
MAAF KALAU AUTHOR JARANG UPDATE!! SOALNYA ANAK SEKOLAHAN HAHA...π π₯±π₯±π₯±π₯±π₯±
****
Dengan nafas memburu Steven langsung masuk ke dalam UKS membuat semua cewek yang ada di dalam sempat terkejut dan memilih untuk keluar.
"Nial!" panggil Anja langsung menghampiri kekasihnya yang tengah menunggu di luar UKS bersama dengan dua temannya.
"Kamu ngak kenapa-kenapa kan??" tanya Danial memeriksa setiap inci tubuh mungil Anja membuat gadis itu terkekeh. Karena Danial memutar tubuhnya seperti sedang latihan balet.
"Bagaimana keadaan kak Kintan?? di mana kakak sepupu aku sekarang??"
"Rapa sudah mengobatinya. Dia bersama dengan Satria di ruangan Rapa."
Anja bernafas lega. Walaupun Kintan niat mencelakai nya namun Kintan tetap kakak kesayangannya. Dan Anja sangat tahu Kintan sengaja ingin melukainya dengan kuah bakso itu. Andai kak Mita mengetahui Kintan serumah dengannya. Pasti kak Mita akan menyeret paksa Kintan keluar dari rumah mereka.
Semua keluarga Adelia sangat tahu. Mita sangat membenci Kintan sampai kapanpun. Karena bagi Mita, perempuan ular itu bukan anggota keluarga Adelia. Keluarga Adelia dikenal baik dan ramah, bukan seperti Kintan yang memili sifat serakah dan juga sombong.
"Anja takut Nial. Berita ini sampai ke kak Mita. Nial harus janji ya jangan sampai bocor."
"Iya sayang. Tapi kalau Kintan berani sentuh kamu, jangan salahkan aku kasih tahu kakak kamu. Biar kakak kamu yang kasih pelajaran."
"Ini untuk yang terakhir Nial. Anja nanti akan ngomong sama kak Kintan."
"Jangan terlalu baik sayang. Manusia seperti Kintan cocok nya bersanding sama Riko."
"Lah kok gue sih??" protes Riko namanya di bawa-bawa oleh Danial. Padahal dari tadi dirinya menjadi anak baik melihat keromantisan mereka berdua di hadapan jomblo seperti dirinya."
"Bukannya abang Satria yang suka sama kak Kintan, Nial. Bukan abang Riko."
"Tuh kasih tahu cowok lo."
Riko seketika bungkam melihat tatapan menusuk dari Danial. Danial seseram itukah.
__ADS_1
"Sekarang ke ruangan aku. Kamu harus istirahat sayang. Kesya ada Steven yang jaga."
"Anja ngak ngantuk Nial. Anja mau masuk kelas ajha."
"Guru rapat hari ini. Anja istirahat ya sayang."
"Harus istirahat dedek Anja. Nanti singa nya ngamuk sama kita kalau dedek keras kepala."
Riko sangat tahu sifat dari Anja yang keras kepala dan pacarnya yang tampan itu kalau tidak di penuhi perintahnya, sifat dingin dan kejamnya akan menjadi-jadi. Riko sebagai bawahan Danial akan sangat repot nantinya.
Dengan wajah pasrah Anja mengangguk membuat Riko seakan mendapatkan nyawa baru.
"Mau di gendong hem??" tanya Danial mendekati Anja di di hadapan nya.
Anja langsung menggelengkan kepalanya. Walaupun dirinya manja, kalau dirinya digendong kan malu.
"Anja bisa jalan sendiri. Biar sehat jugak."
"Ya udah. Dan untuk lo Riko!! jaga Steven jangan biarkan dia mengamuk dan bertemu dengan Satria."
"Terus gue jadi satpam di sini gitu??" ujar Riko melihat ke sekelilingnya yang telah sepi. Hanya dirinya berdiri di luar menunggu Steven yang sedang pacaran di dalam.
Kalau dirinya menolak perintah Danial. Takut nanti dirinya di pukul dengan sangat keras.
***
"Kak Stev kenapa ke sini?? pasti khawatir kan sama gue??" tanya Kesya menggoda seniornya. Sekarang giliran dirinya yang akan membuat seniornya salah tingkah.
"Gue tadi ikut sama Danial ke sini. Lo jangan geer," bantah Steven langsung.
Kesya terdiam. Jadi Steven tidak khawatir dengannya. Sedangkan Steven meneliti wajah Kesya yang tengah cemberut. Apa gadis ini juga suka dengannya?? Steven pusing memikirkan hal itu.
"Kakak beneran ngak khawatir sama gue?? Ini sakit loh," ujar Kesya memegang lengannya yang sudah diperban. Steven melirik sekilas lalu memutar arah matanya.
__ADS_1
Kesya tersenyum kecut. Tidak ada raut wajah khawatir sedikitpun di wajah Steven. Dirinya saja yang terlalu berharap. Mana mungkin Steven yang cerdas dalam ilmu komputer ini mau dengannya yang hanya masuk tiga besar di kelasnya. Tidak sebanding.
"Anja sudah pergi. Sekarang kakak pergi!! gue mau istirahat!!" usir Kesya kembali berbaring membelakangi membelakangi Steven.
"Iya udah," jawab Steven datar. Cowok itu meninggalkan Kesya begitu saja.
"Terserah," ujar Kesya menghentakkan kakinya sangat kesal.
"Dasar cowok es batu, dingin, tidak peka. TERSERAH," teriak Kesya di perkataan terakhirnya.
"Lo ngomongin gue??" tanya Steven kembali. Sebenarnya Steven tidak meninggalkan Kesya, ia duduk di luar menunggu gadis itu. Mendengar Kesya yang berteriak membuatnya langsung masuk.
"Ngak ada. Eh lo bukannya udah pergi??"
"Gue di depan. Tapi bukan nungguin lo. Gue..."
Kesya yakin Steven khawatir dengannya. Kesya tersenyum misterius dan memegang kepalanya pura-pura.
"Kak Stev!! kepala gue sakit. Sakit banget."
Melihat Kesya kesakitan, Steven membuang rasa gengsinya dan segera memegang kepala gadis itu khawatir, "Sakit kenapa?? kita ke rumah sakit sekarang!!" ujar Steven ingin mengendong Kesya, namun gadis itu langsung pingsan di dekapannya.
"Sya!! Sya!!" panggil Steven menepuk pipi gadis itu pelan.
Sekarang Steven harus bagaimana?? Ia mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu untuk memberikan nya nafas buatan.
"HUAA... KAK STEVEN MESUM!!" Kesya berteriak nyaring membuat gendang telinga Steven sakit.
"Lo tadi pingsan. Gue mau...."
"Terserah."
Steven memegang kepalanya frustasi, apa semua cewek akan bilang 'terserah' sepanjang hidupnya?? terus arti dari kalimat itu apa? entahlah.
__ADS_1
Steven lebih baik di suruh meretas jaringan komputer selama hidupnya dari pada harus memahami bahasa cewek yang tidak ada ujungnya.