang dasarnya cowok ngak peka mau gimana lagi.'
Kesya menggelengkan kepalanya, "Ngak, gue ada gebetan lain kok. Ngak mungkinlah sama kak Steven."
"Kalau Steven dengar, lo mau tanggung jawab?" sungut Rapa.
Sebenarnya Rapa ini ada masalah hidup apa sih dengannya? selalu saja ikut campur.
"Itu bukan urusan gue!" ketus Kesya.
"Oh ya." Rapa tersenyum miring membuat Kesya bergelidik ngeri.
Sebenarnya ini yang Kesya takutkan. Ia masih ragu menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka. Walaupun ketampanan mereka tidak manusiawi. Tapi, Kesya tidak ingin takut setiap hari dan di kekang.
"Jangan menggoda Kesya, Rap. Ngak boleh."
__ADS_1
"Oke," jawab Rapa singkat. Lala tersenyum dan mengangguk.
"Argh!" suara teriakan nyaring berhasil memenuhi indra pendengaran mereka. Entah mengapa Kesya jadi merinding dan keringat dingin mendengarnya.
Bukannya takut, Lala melangkah dan melepaskan rangkulan Rapa. Sepertinya berasal dari kamar itu.
"La! lo jangan buka, gue takut!" pinta Kesya. Mereka sudah berada di depan pintu tersebut.
Walaupun Lala polos, tapi ia tidak pernah takut dengan suara-suara seperti itu. Justru ia semakin gencar mencari sumber suara itu.
"Minggir!" tegas Rapa ketika Kesya menghalangi Lala membuka pintu.
Dengan ragu dan jantung berdebar sangat kencang Kesya mundur dan memberikan akses lebih luas kepada mereka.
Ceklek!
Tidak kaget sama sekali. Lala masuk ke dalamnya. Di sana sudah ada Kintan yang telah pingsan dengan darah merembes keluar dari kedua kakinya. dan dua cowok yang tersenyum miring melihatnya.
Mungkin itu biasa untuk Lala tapi tidak dengan Kesya. Kesya membekap mulutnya dan menggelengkan kepalanya ketika melihat hal tersebut.
Mereka sangat kejam!
"Kak Stev!" lirih Kesya.
"Key!" panggil Steven. Ia melepaskan pisau tersebut.
Kesya tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan cowok kejam seperti mereka. Kesya takut dan masih waras.
Kesya mundur perlahan dan berlari meninggalkan mereka. Steven langsung mengejarnya dengan tatapan tajam nya.
"Bagaimana mana bisa?" tanya Lala tidak habis pikir.
"Rap! singkirkan perempuan ini. Kalau bisa buang ke tengah hutan."
"Jangan! Anja akan mencari kakaknya nanti. Danial, lo jangan main-main. Anja bisa benci sama lo."
"Terus!"
"Lebih baik kasih suntikan Rapa, membuat suara Kintan hilang untuk sementara waktu. Biarkan Kintan trauma dan nanti akan bertaubat sendiri."
Rapa dan Danial mengangguk setuju. Rapa mengusap pucuk kepala Lala, ternyata gadisnya sangat cerdik dan juga licik.
Siapa lagi yang mengajarkannya. Rapa sendiri.
__ADS_1
****
"Lepasin! Lepasin gue! gue ngak mau dekat sama lo!" bentak Kesya ketika Steven memojokkan nya di belakang rumah Anja yang sudah sepi dan sunyi. Para tamu masih mengobrol di dalam. Namun mereka tidak memperdulikan sekitarnya.
"Lo mau kemana?"
"Gue mau pulang kak. jadi lepasin tangan gue." Kesya memberontak, namun itu sia-sia. tangan munggil nya tidak akan sebanding dengan Steven.
"Gue ngak mau ketemu sama lo. ngak mau! jauh-jauh dari hidup gue."
Steven mengeram dan menatap tajam Kesya membuat Kesya semakin bergetar karena takut.
"Sekarang lo ikut ke rumah gue!"
Kesya melebarkan matanya, "Ngak! aku ngak mau."
"Kamu harus tanggung jawab, Key. Kamu sudah buat aku tertarik sama kamu. Jadi, kamu harus menerima konsekuensi. Kamu seperti ini, aku semakin gencar buat miliki kamu."
Deg. Steven menyukainya? Kesya bukannya senang, ia malah semakin gelisah. Steven tidak boleh suka kepadanya. Kesya ingin hidup normal. Tidak ingin bersama dengan Steven.
"Tapi aku ngak suka sama kamu."
Steven terkekeh, "Jangan banyak alasan. Terus kedekatan kita selama beberapa hari ini tidak ada artinya?"
"Ya, aku suka sama kamu tapi sudah nggak. Papa aku melarang aku untuk memilik hubungan dengan ... argh!"
Punggung Kesya terasa tertusuk sesuatu. Pandangan nya buram. Steven menyuntikan obat bius kepadanya.
Steven tersenyum miring. Rapa memberikan nya tadi ketika Steven tengah kelimpungan mengejar Kesya.
Rapa memang bisa diandalkan.
"Maaf, Key. Kita pulang sekarang. Lo pergi sama gue. Lo pulangnya juga sama gue."
Steven membuang suntikan itu dan menggendong Kesya yang sudah tidak sadarkan diri. Steven telah menemukan gadisnya. Dan selamanya tidak akan melepaskannya.
Sebenarnya Steven tidak tega, namun Kesya akan kabur nantinya. Dan Steven tidak ingin sesuatu terjadi kepada Kesya. Bisa saja ketika Kesya berlari keluar gerbang menghindarinya, gadis itu tertabrak mobil dan lainnya.
Steven menghela nafas dan melangkah menuju parkiran. Steven sudah meretas semua kemanan di rumah Kesya begitupun dengan ponsel Kesya.
Apapun yang Kesya lakukan di ponselnya. Steven mengetahuinya, tanpa sepengetahuan Kesya sendiri.
Dan Kesya hanya dekat dengannya. Tidak dengan siapapun itu.
__ADS_1