She Is Mine

She Is Mine
part 13 kantin


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, kevin memasukan alat tulisnya dengan tergesa, dan itu tak luput dari perhatian renal.


“buru-buru banget, kebelet lo?” celetuk renal, tapi tak di ubris kevin. laki-laki itu langsung pergi keluar meninggalkan yang lain.  “kevin kok buru-buru gitu, mau kemana?” tanya salsa pada renal yang ada di sebelahnya.


“ga tau.” jawab renal sambil mengedikan bahunya acuh. Setelah itu keluar bersama bagas, mengikuti kemana kevin pergi.


Salsa yang tadinya akan mengikuti mereka berdua harus ia urungkan, karena ada panggilan dari pihak bk.


Jika kalian bertanya tentang keberadaan david, hari ini dia tidak masuk sekolah karena alasan pribadi.


Kevin berdiri di depan kelas keysa, menunggu gadis itu keluar.


Dari kejauhan sana, ia bisa melihat renal dan bagas datang menghampiri, tapi lagi-lagi ia tidak peduli.


Renal dan bagas yang di selimuti rasa penasaran, mengajukan beberapa pertanyaan, tapi tak satupun yang di jawab.


Akhirnya mereka berdua menyerah, karena percuma saja, sampai mulut mereka berbusapun jika kevin tidak berniat untuk menjawab mereka tidak akan mendapat apa yang mereka mau.


Lima belas menit sudah berlalu, tapi guru yang ada di dalam masih belum ada tanda-tanda bahwa ia akan keluar. Kevin nekat masuk ke dalam memberi tahu guru tersebut bahwa bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.


Tentunya dengan bahasa yang sopan.


“maaf ya, bapak tadi keasikan ngajar, minggu depan kita sambung lagi.” Setelah itu beliau meninggalkan kelas.


Bukannya pergi ke kantin atau sekedar keluar mencari udara segar, semua anak kelas 11 ipa 2 malah terdiam memandangi kevin yang ada di depan mereka.


Pusat perhatian kevin tertuju pada bangku barisan terkahir, dimana gadisnya duduk bersama seorang laki-laki. Tangan kevin mengepal dengan kuat, ingatkan dia untuk memindahkan tempat duduk keysa.


Kevin menghampiri keysa yang masih sibuk memasukan alat tulisnya ke dalam ransel. Setelah selesai, kevin langsung menarik tangan gadis itu untuk pergi ke kantin bersamanya.


Bagas dan renal yang setia menunggu kevin di luar kelas di buat kaget ketika melihat kevin mengandeng tangan seorang perempuan.


“loh itu si kevin sama siapa?” tanya renal.


“mana gw tau.” balas bagas.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantin, kevin tidak mengatakan apa-apa, tapi genggaman tanganya kian mengrat saat keysa di pandang secara terang-terangan oleh laki-laki mata keranjang.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Sesampainya di kantin, kevin menarik satu kursi untuk keysa duduki, itu semua tak luput dari pandangan orang-orang. Lagi, keysa merasa tak nyaman.


Kevin menunjuk seorang laki-laki yang tak sengaja lewat di depannya, laki-laki dengan  rambut agak ikal, kacamata bulat dan tebal, jalannya yang sedikit bungkuk itu menghampiri.


“ada apa kak?” tanyanya yang tak berani menatap kevin secara langsung.


“pesenin siomay 2 , es teh satu , jus alpukat satu.” Kevin memberikan satu lembar uang seratus ribu.


“eh cilor buatan teh sumi satu.” Keysa langsung berbinar saat kevin menyebutkan nama makanan kesukanya.

__ADS_1


Tanpa banyak tanya, laki-laki rambut ikal itu langsung memesankan makanan yang tadi kevin sebutkan.


Tak lama setelah dia pergi, renal dan bagas datang, duduk berhadapan dengan kevin dan keysa.


“maen ninggalin aja lo.” Cetus bagas.


“ngomong-ngomong, siapa nih?” tanya renal, semoga kali ini ia mendapatkan jawaban.


“pacar gw.” Celetuk kevin, entah sengaja atau memang suara kevin yang keras, membuat orang-orang yang tak jauh dari tempat mereka duduk melirik keysa diam-diam, tapi keysa dapat menyadarinya.


“ohhh jangan-jangan… lo ini keysa?” tanya renal heboh, ia berdiri sambil menggebrak meja membuat meja yang mereka tempati semakin mendapat atensi orang-orang.


“biasa aja bisa ga.” peringat bagas dengan nada rendah.


“hehe maaf.” Renal kembali duduk di kursinya.


“iya, aku keysa, nama kaka siapa?” keysa mengulurkan tangan ke hadapan renal yang di sambut baik laki-laki itu.


“gw renal.”


“salam kenal kak renal.”


“kalo kaka yang ini, namanya siapa?” keysa mengulurkan tanganya kembali ke hadapan bagas.


