
"Sepertinya geng Arezzo nantangin kita, bahkan anak-anak babak belur kemarin, karena menjaga markas, mereka tahu kita jauh dari jalanan."
"Berani sekali mereka nantangin kita, sebenarnya apa yang mereka mau selama ini?? bahkan Galang hampir sekarat sekarang di rumah sakit."
"Justru karena ketua mereka sakit dan wakil ketua mereka mati, makanya mereka ingin membalaskan dendam, tujuannya adalah membunuh lo Danial," ujar Satria ditanggapi oleh ekspresi tidak terbaca oleh Danial, bahkan mereka merinding melihat ekspresi Danial mendengar mereka semua.
"Gue belum menginginkan Galang mati, karena satu hal," Danial menyeringai membuat para sahabatnya penasaran apa yang ada di otak cerdas Danial sekarang ini.
"Gue mau hidupnya menderita dan memilih untuk mati sendiri."
Riko, Steven dan Satria menatap Danial takut, bahkan korban Danial yang ia teror sampai sekarang telah membusuk di rumah sakit jiwa, karena memilih untuk membunuh dirinya sendiri, namun selalu diketahui oleh orang lain.
"Suruh anak-anak menyiapkan perangkap untuk anak buah Arezzo yang berani melangkahkan kakinya di markas, secepatnya mereka akan kehilangan kaki itu, bahkan kehidupan damai mereka."
Kalau sudah Danial mengeluarkan perintah, maka dipastikan mereka semua akan di basmi hari ini juga tanpa sisa, bahkan keluarga mereka tidak akan hidup tenang mulai saat ini.
"Gue tunggu laporan kalian dalam satu jam," tegas Danial, lalu keluar dari kamar itu untuk mencari gadisnya.
Mereka bertiga mengangguk dan segera menelpon anak-anak, untuk mengatur strategi dan eksekusi para musuh.
****
"Kakak kenapa lihatin Anja seperti itu??" tanya Anja mulai menanyakan sikap maid itu yang tampak beda dari maid-maid yang lain.
__ADS_1
Sebenarnya Anja tidak gila hormat, namun ia hanya risih ketika maid muda itu menatapnya tidak suka, ia jadi tidak nyaman.
"Tidak ada. Kalau nyonya muda sudah selesai, cuci sendiri ya, jangan manja. Saya masih banyak pekerjaan bukan hanya mengurus anda."
Sepertinya kakak itu tidak menyukai Anja, tapi Anja ngak pernah bersikap buruk kepadanya, batin Anja menatap maid muda itu dengan tatapan sendu.
"Baby girl!!" panggil Danial menuruni tangga dan mendekati gadisnya yang duduk sendirian di bawah.
"Iya Nial, Anja di sini."
"Kenapa hem??" tanya Danial melihat raut wajah gadisnya yang merasa sedih.
"Ngak ada," elak Anja langsung.
"Bibi tua!!" panggil Danial kembali, dan bibi tua tersebut langsung menghampiri tuan mudanya.
"Anda yang membawa maid tidak tahu sopan santun ini??" Hawa ruangan seketika mengelap karena aura kekuasaan Danial yang mendominasi.
"Iya tuan muda."
"Ajarkan dia menjaga matanya, atau secepatnya dia akan kehilangan mata itu."
Deg. Bagai di sambar petir, Dian menatap Danial ketakutan, ternyata selama ini Danial memperhatikan gerak-gerik nya yang aneh dan selalu menatap Danial dengan wajah kagum.
__ADS_1
"Nial ngomong apa?? ngak sopan," Ujar Anja menatap bibi tua itu yang tengah ketakutan dan menunduk.
"Ngak ada sayang. Hanya memberikan peringatan," jawab Danial mengusap surai Anja dengan lembut, membuat Dian menatap Anja sinis, dan itu tidak luput dari perhatian Danial.
"Ini untuk peringatan pertama, karena saya menghormati bibi tua. Pergi!!" perintah Danial langsung, membuat mereka memundurkan diri secepatnya.
Danial beralih menatap Anja, yang kini menatap mereka berdua kasihan.
"Tadi kemana hem??" tanya Danial, kepada gadisnya.
"Anja bantu bibi nyapu, terus minum jus mangga."
"Nyapu??"
"Iya, emangnya ada yang salah??"
"Bukan tugas kamu baby girl."
"Iya tapi Anja bosen duduk terus."
"Itu tugas queen sayang. Jangan kotori tangan kamu dengan hal-hal seperti itu. Atau aku akan hukum mereka semua. Itu tergantung kamu."
Anja menghela nafas pasrah. Dan semuanya itu bukan peringatan tapi sebuah perintah yang harus di tepati, kalau tidak ditepati maka Danial akan berbuat nekad dengan memecat para maid baik yang muda maupun yang tua.
__ADS_1