She Is Mine

She Is Mine
29. Rumah Sakit


__ADS_3

"Sayang!! aku kangen... Bangun ya?" lirih Danial menatap wajah pucat gadisnya dengan sendu. Tidak ada pergerakan dari gadisnya, hanya suara deru nafas Anja yang membuat siapapun takut kehilangan.


Danial menggepalkan tangannya, gadisnya sampai saat ini belum membaik.


"Nona Anja, keadaanya sudah mulai membaik. Namun ketika bangun nanti akan mengalami trauma."


Setelah kepergian dokter, Lala masuk menerobos menemui sahabat nya dengan dibanjiri air mata bersama dengan Rapa.


"Hiks Anja!! kenapa bisa seperti ini? siapa yang tega sama lo hikz."


Kemarin Lala sempat berpisah dengan Anja, karena Lala ingin pergi ke perpustakaan dengan Rapa, sedangkan Anja bersama dengan Danial. Ketika mendengar sahabatnya masuk rumah sakit, Lala langsung pergi ke rumah sakit dengan dibanjiri air mata, apalagi mendengar keadaan Anja yang tidak baik-baik saja ketika di bawa oleh Danial ke rumah sakit.


"Kenapa lo ngak jagain sahabat gue??" sentak Lala menatap tajam Danial yang kini menatap Anja dalam diam.


Melihat situasi yang memanas, Rapa langsung memeluk kekasihnya dan menenangkan nya, "Baby!!" peringat Rapa membawa Lala ke dekapannya.


"Aku ngak tega hikz lihat Anja seperti ini Rap. Pokoknya kamu harus balas siapapun yang melakukan ini ke sahabat aku."


"Iya baby, tunggu Anja membaik, baru kita main ya..."

__ADS_1


Lala mengangguk, Rapa yang mengerti isyarat dari Danial, langsung membawa gadisnya keluar dari sana, agar tidak menganggu waktu Danial dengan Anja.


Ceklek.


"Gimana keadaan Anja?" tanya Selsa, Steven, Riko dan juga Hamdi, yang sedari tadi menunggu di luar, karena tidak berani masuk ke dalam.


"Masih belum sadar," jawab Rapa singkat, karena kini Lala masih sesenggukan berapa di pelukannya.


Mereka semua menghela nafas kasar, "Siapa yang tega sampai lukain nona muda seperti ini?" tanya Hamdi khawatir, pasti orang itu akan dibuat menderita seumur hidup sampai menginginkan mati saja.


"Danial sudah tahu pelakunya, tinggal tunggu tanggal mainnya," mereka semua menyeringai tidak sabar dengan jatah masing-masing, kecuali Lala yang kini kelelahan menangis dan tertidur di dekapan Rapa, sehingga tidak menaruh curiga terhadap mereka semua.


"Gue duluan," Rapa langsung mengendong gadisnya dan memasukkan nya dengan lembut ke dalam mobilnya, satu dipikiran Rapa sekarang, pergi ke apartemen menikmati waktu dengan Lala, karena gadis itu paling tidak suka pergi ke apartemen nya kalau dalam keadaan masih sadar.


Rapa tersenyum lalu mencium pucuk kepala gadisnya dengan gemas, "I love you."


****


"Jangan Hikz!! jangan!! ini sakit hikz!!"

__ADS_1


Danial memeluk Anja dengan erat, gadisnya mengamuk setelah dinyatakan sadar beberapa jam yang lalu, namun Anja kembali teringat penyebab dirinya seperti ini, dan berteriak ketakutan.


"Hei sayang, ada aku di sini, ini Nial sayang. Nial janji akan jagain Anja sampai kapanpun," itulah bisikan halus Danial di telinga gadisnya.


Anja menatap sendu kekasihnya, ia takut akan kejadian seperti ini lagi, dirinya trauma, "Hikz Nial, kenapa mereka jahat ke Anja?? kenapa??"


Danial mengecup suarai gadisnya, bagaimana pun caranya, balasan atas perbuatan mereka akan lebih bahkan lebih dari ini.


"Sayang!! ada Nial di sini, jangan takut lagi ya!"


Anja mendekap tubuh atletis Danial, menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya, terasa sangat nyaman yang kini ia rasakan.


"Jangan ninggalin Anja, Nial!! mereka hikz."


Danial mengecup bibir mungil itu dengan singkat, agar gadisnya berhenti berkata-kata aneh, "Anja milik Nial. Nial milik Anja selamanya."


Anja tersenyum dan kembali memeluk erat sang kekasih, "Mama! papa! mana??" tanyanya sendu.


"Lagi beli makanan sayang."

__ADS_1


"Jangan kasih tahu ya!" larang Anja, ia tidak ingin membuat semua orang khawatir walaupun itu keluarga nya, pasti mama dan papanya sangat sedih mendengar nya.


"Semua orang sudah mengetahui nya sayang."


__ADS_2