She Is Mine

She Is Mine
Episode 78. Kintan yang menyebalkan


__ADS_3

VISUAL TOKOH 😊



\= Danial Arsalan Putra Syahreza



\= Anja Adelia



\= Rapa



\= Lala Mahesa



\= Kesya Pratama



\= Steven



\= Satria



\= Kintan Purnama Adelia



\= Riko


**


**


**


Anja telah siap dengan seragam sekolah nya, begitupun dengan Kintan yang kini mengekor dari belakang, setelah mereka selesai sarapan, mereka berdua keluar untuk menunggu jemputan Danial. Sebenarnya ini adalah akalan Kintan agar satu mobil dengan Danial, dan Anja dengan senang hati mengizinkannya.


"Beneran gue boleh ikut?? Kan lo yang dijemput??" tanya Kintan memastikan, walaupun di dalam hatinya tersenyum bahagia.


"Boleh kak, masak kak Kintan jalan sendirian sedangkan Anja naik mobil. Kita kan saudaraan."


Siapa juga yang mau saudaraan sama anak manja seperti lo, batin Kintan pura-pura memasang wajah termanisnya.


Tin. Tin.


Suara klakson mobil mewah Danial berwarna putih telah sampai dihadapan mereka. Danial turun dengan wajah datarnya dan membukakan pintu untuk Anja, sedangkan Kintan masih berdiri di luar mobil.

__ADS_1


"Masuk kak Kintan!!" ujar Anja menyuruh Danial membuka kunci mobil otomatis nya.


Danial menatap tajam ke arah Kintan dengan raut wajah menilai, "dua menit lagi Satria akan jemput lo!!"


Setelah mengatakan kalimat menusuk itu, Danial masuk ke dalam mobilnya dengan wajah santai menyapa gadisnya. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam mobil mewah Danial, kecuali gadisnya. Dan untuk para sahabatnya mereka mengerti akan hal itu sehingga mereka mengetahui batasan, dan telah disiapkan mobil khusus untuk geng mereka berpergian.


Kintan menghentakkan kakinya sangat kesal karena Danial dengan teganya berkata seperti itu kepada dirinya. Gue Pastika esok lo akan bertekuk lutut sama gue Danial, batin Kintan tersenyum miring.


"Loh kak Kintan kenapa ngak masuk??" tanya Anja menengok ke belakang mobil yang sudah mulai melaju dengan pelan.


"Kintan sama Satria lagi pendekatan sayang, bentar lagi Satria datang."


Anja tersenyum mengangguk dan mengerti, "Oh gitu ya, kirain Nial sengaja tadi."


"Ngak sayang."


Sedangkan di luar mobil yang sudah melaju menjauh dari rumah Anja, kini mobil merah terlihat mengkilap berhenti di depan Kintan. Gadis itu langsung merubah ekspresinya menjadi tersenyum manis.


"Masuk!!" perintah Steven membukakan pintu untuk Kintan dan sekarang Kintan di apit oleh dua pangeran tampan sekaligus.


Di dalam mobil tersebut terdapat empat cowok tampan, yakni Rapa yang kini menyetir duduk paling depan bersama Satria dan di belakang Riko dan Steven.


"Menyusahkan!!" ujar Steven bersedekap dada menatap kintan dengan malas.


Kintan hanya tertunduk malu mendengar perkataan pedas dari Steven, selalu saja cowok itu menjelekkan nya. Padahal dirinya tidak pernah melakukan kesalahan kepada Steven. Tapi, ia juga tidak berani mengusik cowok itu karena Steven adalah salah satu anggota geng Danial yang suka mengotak atik komputer, bisa bahaya kalau Steven mengetahui privasinya dan menyebarkannya.


"Jangan menunduk nanti mahkotanya jatuh loh," ujar Satria membuat Kintan mendongak dan tersenyum menatap Satria yang kini berbalik menatapnya.


Kintan masih mengingat perkataan Tari, Satria adalah penguasa ring pencak silat di sekolah, lumayanlah untuk dimanfaatkan.


"Mana ada," tolak Kintan malu.


Steven dan Riko benar-benar muak melihat tingkah laku Satria yang merayu Kintan dan cewek itu menanggapinya dengan wajah sangat memuakkan.


Pandangan Steven melihat ke arah depan luar jendela mobil, sepertinya ia mengenali postur tubuh cewek mungil di depannya, benar saja itu Kesya berjalan menenteng tas sendirian menuju ke sekolah.


"Rapa!!" ujar Steven menyuruh Rapa memberhentikan mobil tersebut.


