She Is Mine

She Is Mine
Episode 45. PERTEMPURAN


__ADS_3

AUTHOR DAH RAJIN UPDATE... TAPI NGAK ADA YANG VOTE YA... YA UDAH BESOK-BESOK AUTHOR BESOK JARANG DEH UPDATENYA. 🥱🥱🥱


*


*


*


*


Beberapa anak buah Danial yang berjumlah 200 orang mengelilingi markas tersebut. Danial tidak akan segan-segan untuk membunuh siapapun yang menyentuh gadisnya. Aura Danial menguasai tempat tersebut, markas Galang saat ini.


Bahkan Rapa, Riko, Steven, Satria dan Elgar menatap was-was kepada ketuanya itu. Danial sungguh menyeramkan sekarang. Kalau sudah Danial lepas kendali ia akan menyerang siapapun yang menghalanginya, walaupun itu dari sahabat maupun anggotanya.


"Wah bapak Danial yang terhormat telah datang," ujar Galang tersenyum miring, mengejek wajah Danial yang menatapnya sangat tajam, hendak menguliti tubuhnya.


Danial memegang kerah baju Galang dengan kasar, semua anggota geng masing-masing telah siaga, untuk mempersiapkan pertempuran, "Di mana gadis gue??"


"Ada tuh di dalam. Lagi tiduran."


"Lo apain gadis gue brengsek??"


"Gue kasih obat bius, bahkan gue paksa-paksa cewek lo minum itu. Cantik banget ya cewek lo. Pengen banget gue...."


Bugh


Bugh


Bugh.


Danial menyerang Elang membabi buta, bahkan Elang tidak bisa melawan sedetikpun untuk mempersiapkan penyerangan ke Danial.


Danial menendang tubuh Elang dengan sangat kasar, sehingga kini tubuh tersebut sudah di penuhi oleh darah. Elang terlentang dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Danial menyeringai dan menginjak perut Elang yang kini tidak berdaya.


"Argh...."


"Terlalu mudah!!"


Begitupun dengan anggota masing-masing, sama-sama saling menyerang, sudah terlihat sangat jelas, geng Danial tanpa luka sedikitpun berhasil melumpuhkan anggota Galang yang berjumlah lebih banyak dari mereka. Walaupun seperti itu, tidak ada yang bisa menandingi mereka.


Kini giliran Danial mengeluarkan pistol yang hendak menembak kepala Galang, namun sebuah suara menghalangi dirinya untuk menghabisi bajingan itu.


"Lo tembak Galang, maka gadis lo akan gue lempar dari sini," terlihat Gilang mengendong Anja yang masih pingsan dan hendak melempar gadis itu dari lantai dua markas mereka.


Galang menyeringai, dan mengeluarkan pisau dari balik celananya, sambil berusaha berdiri dengan tertatih, ia hendak membacok Danial yang kini membelakanginya, untuk melihat Anja yang hendak dilempar oleh salah satu sahabat musuhnya itu.

__ADS_1


Lo akan berakhir di sini Danial Syahreza, batin Galang siap untuk menancap pisau tersebut.


Selamat tinggal.


Lo akan mati.


Anja akan jadi milik gue.


Namun Rapa yang melihat hal itu segera menembak punggung Galang bahkan Rapa menembak punggung itu dua kali dan kaki Galang berkali-kali.


Dor.


Dor.


Dor.


Gilang yang melihat keadaan bosnya, tanpa penuh basa basi langsung melempar gadis yang sedang ia gendong dari lantai dua markas mereka.


Semua menahan nafas melihatnya. Tidak ada yang berani bersuara, sampai Satria menembak tepat di kepala Gilang yang lengah dan mati di tempat.


Dor.


Dan bagaimana keadaan Anja?? Danial dengan berlari sekuat tenaganya, meraih tubuh gadisnya. Danial dengan keadaan nafas yang memburu berhasil menangkap tubuh gadisnya. Namun itu membuat Anja tersentak dan mengeluarkan isakan kecil.


Ia takut gagal menyelamatkan gadisnya.


Bahkan ia sangat khawatir ketika tadi ia tidak berhasil menangkap tubuh gadisnya.


Bagaimana ia bisa hidup nanti kalau bukan bersama gadisnya.


"Sayang!" lirih Danial melihat keadaan gadisnya yang menangis karena ketakutan.


Gadis itu terisak tanpa membuka matanya, membuat Danial frustasi dan khawatir melihat keadaan Anja, sepertinya Anja trauma karena penculikan ini.


