
"Gue ke toilet," ujar Anja membereskan buku-buku nya, memasukkan nya ke dalam tas ransel, lalu berlalu tanpa ingin di antar oleh siapapun.
"Nyelonong ajha tuh anak," ucap Lala dengan menatap Selsa yang kini mengikuti Anja dari belakang, "Woy lo mau ikut juga sama Anja?"
"Berisik lo," cetus Selsa lalu pergi keluar kelas.
Lala menggaruk kepalanya, "Emang gue berisik ya? perasaan suara gue imut seperti Anja."
"Woy!! ketua kelas!! berisik banget hidup lo."
Ketua kelas yang terkenal dingin dan cuek itu melirik sekilas ke arah Lala. Lala tersenyum manis menanggapinya. Sasaran yang salah.
"Serius amat hidup lo."
Kesya menatap Lala, dan mencari seseorang di dekat gadis itu, namun orang yang ia cari tidak ada di sana.
"Sya!! nyontek dong, lo udah jadikan tugas bahasa Indonesia??" Desi mengambil buku Kesya dengan cepat, sebelum empunya mengamuk.
"Gue juga mau," bisik Hani segera mungkin menyalin jawaban Kesya. Lumayanlah otak kecil mereka malas berpikir.
"Siniin!! lo lelet banget nulisnya," ketus Hani menunggu Desi yang belum juga selesai di lembar pertama.
"Sabar setan!!"
Hani mengerucutkan bibirnya, "Berani banget lo katain gue setan."
"Sya!! katanya ada murid baru tahu, di kelas sebelah," Hani sempat melihatnya tadi di parkiran. "Gila ganteng banget, seperti anak geng motor gitu."
"Tak peduli aku," jawab Kesya malas.
"Ohhh ya, ratu si anak baru dulu itu hilang kabar ya? setelah kejadian itu kan."
__ADS_1
Masih ingat ratu ?? cewek yang mencoba mendekati Danial, dan mencoba menyingkirkan Anja dari kantin dahulu.
"Serem tahu, katanya ya dia hilang secara misterius, sampai keluarga nya hilang juga."
"Beneran?? lo tahu dari mana??" tanya Kesya dan Desi penasaran, jadi merindingkan.
"Berita sekolah. Ini nih ngak pernah buka gruf sekolah."
"Ceritain dong," pinta Kesya dan Desi memohon. Soalnya mereka malas membuka berita sekolah yang isinya anak caper semua. Butuh belaian dan sok ribut di gruf.
"Kayaknya setelah kejadian itu ratu ngak ada kabar kan ya??"
"Kejadian yang mana?" tanya Kesya.
"Kejadian pas di kantin. Sebelum sekolah ini di ambil alih sama keluarga Syahreza."
"Keluarga Syahreza sangat berkuasa di bidang bisnis. Apalagi Opanya katanya lebih dari orang yang kejam. Mirip sama cucunya Danial."
Hani merinding menceritakannya. Apalagi kan pacar cowok itu satu kelas dengannya.
"Keluarga Syahreza paling sulit untuk di ajak kerja sama, kalau bukan marga keluarga itu dari penguasa seperti mereka."
"Ya begitulah, konsekuensinya, kalau mengusik keluarga Syahreza maka secepat itu marga keluarga yang mengusik akan tahu akibatnya, seperti ratu contohnya."
"Masak mereka di bunuh."
"Ngak kayaknya," ujar Kesya, "Mungkin hanya diasingkan agar tidak mengusik mereka lagi.
"Kata papa gue, ketika lo buat Danial marah, terus Danial tidak melawan, pasti ada kejutan di balik itu. Lebih lebih baik di balas langsung dengan dipukul, dari pada merasakan hukuman seumur hidup."
"Terus apa kabar dengan Anja??" tanya Hani dan Desi.
__ADS_1
Kesya sebenarnya masih mencemaskan mantan sahabatnya itu, namun gengsinya terlalu tinggi, "Mungkin Anja ngak akan lepas dari Danial selamanya. Karena Anja sudah diklaim menjadi milik cowok itu."
"Sebenarnya romantis sih, tapi gue akan tetap takut berada di dekat Danial."
"Anja belum mengetahui siapa pacarnya yang sebenarnya. Mungkin kalau gadis itu mengetahui latar belakang Danial. Anja akan meninggalkan cowok itu."
"Lo seyakin itu??" sambung Desi.
"Anja ngak suka cowok kasar. Gue tahu semua tentang mantan sahabat gue."
****
"Tuan muda!! anak dari tuan Viktor memasuki sekolah SMA Garuda."
Danial tersenyum miring, "Dia mau menyerahkan nyawanya dengan suka rela."
"Viktor siapa??" tanya Steven penasaran. Perasaan dirinya pernah mendengar hal itu. Namun dalam dunia hitam.
"Viktor Arga Danuarta!" Danial menyebut nama lelaki tua yang tidak ada kapok nya mengangguk keluarganya.
Keluarga Danuarta memang memiliki kekuasaan seperti keluarga Syahreza, namun masih unggul keluarga Syahreza dalam beberapa tingkatan, orang terkaya dan berkuasa.
"Galang Arga Danuarta. Anaknya," sebut Alex dengan suara yang rendah namun terdengar serak dan tegas.
Danial menyeringai mendengar hal itu. Sudah punya anak, masih saja dendam dengan asmara yang gagal. Dasar keluarga keras kepala.
"Bagaimana dengan nona muda, tuan??" tanya Alex.
"Jaga dia!! kalau sampai dia lecet maka kamu tahu kan konsekuensinya??"
"Baik tuan," ujar Alex lalu pergi dari sana, dan mencari nona mudanya.
__ADS_1
"Lo yakin?" tanya Riko menatap sahabatnya itu. Memberikan akses sekolah kepada musuh bukannya akan membahayakan orang sekitar.
Danial berlalu meninggalkan Rapa, Riko dan Steven yang tidak percaya dengan keputusan Danial.