
Malam ini adalah malam yang paling-paling di tunggu-tunggu oleh semua orang kecuali gadis yang sekarang memakai gaun hitam duduk paling pojok, menatap tajam ke arah dua pasangan yang berada di atas panggung tengah tersenyum dan menyematkan cincin ke jari masing-masing.
"Makasih, Nial," lirih Anja tersenyum. Ia benar-benar terharu dengan Danial. Dari tatapan pria itu. Terlihat sangat amat mencintai nya.
"Iya, Sayang." Danial tersenyum dan mencium punggung tangan Anja.
suara riuh tepuk tangan kian menggema. menyaksikan dua insan yang saling mencintai dan menjadi pasangan fenomenal itu telah mengikat satu sama lain. tinggal selangkah lagi.
Dua keluarga dari Anja dan Danial ikut tersenyum melihat mereka. di umur masih muda telah bertunangan dan mengemban komitmen dia bersama.
"adik kakak, sudah besar ternyata...." Mita memeluk Anja sesudah turun dari atas panggung.
"anja malu, uhh." Anja membalas pelukan sang kakak dengan jauh lebih erat.
sedangkan Danial dan Andra saling menatap datar tanpa minat melihat kedua adik-kakak itu berpelukan di depannya.
tidak ada yang berniat saling menyapa satu sama lain.
"kakak masih kecewa sama kamu, anja."
anja menghela nafas pelan, "anja terpaksa kak. anja ngak mungkin biarin kak kintan hidup dalam kegelapan di rumah orang tuanya. anja ngak tega kak."
mita tahu adiknya sangat baik dan juga gampang untuk dimanfaatkan.
"tapi kintan ngak pernah celakain kamu, kan?" tanya Mita menginterogasi nya. anja menggelengkan kepalanya. membuat mita bernafas lega.
kalau kintan menyentuh anja sedikit saja. maka mita yang akan turun tangan dan bahkan menyuruh andra untuk memberikan pelajaran kepada nya.
"kak... anja ngak suka kakak seperti itu ke kak kintan. kasihan kak kintannya."
"iya-iya. kakak tidak akan seperti itu."
anja mengangguk. lalu mereka berpisah. Danial membawa anja ke meja lain, untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan.
"nial! anja ngak salah kan?" tanyanya.
dengan bola mata lucu seperti anak kucing itu membuat Danial sangat gemas.
"ngak sayang. anja kan selalu benar."
bukannya lega. anja merasa tersindir.
"nial," rengek anja.
"iya-iya, menurut aku yang dikatakan kakak kamu benar sayang. sebaiknya kamu mengembalikan kintan ke kedua orang tuanya."
"tapi ... kak kintan ngak suka hidup di sana, nial. kak kintan itu depresi."
Kintan selalu dibanding-bandingkan dengan anja yang cantik dan juga cerdas sejak lahir. sehingga itulah penyebab utama kintan dendam kepadanya dan ingin merebut segala apapun kepunyaan Anja.
__ADS_1
dari kejauhan. kintan masih menatap mereka berdua lama.
"gue ngak habis pikir. anja anaknya manja dan nyusahin seperti itu. Danial lebih pilih dia ketimbang gue. Anja itu lemah, kecapean sedikit sakit," cibir kintan.
"siapa yang lemah?"
kintan membeku ketika berbalik melihat seorang cowok menatapnya dengan pandangan datar.
"gue ...."
"kenapa juga Danial masih memberikan kesempatan lo hidup," kata Satria.
kintan tidak mengeluarkan suara. ia menatap satria dalam.
"Danial bukan orang sembarangan. asal lo tahu itu. dia sudah pernah membuat hidup orang hancur. sehancur-hancur nya. lo tahu ... Danial itu pshico."
tubuh kintan menegang mendengarnya. ia segera menggelengkan kepalanya. ngak! itu hanya ada di film. ya ... hanya di film saja.
satria tersenyum miring dan semakin gencar untuk mengeluarkan semua fakta itu, "Dan Anja ngak tahu itu. tapi ... kalau ada orang yang memberitahu Anja, maka orang itu akan hilang. lo mau coba? silahkan! Danial ngak akan memandang bulu lagi."
bukannya ini kesempatan untuk kintan? memberitahu semuanya kepada anja. agar menjauhi cowok itu.
kintan tersenyum miring dan satria dapat menangkapnya dari bola mata cowok itu. rencananya berhasil. kita lihat saja, detik-detik hilangnya gadis itu.
kintan meninggalkan satria dan melangkah ke arah anja dan Danial. Danial tengah menyuapi anja kue coklat kesukaan gadis nya.
