
“Nay lo tahu nggak sih?” tanya seorang gadis yang sedang minum es teh manisnya itu, sekarang jam istirahat artinya ia sedang ada di kantin sekolah “apa?” tanya seorang di hadapannya “itu kak Arfiza pindah rumah ya?” Naya tampak acuh mendengar pertanyaan itu “gue tahu itu mah” Raina berdecak kesal “ihs, masalahnya dia tetangga gue sekarang Nay” gadis tersebut tersedak karena ucapan Raina barusan “SE...SERIUS LO?!” ucapnya terbata matanya berkedip berkali-kali. “kok lo tahu sih?” Raina nyengir lalu berkata “serius. Masa gue bohong masalah ginian”
Gadis yang memakai auther rajut itu menghirup aroma hujan di halte dekat sekolahnya SMA Bintang Langit “pasti lo suka hujan” tanya seorang cowok berjaket bomber itu, Raina menolehkan kepalanya “lo lagi ka?” tanyanya “iya, kenapa?” gadis itu mengadahkan tangannya ke air yang turun dari atap halte “gapapa sih” gemericik hujan mememani keheningan mereka di halte sore itu. Bus datang dari arah barat lalu berhenti tepat di depan keduanya, Raina jalan terlebih dulu sambil melindungi kepalanya menggunakan tangan. Gadis itu duduk di dekat jendela, lalu mengambil earphone biru dari dalam tas kemudian memasang earphone itu ke kupingnya, tanpa permisi Arfiza mencopot earphone di telinga kiri gadis itu lalu memasangkan ke kupingnya “lo suka sama lagu lawas ya, Na?” tanyanya, Raina tampak tak antusias “iya” Arfiza menautkan alisnya “berarti selera musik kita sama dong, suka lagu tahun 2000an” katanya yang membuat gadis itu menatapnya heran.
“terus kenapa?” Arfiza tersenyum “gapapa cuma bilang saja, siapa tahu mau dengerin musik bareng” Raina tak membalas sepatah katapun.
Bus itu berhenti, Raina bangkit lalu melangkah turun dari bus. Arfiza masih mengikutinya dari belakang, hujan sudah berhenti menyisakan genangan air, keduanya berjalan menyusuri jalan yang basah akibat hujan. Raina berhenti membuat cowok di belakangnya menghentikan langkahnya juga “lo ngikutin gue ya kak?” tanya gadis itu sambil berkacak pinggang, Arfiza menghampiri Raina ia menatap gadis itu intens “rumah gue juga di daerah sini kali, emang nggak tahu kalau kita satu perumahan?” jelas cowok itu membuat Raina terkejud “sejak kapan?” Arfiza mengalihkan pandangannya ke atas langit “sejak satu bulan yang lalu” ucapnya lalu pergi meninggalkan gadis itu seorang diri, Raina masih termenung “kak Arfiza, lo nggak bohong kan?” seru Raina yang berlari kecil untuk menyamakan langkah cowok yang lebih timggi darinya “menurut lo?” keduanya sampai di rumah dengan pagar bercat putih, kemudian cowok berkacamata itu masuk kedalam rumah minimalist itu, Raina terkejud melihatnya “HAH, KITA TETANGGAN JUGA?!” Arfiza melambaikan tangan “hai, tetanggaku’ ucapnya lalu masuk ke dalam rumah.
Mendengar cerita dari Raina, Naya memekik girang.
“gila. Most wanted sekolah kita ternyata tetangganya sahabat gue”
“dia nyebelin Nay. Asal lo tahu saja”
“nyebelin gimana?”
“berisik”
“berisik gimana? Dia tuh diem saja, males ngomong juga Raina. Mana mungkin kak Arfiza kaya gitu”
“kemarin dia ke rumah gue nganter makanan, terus main play stasion sama Revan. Terus ngomong mulu, padahal gue lagi baca novel”
“eh serius dia kaya gitu Rai?” Gadis tersebut memutar bola matanya malas “ngapain gue bohong sama lo” Naya tersenyum jahil “seorang Arfiza Davian mau ngajak ngomong cewek, dan cewek itu lo. Satu keajaiban sih” ucap Naya sambil menopang dagunya “atau dia penasaran sama lo ya?” Raina bingung “maksudnya?” Naya menghela nafasnya.
“ya habisnya, lo doang yang nggak tahu dia Rai. Di sekolah ini siapa yang nggak tahu kak Arfi coba? Semua tahu, eh kecuali lo”
“sepopuler itukah?”