"Budak Cinta mah gitu," ucap Riko melihat Steven yang kini menghampiri Kesya.


"Ada bidadari sendirian jalan nih, kenapa ngak terbang ajha sih??"


Kesya menatap tajam ke arah Steven, hobi baru cowok itu sekarang membuat Kesya marah-marah kepadanya dan berakhir Kesya sangat terlihat menggemaskan.


"Jangan ganggu gue senior!! Soalnya gue mau berangkat sekolah!!" titah Kesya hendak pergi namun langsung dihalangi oleh Steven membuat Kesya melototkan matanya kesal.


"Bidadari butuh tumpangan ngak??" tanya Steven mengangkat sebelah alisnya menatap Kesya menggoda.


"Lain kali ajha!!" tolak Kesya langsung.


"Kenapa?? Gue ganteng loh. Cerdas lagi," ujar Steven membuat Kesya ingin sekali mencabik-cabik wajah Steven yang kepedean. Walaupun sebenarnya yang dikatakan Steven ada benarnya semuanya.


"Apa hubungan nya miskah?? Lah lo ganteng jemput cewek di pinggir jalan."


"Lah lo cantik tapi jalan kaki."

__ADS_1


Kesya menghentak kakinya dengan kesal dan memilih untuk meninggalkan Steven yang selalu mengejeknya, namun cowok itu dengan sigap menarik tangan Kesya dengan paksa menuju ke mobil.


"Tempat ini sepi Sya!! Lo nanti dalam bahaya!" ujar Steven membuat Kesya mendadak terdiam dan jangan tanyakan jantungnya yang sedang berisik karena baper.


"Minggir!!" perintah Steven menyuruh Kintan agar tidak menghalangi nya duduk bersama Kesya.


"Lo sih kenapa pungut tuh anak di pinggir jalan," sinis Kintan kesal.


"Bukannya lo ya!!" sungut Steven kembali.


Merasa tidak enak hati Kesya akhirnya menatap Steven dengan raut wajah bersalah, "Kak Steven!! Gue turun ajha ya...."


"Janganlah!! Nanti Steven ngamuk lagi dan obrak-abrik jaringan komputer di sekolah kan bahaya." Riko memastikan Kintan tidak mencari gara-gara dengan Steven.


Akhirnya Kintan mengalah dan bergeser menyempit di dekat Riko, sedangkan Kesya mulai duduk di dekat Kintan dan terakhir Steven.


"Sini tas lo!!" ujar Steven menyuruh Kesya melepaskan tasnya dan menaruh di pangkuannya.


"Biar gue ajha kak."


"Gue ajha!!" perintah Steven tidak ada bantahan.


Kesya membuang nafas kasar menuruti perintah Steven dan kini pandangan nya beralih ke arah Kintan yang berada di dekatnya dengan wajah tidak bersahabat.


"Sebentar lagi raja komputer ngak jomblo lagi," ejek Satria dengan nada menyebalkan menurut Steven.


"Kakak sepupunya Anja kan??" tanya Kesya memberanikan diri menyapa Kintan.


"Hem. Lo siapa ya??"


"Gue teman kelasnya Anja, dulu gue sering main ke rumah Anja terus gue lihat photo keluarga Adelia."


Di photo keluarga besar tersebut terdapat Kintan salah satunya dan Kesya mengingat nya dengan pasti dan ternyata dugaannya memang benar.


"Oh!!" balas Kintan dengan malas sedangkan Kesya tersenyum kikuk.


"Lo bawa apa sih?? Tas lo berat banget," tanya Steven bertanya agar Kesya tidak lagi berbicara dengan nenek lampir seperti Kintan.


"Ah?? Di sana ada leptop kak! Anak literasi kan wajib bawa leptop setiap hari."


"Tapi ini berat loh, paha gue ajha sakit nih."


"Biar gue ajha yang pangku kak?" ujar Kesya merebut tasnya namun langsung dihentikan oleh Steven.


"Besok jangan bawa leptop seberapa dosa lo ini! nanti punggung lo sakit!!"


"Lah kak Steven ngatur."


"Demi kebaikan lo. Besok kalau lo perlu leptop ambil leptop gue di lap komputer. Gue pajang di sana."


"Tapi kak...."


"Perintah Kesya Pratama!!" tegas Steven membuat nyali Kesya menciut sedangkan semua sahabat Steven memutar bola matanya malas.


Ternyata hampir semua anggota geng Danial adalah cowok-cowok tampan yang sering memaksa.

__ADS_1


__ADS_2