"selamat ya... untuk kalian. gue bahagia lihatnya."
anja sempat mengatupkan bibirnya dengan bola mata yang bergerak menatap wajah kintan yang tersenyum kepadanya.
"mak... makasih kak kintan. Anja terharu mendengarnya."
kintan mengangguk dan memandang sekilas wajah Danial yang sekarang, seakan ingin memangsanya.
'secepatnya kalian akan berpisah. Danial... lo ngak akan pernah bisa bersatu dengan Anja. Anja ngak akan suka sama pembunuhan berdarah dingin seperti lo.'
hanya di dalam hati. kintan tidak mengucapkannya secara langsung.
"ya udah, gue permisi." kintan berbalik dan tersenyum miring. Danial masih menatap gerak-gerik gadis itu.
"nial ... anja ngantuk. kapan selesai acara nya?" biasanya anja tidur sebelum jam 10 malam. sekarang jam 10 malam lebih.
tidak ada sahutan dari Danial.
"nial!" anja merengek kembali.
"iya sayang. kita tidur sekarang."
Anja mengerjabkan matanya beberapa kali dan dengan pandangan sayu mengangguk.
__ADS_1
Danial merangkul Anja masuk ke dalam kamarnya. pesta di adakan di rumah anja. nanti Danial akan menyuruh satria menghandle nya.
"Aku tunggu di sini. kamu masuk ke dalam kamar mandi dan ganti bajunya. ingat! jangan mandi!"
Danial duduk di pinggir ranjang. sedangkan anja masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti dress yang ia pakai dengan piyama tidurnya.
Danial mengirimkan pesan kepada Satria dan di balas oleh cowok itu.
suara pintu kamar mandi telah di buka. anja sudah menggantinya dan membasuh make-up nya dengan air dingin sampai bersih.
dengan wajah menahan kantuk. Anja masuk ke dalam selimut tebalnya. malam ini adalah malam yang paling mengesankan dan anja bahagia.
"katanya ngantuk. sekarang tidur."
Anja mengangguk dan menutup matanya dengan rapat. tidak butuh waktu lama. gadis itu telah tertidur membuat Danial bernafas lega. hanya beberapa menit, gadisnya telah dijemput alam mimpi.
Danial mengambil nafas panjang. ia bangkit dari duduknya dan membungkuk menjangkau kening anja dan mengecupnya.
"tidur yang nyenyak sayang."
setelahnya Danial keluar dari sana. ia sekilas menatap gadisnya yang sekarang terlihat sangat cantik. Danial menutup pintu tersebut.
"gue tahu lo itu banyak menyembunyikan rahasia besar dari anja."
Danial tidak menanggapinya dan memilih pergi dari sana. Namun kintan menghadang nya. dan mendongak seakan menantangnya.
"gue akan bongkar semuanya."
Danial masih tidak bergeming. kintan tidak habis pikir dengan cowok seperti Danial. di hadapan anja bersikap sangat manis dan juga bucin sedangkan di depannya seakan ingin menggulitinya hidup-hidup.
Danial melangkah ke arahnya, "Gue ... ngak peduli ...."
kintan menggepalkan tangannya, "lo pembu.... argh...."
kintan meronta kesakitan ketika Danial langsung menjangkau leher jenjangnya dan mencekiknya di pojok tembok. wajah kintan sudah merah menahan air mata karena kesakitan dan kesulitan bernafas.
Danial tidak merasa iba sedikitpun. bahkan ia merindukan pertunjukan orang kesakitan di hadapanya.
"argh...." Kintan meronta. Danial mencengkram lehernya sangat kasar. dan cowok itu tidak peduli.
"Stop!!" Danial berbalik dan menemukan seseorang berdiri di hadapan nya. namun masih mencengkram leher Kintan. terlihat jelas kintan sudah hampir pingsan di buat nya."
"butuh bantuan?" tanya orang itu.
KIRA-KIRA SIAPA YA???πππ
__ADS_1