She Is Mine

She Is Mine
part 20 cupcake


__ADS_3

Keysa terbangun pukul enam sore. Dia meraba-raba tempat sebelahnya, dimana kevin tertidur tadi. Tapi ternyata laki-laki itu sudah bangun lebih dulu, tengah sibuk memainkan ponsel  keysa di sofa sebrang bangkar.


“udah bangun?” tanya kevin, ia menghampiri keysa tanpa mengalihkan pandanganya dari ponsel berwarna rose gold itu.


“kaka lagi main apa? Fokus banget” tanya keysa, sepertinya akhir-akhir ini kevin lebih suka memainkan ponsel keysa di bandingkan ponsel miliknya sendiri.


“lagi main zl.” Jawab kevin, jari-jarinya begitu lincah bermain-main di layar ponsel keysa.


“sama siapa?” tanya keysa kepo. Keysa membulatkan mata ketika dia  ingat, dia belum menghapus riwayat permainannya terkahir kali.


“anya.”


Jantung keysa berdegup kencang saat mendengar nama itu di sebutkan.


Sedangkan orang di sebrang sana yang tengah bermain bersama kevin malah mengulas senyum tipis.


“anya? Jadi dia nyimpen kontak gw pake nama cewek.”


Gumamnya.


Kevin tidak akan bisa mendengar suaranya karena dia mematikan mikrofon, berbeda dengan kevin yang membiarkan mikrofonnya tetap hidup sedari tadi.


Victory


Kevin mengembalikan  ponsel itu pada pemiliknya saat kemenangan sudah ia dapat.


“mama sama papa belum kesini?” padahal ini sudah hampir larut malam, tapi keysa masih belum melihat keberadaan kedua orang tuanya.


“dijalan macet katanya.” Jawab kevin, laki-laki itu mengambil sebelah tangan keysa untuk digenggam.


“kak….” Panggil keysa.


“kenapa cantik?” sahut kevin, ia merapikan beberapa anak poni keysa yang sedikit menghalangi mata gadis itu.


“kayanya jam segini paling makan martabak deh”


Keysa memberikan kode yang sudah pasti bisa di mengerti.


“mau martabak apa?”


“pengen martabak telur.” Gara-gara tadi mimpi makan martabak, keysa jadi ingin makan itu, kanaya pernah membelikannya martabak yang di jual di depan rumah sakit, rasanya benar-benar enak.


“tapi belinya yang di depan rumah sakit ya.” Lanjut keysa.


“bentar.” Kevin hendak memanggil seseorang untuk membelikan martabak yang keysa mau.


“tapi pengen kaka aja yang beli.” Lanjut keysa, kevin menatap gadis itu dengan alis terangkat satu. Tapi tak urung di turuti.


Sepergian kevin, keysa membuka aplikasi zl yang terinstal di ponselnya. Dahinya mengerut saat melihat username akun yang tadi main bersama kevin tidak ia kenali.


"Bukanya tadi main sama anya?" Gumam keysa




☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️

__ADS_1


Tempat jualan martabak yang keysa maksud benar-benar ramai di kunjungi pembeli, kevin harus sabar mengantri padahal dia paling anti.


Pandangan kevin jatuh pada sosok laki-laki sebaya nya yang sangat familiar, di tidak mungkin salah. jarak mereka hanya terhalang oleh dua orang.


“renal.” Panggil kevin dengan suara agak keras. Orang yang dipanggil celingukan mencari arah sumber suara.


“eh elo bro, udah lama ga ketemu, sekalinya ketemu di tukang martabak.” ujar renal Dia merangkul bahu kevin. tapi dengan cepat di lepaskan oleh sang empunya bahu, risih di perhatikan oleh beberapa orang sekitar.


“jauh banget beli martabak sampe sini.” Walaupun belum pernah berkunjung ke rumah kevin, tapi renal tau daerah yang kevin tinggali. Jaraknya memang cukup jauh dari sini.


“jagain keysa.” jawab kevin. “eh iya, kabar cewek lo gimana? Udah mendingan?” tanya renal.


“lumayan.” Jawab kevin singkat.


“besok gw mau mampir ah, enaknya gw bawa apa ya? Masa iya jenguk orang sakit ga bawa apa-apa.”


“ga usah repot-repot.”


“gausah bawa apa-apa maksudnya?”


“gausah jenguk.”


“yaelah.”  Renal berdecak kesal, padahal niatnya hanya ingin menjenguk. Ternyata temannya yang satu ini benar-benar protektif.


“mas, pesenannya udah jadi.” Kata si penjual martabak, renal memberikan uang seratus ribu lembar.


“gw duluan vin.” Renal menepuk pundak kevin dua kali sebelum berlalu dari sana.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


“tadi di bawah gw ketemu si kevin.” ujar renal saat memasuki ruangan bernomor 116, di letakannya martabak yang tadi dia beli ke atas meja.


“pacarnya di rawat disini juga.” Lanjut renal.


“udah tau.”


“pasti dari shintia?"


Orang yang renal ajak bicara menganggukkan kepala.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Keesokan harinya, kisaran pukul sepuluh pagi, dimana keysa dan kevin tengah bersantai, salah satu bodyguard yang selalu berjaga di depan masuk ke dalam ruangan menyampaikan informasi pada kevin bahwa ada dua orang laki-laki yang mengaku sebagai temannya ingin menjenguk keysa.