"SIAPKAN MOBIL!!" Perintah Danial menggelegar, membuat semua anggota dengan sigap berlari untuk menyiapkan mobil.


"BAKAR TEMPAT INI!!"


Danial dengan nafas memburu semakin katakutan karena Anja yang berada di gendongannya berhenti menangis, gadisnya tertidur kembali.


"Hei sayang!"


"Buka mata kamu sayang."


"Anja!! aku khawatir."

__ADS_1


"CEPETAN!!" Teriak Danial menyuruh supirnya untuk mempercepat laju mobilnya, padahal mobil tersebut sudah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


****


Bugh


Danial menyeka darah yang ada di sudut bibirnya, karena mendapatkan pukulan dari ayah Anja, yakni Bayu dengan menatap tajam cowok itu. Dari awal Bayu sudah tidak menyetujui hubungan Danial dan Anja. Karena Bayu tidak ingin gagal menjaga anaknya untuk kedua kalinya.


Bayu mengetahui Danial orang yang berbahaya, itu akan sangat membahayakan peri kecilnya. Bayu sudah lelah dengan semuanya yang menimpa keluarga nya, dari Mita yang menikah dengan Andra, berbagai macam ancaman untuk anak pertamanya itu dan sekarang peri kecilnya yang ia jaga mati-matian oleh semua anggota keluarga nya, harus bernasib sama dengan kakaknya.


"Saya sudah peringatan kepada kamu Danial. Jauhi anak saya. Kamu orang berbahaya. Walaupun kamu kaya dan kami orang menengah, saya masih tidak akan setuju kamu menjalin hubungan dengan anak saya."


"Sudah pa! Danial tidak salah di sini. Ini musibah," ujar Rani melerai suaminya itu.


"Maafkan saya!!" ujar Danial menunduk, "Tapi saya sangat mencintai Anja, tolong jangan pisahkan saya dengan Anja."


Danial tidak bisa melawan orang tua Anja, bagaimana pun caranya ia harus memiliki gadisnya, dengan berusaha membuktikan kepada orang tua Anja bahwa ia mampu menjaga Anja, bahkan dengan nyawanya sendiri.


"Jauhi Anja!! atau bubarkan geng kamu itu. Geng kamu itu membahayakan putri saya!!"


"Apa hak anda menyuruh cucu saya membubarkan gengnya?" ujar Opa Danial dengan lantangnya, bergabung dengan mereka semua.


Karena tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Opa Danial yang terlihat angkuh, Bayu memperingati Danial sebagai penutup, sebelum masuk ke ruang rawat putrinya.


"Terakhir dari saya, pilih Anja atau geng kamu itu!!"


Danial mengusap wajahnya kasar. Mereka berdua sama-sama berharga, karena geng Danial itu mempunyai umur yang panjang sampai sekarang, turun temurun keluarga Syahreza. Bagaimana ia akan membubarkan gengnya itu.


"Perlu bantuan Opa??"


"Jangan pernah ikut campur dengan urusan aku, Opa!!"


Opa tertawa pelan, melihat cucunnya yang setres memikirkan gadisnya itu, "Kamu bodoh atau bagaimana Danial?? jelas-jelas kita memiliki kekuasaan, harta dan uang. Kalau kamu menginginkan gadismu itu, maka miliki dia!! bawa dia sejauh mungkin dari negara ini, tanpa mengorbankan DARASTER."


"Itu ide yang buruk Opa. Aku ngak mau nantinya Anja membenciku dan berniat meninggalkan aku."


"Itu tidak akan pernah terjadi. Apapun yang sudah diklaim Syahreza, maka tidak ada satupun orang yang berhak memilikinya, selain kamu Danial."


"Kamu memang berbeda dari papamu dulu. Kamu memang lebih kuat dan beringas dari kami, tapi hati kamu bahkan lebih lembut dari yang kami duga."


"Opa akan pulang dulu. Kalau kamu ingin memiliki gadis kamu seutuhnya, kasih tahu Opa. Opa akan menyiapkan mension kita yang berada di Amerika."


Apakah itu ide yang bagus?? batin Danial masih bimbang dengan tawaran menggiurkan Opa nya. Di sana ia bisa menguasai Anja, tanpa larangan dari Bayu, dan untuk Bayu nanti, orang tuanya akan mengurus hal itu.


Tapi terselip di hati kecil Danial. Ia bahkan tidak akan tega memisahkan gadisnya dari orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2