“gw bagas.” Ucap bagas dengan seutas senyuman.


“salam kenal kak.” Balas keysa


“kenapa kak?” tanya salah satu dari mereka.


“ini gw beli, lo beli lagi.” Belum juga perempuan itu mengatakan persetujuannya, renal sudah mengambil alih nampan yang sedang ia pegang.


Bagas pun melakukan hal yang sama pada perempuan yang satunya lgi.


“nih, lo beli lagi.” Ucap bagas yang sudah seenak jidatnya mengambil makanan itu tanpa izin. Ia memberikan uang lima puluh ribu satu lembar.


“kembalian nya buat lo aja.” Lanjut bagas, gadis itu nampaknya tak keberatan jika makannanya di ambil, ia mendapat untung. Satu mie bakso harganya dua puluh ribu, es teh sepuluh ribu, sisanya masih ada dua puluh ribu, untung kan?


“makasih kak.”


Sama juga hal nya dengan yang renal lakukan.


Tak lama, pesanan keysa dan kevin datang.


Karena laki-laki yang tadi kevin suruh berjalan sambil menunduk, tak sengaja ia menubruk orang yang ada di depannya. Membuat jus aplukat yang tengah ia bawa oleng dan jatuh, ciptratan dari jus itu sedikit mengenai keysa.


“gitu aja lo ga becus.” Kevin menarik kedua kerah laki-laki yang ternyata bernama jaka, terlihat dari name tag yang di pasang di seragam sebelah kirinya.


“maaf kak ga sengaja.” Ucap jaka takut-takut.

__ADS_1


“kaka lepasin.”  Tegur keysa. hanya Satu kata itu yang keluar dari mulutnya kevin langsung nurut.


Kenapa kakanya itu terlihat sangat marah hanya untuk hal sepele seperti ini?


“makasih ya udah mau mesenin makanan sama minumannya.”  Ucap keysa pada jaka yang masih saja tertunduk.


“i-iya sama-sama, ka-kalo gitu a-aku permisi.” Jaka memanfaatkan situasi supaya bisa menghindar dari amukan kevin. dia pergi meningglakan kantin dengan tergesa, takut kevin mengejarnya.


Kevin kembali duduk di samping keysa.


Kevin mengambil tisu basah yang sudah di sediakan di setiap meja kantin.


“sini, mana aja yang kecipratan.” Kevin memberishkan rok dan juga almamater keysa yang terdapat noda.


“cuman itu aja.” Jawab keysa.


“heh minggir lo.” Suara itu, suara yang sangat mereka kenali, suara dari perempuan yang tak pernah lelah mengejar seorang kevin.


“aku kak?” tanya keysa polos sembari menunjuk dirinya sendiri.


“iya lo, siapa lagi. Berani banget lo nempatin kursi gw.” Ujar salsa sambil bersidekap dada, nadanya sungguh sangat tak bersahabat.


“maaf kak, aku ga tau kalo ini kursinya kaka.” Keysa mengambil makanan dan miumannya, berniat pindah tempat duduk, kebetulan tak jauh dari tempatnya sekarang, ada kursi kosong di sebelah laki-laki yang kalau keysa tak salah ingat namanya bima, ketua kelasnya.


Sungguh, keysa tak ingin mendapat masalah di hari pertamanya sekolah.


Sebelum keysa melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, dengan paksa kevin kembali mendudukan keysa di tempat semula.


“duduk aja disini, abisin makanannya.” Ucap kevin santai.


Keysa jadi bingung. Di satu sisi, perempuan yang ada di sebelahnya meminta keysa untuk pindah tempat dengan tatapan tak bersahabat, di satu sisi, kakanya meminta keysa untuk duduk saja di kursi ini. Lantas keysa harus bagaimana?


Keysa menatap ke arah renal dan bagas, meminta bantuan, tapi mereka malah memberikan kode supaya keysa tetap duduk manis disana.


“cari tempat duduk lain.” Ucap kevin pada salsa, ia masi berusaha berbicara baik-baik.


“tapi kan itu tempat duduk aku vin.” Ucap salsa tak terima.


“tempat duduk lo? Sejak kapan? Mulai hari ini, kursi ini cuman boleh di tempatin sama keysa.”


“ohhh jadi cewek kampungan itu namanya keysa.” salsa menatap  keysa dengan pandangan menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“JAGA MULUT LO.” Bentak kevin, suasana berubah jadi hening.


“kamu kenapa belain dia sih? Dia siapanya kamu hah?”


Salsa hampir saja menangis setelah mendapat bentakan dari kevin, bagaimana tidak? Ia di bentak di hadapan banyak orang, tapi sekuat mungkin ia tahan.


“dia pacar gw.”

__ADS_1


Tapi ternyata pertahanan salsa tak sekuat itu, air matanya luruh dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping.


__ADS_2