“siapa?” tanya kevin penuh selidik.


“renal dan david.” Kevin menghembuskan nafas kasar kala mendengar kedua nama manusia itu di sebutkan. “persilahkan mereka masuk.” Dengan begitu, renal dan david yang masih di tahan di depan ruangan sudah di perbolehkan masuk.


Renal masuk dengan wajah sumringah, berbanding terbalik dengan wajah david yang terlihat datar.


Renal meletakan keranjang buah-buahan yang dia bawa ke atas nakas. Begitupun juga dengan david, dia menyimpan bawaannya disamping keranjang buah milik renal.


“gimana keadaanya?” tanya renal, laki-laki itu mendudukkan dirinya di kursi samping bangkar meskipun belum di persilahkan.


“udah membaik kak.” Jawab keysa.


“gw ga bawa apa-apa, cuman bawa buah-buahan doang. Di jamin higienis.”

__ADS_1


“padahal ga usah repot-repot kak.”


“ah ga repot ko, jangan lupa di makan ya.” Renal memberikan senyum manisnya, tatapan kevin langsung berubah tajam.


Renal menyikut perut david karena sedari tadi laki-laki itu hanya memperhatikan interaksinya  dengan keysa.


“buat lo, semoga suka.” David mengarahkan dagunya ke kresek yang tadi dia bawa.


“makasih kak david.” Ucap keysa.


“eh iya, bagas titip salam. Semoga cepet sembuh katanya. Maaf ga bisa dateng karena ada acara lain.” Selain mengajak david, renal juga mengajak bagas sebagai bentuk solidaritas, tapi sayangnya bagas tidak bisa hadir.


“proposal nya di bawa kan?” renal menatap david, yang di tatap langsung membuka tasnya, mengeluarkan proposal yang di maksud.


“anak-anak pengen ikut lomba ke sma nusabangsa, pembina udah ngizinin, udah ngasih paraf juga, tinggal paraf lo doang yang belum. Proposalnya mau di serahin hari ini ke kepala sekolah.” Jelas renal yang langsung di mengerti kevin.


Kevin membuka lembar perlembar dari proposal yang tengah ia pegang, dalam list pemain inti, namanya sudah tercantum di bagian paling atas.


“kalo bisa, besok lo ikut latihan sama kita di sekolah.” Mereka sudah menyusun jadwal latihan untuk pertandingan nanti, meskipun kevin tidak ada, masih ada renal yang bisa menghandle semuanya.


“gw jadi pemain cadangan aja.” Celetuk kevin, renal dan david saling pandang satu sama lain.


“loh? Kenapa vin?” kevin merupakan kapten futsal yang selalu unggul di setiap permainan, sekarang dia ingin menjadi pemain cadangan?


“pengen aja.” Jawaban kevin membuat mereka berdua mengerutkan alis.


“semua pemain inti yang namanya udah tercantum di pilih langsung sama pembina, kalo lo mau jadi pemain cadangan, izin dulu sama beliau.” Tutur renal.


Kevin hanya mengangguk anggukan kepala sebagai respon, di tanda tanganinya proposal itu di atas namanya.


“udah kan?” kevin  menyerahkan kembali proposal itu ke tangan renal.


“udah.” renal menganggukkan kepala


“pulang.” Satu kata tapi sangat menohok, mereka berdua baru saja sampai, belum dua puluh menit mereka ada di ruangan itu tapi sekarang malah di suruh pulang?


“bentar lagi deh, kita masih betah, ya ga vid?” renal menatap david, yang di tatap hanya diam tanpa ekspresi, benar-benar seperti papan berjalan.


“pulang.” Kata itu lagi yang di ucapkan kevin. dia benar-benar tidak ingin di bantah.


“ck, yaudah iya kita pulang….” Renal memutar bola matanya dengan malas, kehadirannya disini benar-benar tidak di inginkan.  “Kita pulang sekarang ya key, cepet sembuh cantik.” Sebelum kena amuk kevin, renal sudah lari terlebih dulu.


☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️


Sepergian renal dan david, keysa menatap kakanya dengan tatapan tak suka. “ga sopan tau ngusir orang kaya gitu.” Ucap keysa. yang di ajak bicara hanya mengedikan bahunya tidak peduli. Keysa hanya bisa menghembuskan Nafas kasar. Pasrah dengan sikap kakanya yang semena-mena mengusir orang.


Penasaran dengan apa yang di bawa david, keysa membuka kresek yang ada di samping keranjang buah.



“lucu banget, sayang kalo di makan.” Ucap keysa, tapi dengan kurang ajarnya kevin mengambil satu cup cake dengan bentuk bunga, melahapnya dengan sekali suapan.


Refleks, keysa menggeplak lengan kevin.


"kenapa si?" Tanya kevin tanpa dosa. "Cake nya mau aku foto dulu. kaka maen comot aja." Kata keysa dengan wajah kesal. "Ya maaf." Kevin meminta maaf tanpa rasa bersalah.


Keysa masih cemberut. Gadis itu kembali memperhatikan cupcake yang ada di depanya.

__ADS_1


Tangan keysa mengambil secarik kertas yang terselip di sana.



__ADS_2