“yaiyalah namanya kapten basket, ganteng lagi. Pastilah populer, lo nya saja yang terlalu asik sama dunia lo sendiri’
“apa hebatnya dia sih? Sampe bikin cewek tergila-gila gitu, kak Arfiza itu nyebelin, ngeselin, berisik. Mana dia tetangga gue duh semesta diriku salah apa sampe punya tetangga kaya kak Arfi?!” ucap Raina penuh penekanan. Naya membulatkan mata melihat cowok yang berdiri di belakang gadis itu, ia menyenggol tangan Raina agar ia berhenti bicara “Rai...” ucapnya dengan raut wajah sulit diartikan “apasih emang bener kan kak Arfiza itu nyebe..” belum sempat ia melanjutkan ucapannya cowok tersebut berdehem, Raina menoleh kebelakang “eh kak” ucapnya dengan nada gugup “kalau mau ngomongin orang itu di depannya dong, jangan di belakang berani nggak?” seru cowok itu menatap mata hazel milik Raina, gadis itu membuang pandangannya kesamping lalu menatap cowok di depannya dengan sedikit berjinjit “iya kak Arfiza itu nyebelin” Arfiza terkejud mendengar kalimat itu, Naya yang melihat adegan di hadapannya menyeringis ia berkata dalam hati ‘Rai, nggak usah macem-macem bisa?’ Raina menaruh tangan di depan dada “APA?!” cowok tersebut hanya diam seribu bahasa, pasalnya belum pernah ia melihat perempuan seberani itu padanya. Sedetik kemudian gadis itu melangkah pergi dari kantin membuat Naya bangkit “tungguin gue Raina”
“baru kali ini ya, Arfiza diketusin sama cewek” seru salah satu teman cowok tersebut. Arfiza menyeringai “penasaran kan lo sama dia?” ujar cowok jangkung disamping Arfiza, yang diketahui bernama Fabian. Arfiza hanya mengangkat bahunya lalu pergi meninggalkan kantin.
Sekarang cowok itu sedang duduk menikmati semilir angin di rooftop sekolah, sendirian. Seharusnya dia mengikuti jam pelajaran ke-empat tapi ia malah melarikan diri karena kejadian di kantin tigapuluh menit yang lalu. Arfiza memejamkan mata terlintas wajah manis seorang gadis di sana ia bergumam dalam hati ‘Rania Salsabila’ Arfiza membuka kembali matanya “kenapa gue jadi mikirin lo sih?!” ucapnya kesal “tapi emang bener sih,lo beda sama cewek lain” serunya pada diri sendiri. Seorang duduk disampingnya “tuh kan lo penasaran sama dia” ujarnya, Arfiza tidak menanggapi “ngaku saja za” cowok tersebut menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya “gue harus apa?” tanya cowok itu, Arfiza terlihat bingung. Fabian menahan tawanya. “nggak usah ketawa” serunya sambil mengalihkan pandangan ke lapangan bawah, yang ternyata kelas Rina sedang jam pelajaran olahraga terlihat cewek itu sedang memasukan bola basket ke dalam ring. Fabian melihat arah pandang cowok di sebelahnya “makanya jadi orang jangan cuek banget kenapa Za. Buka tuh hati kenapa sih” cowok tersebut berdecak.
__ADS_1
“gue tanya apa lo jawab apa”
“lo mau tahu jawabannya?”
“iyalah”
“deketin dia lah bro”
‘caranya?” mendengar itu Fabian mengeluarkan ponsel di saku celana lalu mengirim pesan pada sahabatnya itu “udah gue kirim nomer dia, sisanya lo usaha sendiri Za” ujar Fabian sambil menepuk pundak cowok tersebut “woi, maksud lo apa?!” tanya Arfiza pada cowok yang sudah beranjak pergi “pikir sendiri, lo cowok masa nggak ngerti” kemudian ia membuka roomchatnya dengan Fabian terdapat kontak berprofil perempuan yang tengah tersenyum manis di sana. Arfiza men-klik tombol save pada kontak itu lalu memberi nama ‘Aina’
Seorang perempuan tengah duduk di balkon kamarnya ditemani secangkir hot cokelat, pandangannya mengarah ke langit. Hari ini tampak cerah terbukti banyak bintang di sana. Ponsel Raina berdering tanda ada yang menelpon.
“hallo” kata gadis itu tapi tak ada balasan. “hallo, siapa ya?” tanya Raina “ini siapa. Kalau nggak jawab gue matiin ya!” seru gadis itu kesal, tapi belum sempat Raina mengakhiri telepon “Arfiza” katanya. Jantung Raina berdetak lebih cepat saat mendengar nama itu.
“Na, Aina” sedetik kemudian gadis tersebut sadar dari lamunannya. “hah? Siapa?” tanya Raina sekedar memastikan.
“nggak ada pengulangan”
“kak Arfiza dapet nomer gue darimana?”
“ih nyebelin”
“lagi apa, Na?”
“nafas”
“kalau nggak nafas mati”
“kalau gue hilang nanti ada yang sedih”
“makanya jangan hilang”
“katanya lo dingin, irit ngomong tapi ini nggak tuh”
“gue ngomong cuma sama orang yang mau gue ajak bicara”
__ADS_1
“gaya banget sih”
“tiap orang itu beda-beda Na. Ada yang nyaman-nyaman saja ngobrol sama orang banyak ada yang nggak”
“tapi nggak usah jutek kali kak”
Arfiza hanya menyeringai lalu mengalihkan pembicaraan “save nomer gue ya, Aina”
“mau banget?”
“mau jawaban jujur atau bohong?”
“nggak penting juga sih”
“tapi bagiku penting”
Deg... jantung gadis itu seperti tertimpah jutaan batu dari langit. “ya, gue save deh” sahutnya “namanya Arfiza”
“udah tahu kak”
“yaudah, good night”
“oke”
“nggak mau ngucapin balik Na?”
“nggak males”
“gapapa. Tapi, suatu saat pasti lo bakalan bilang itu ke gue”
“gue ngantuk kak. Bye”
Sambungan diputus begitu saja oleh gadis itu, ia beranjak dari balkon kamarnya lalu merebahkan tubuhnya ke kasur. Raina bergumam dalam hati ‘dapet nomer gue darimana sih tuh orang’ tak lama ia memejamkan mata sambil menarik selimut bewarna biru itu menutupi tubuhnya.
----
__ADS_1