
Anggota Arezzo yang berjumlah 20 orang siap untuk menyerang markas Daraster, mereka dengan kepercayaan tinggi langsung memasuki gerbang utama.
Mereka semua yakin anak-anak Daraster jumlah mereka telah berkurang, karena kemarin mereka semua telah diserang secara tiba-tiba, mengakibatkan banyak anak-anak Daraster terluka parah.
"Gue yakin mereka semua akan kalah," ujar Gatra tersenyum miring.
"Dengan menghancurkan markas ini, otomatis geng Arezzo telah menang," ucap Andre menggepalkan tangannya, ingin sekali melihat seorang Danial hancur lebur.
Mereka semua mengangguk lalu menyerang markas Daraster dengan beringas, dan juga membawa beberapa senjata tajam dan juga pisau.
Sedangkan di dalam markas, anak-anak Daraster bahkan dengan jumlah mereka bertambah 50 orang mulai menghitung mundur melihat mereka semua gugur sebelum peperangan di mulai.
Lima
Empat
Tiga
Dua
Satu
Duaaarrrr
Bom yang mereka letakan di depan gedung dengan gembiranya meledak, terdengar suara nyaring menggema dengan sahutan teriakan dari para korban, membuat mereka semua tersenyum miring.
"Kita keluar!!" perintah Aiden, diangguki oleh semua anak-anak Daraster yang lainnya.
__ADS_1
"Mari kita lihat pertunjukan," ujar Marven segera mengejar Aiden bersama dengan anak-anak yang lain.
Terlihat di luar gerbang utama markas, anak-anak Arezzo terluka parah, hampir semuanya bahkan sekarang mereka semua mulai terkapar tidak berdaya di sana dengan luka-luka bakar di tubuh mereka.
"Sialan lo Aiden. Cara lo bahkan lebih banci dari pada bos lo itu," bentak Gatra hendak memberikan bogeman mentah kepada Aiden, namun anak-anak Daraster menghentikan nya dengan mendorong Gatra dengan kasar sehingga terjatuh ke tanah.
Aiden terkekeh, "Apa gue ngak salah dengar?? gue banci?? bahkan lo yang lebih banci saudara Gatra yang terhormat. Lo dengan percaya diri menyerang markas Daraster tiba-tiba dan menyebabkan anak-anak terluka parah."
Gatra menggepalkan tangannya, "Gue akan balas lo semua. Lo semua akan bayar semua ini."
"Pasword!!" perintah Aiden.
"Arezzo banci. Gatra banci!!" teriak mereka semua dengan wajah mengejek dan berdecih.
Semua anak-anak Arezzo berdiri dengan susah payah dan pergi dari sana dengan dendam yang semakin membara, "Awas lo semua!!" ancam mereka tanpa henti.
Aiden segera menelpon Satria untuk melaporkan keberhasilan rencana mereka, untuk mengusir dan memberikan pelajaran kepada anak-anak Arezzo.
Bang!! semua sudah beres. Banyak anak-anak Arezzo yang terluka parah. Bahkan kami mempermalukan mereka.
Pekerjaan bagus. Gue akan kasih tahu Danial pekerjaan kalian bisa diandalkan.
Dan soal Galang, manusia itu masih tidak menampakkan dirinya. Hanya Gatra yang memimpin.
Sudah gue duga, gue yakin Galang merencanakan hal licik lainnya.
Satu hal yang bang Satria belum tahu, wakil ketua Arezzo kembali lagi, bahkan Arezzo mengajak para senior nya untuk ikut menghancurkan Daraster.
__ADS_1
Dasar Banci cihh.
Satria menutup telepon, dan menatap Riko dan Steven dengan tatapan meminta penjelasan, "Wakil Arezzo angkatan kelima ikut bergabung kembali untuk menghancurkan Daraster. Karena adanya kekosongan pemimpin utama, membuat para senior turun tangan takut Arezzo bubar."
"Sialan, bahkan seumur hidup kita, Daraster tidak pernah mengandalkan para senior."
"Danial harus mengetahui tentang hal ini, pasti mereka semua semakin mengincar Anja untuk dijadikan sandra."
"Gue pernah dengar perkataan bokap Anja pas di rumah sakit, kalau sampai Anja terluka untuk kesekian kalinya karena musuh Danial, maka Anja akan dipisahkan oleh bokap nya."
"Atau Danial harus memilih antara gengnya atau Anja, gadisnya," jelas Riko.
****
"Apa yang dilakukan pembantu itu??" tanya Danial serius, mencoba menginterogasi kekasih kecilnya yang kini ada di depannya memeluknya dengan manja.
Mereka berdua berada di ruang mini bioskop untuk menikmati film horor yang katanya gadis itu ingin menonton nya.
"Nial. Anja akan jujur sama Nial, tapi jangan hukum maid muda itu. Sebenarnya waktu itu Anja mau jus Mangga, terus dia buatkan tapi dengan asal-asalan, setelah itu dia natap Anja dengan tatapan sinis dan ngak suka sama Anja. Bahkan maid muda itu menyuruh Anja cuci gelas sendiri, karena Anja merepotkan."
Anja semakin mengeratkan pelukannya, "Nial!! Anja takut hiks, Anja ngak pernah nakal, kenapa dia tatap Anja seperti itu?? Anja mau pulang, mau ketemu mama hiks."
Danial menggepalkan tangannya, hukuman apa yang cocok untuk maid muda itu. Danial masih mempertimbangkan nya untuk saat ini.
"Udah sayang. Jangan nangis lagi, nanti aku kasih hadiah," ujar Danial, membuat mata Anja berbinar mendengarkan nya, gadis itu paling suka dengan namanya hadiah, karena penasaran dengan isinya.
"Hiks. Makasih Nial. Anja sayang Nial selamanya."
__ADS_1