
"Nial kemana ya dari tadi? perasaan ngak ada di kelas," ujar Anja mengusap wajahnya dengan air keran, dan berdiri di depan cermin kamar mandi dengan wajah tampak lebih berseri, karena selesai mencuci wajahnya.
Namun terdengar suara berisik memasuki kamar mandi, ya itu terdengar suara seorang cewek. Mereka mendekati Anja dengan wajah meremehkan.
"Gadis polos gaiz!" ujar cewek tersebut memegang rambut Anja dengan lembut. Namun Anja merasa tidak nyaman dan mulai menghindari nya.
"Kamu mau apa Vanessa??" tanya Anja was-was. Cewek itu Vanessa, masih ingat bukan??
"Jangan karena lo udah nolongin gue, terus gue kasihan gitu sama lo. Muka dua."
komplotan Vanessa yang baru, mulai mendekati Anja, namun sebelum itu terjadi seseorang menghalangi mereka berdua.
"Sentuh dia lo mati di tangan gue!!" ancam Selsa dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Wah pahlawan kesiangan datang nih. Berani banget lo nyari masalah sama gue?"
"Lo siapa??" tanya Selsa menyentil kening Vanessa dengan kuat, membuat cewek itu meringis.
"Lemah," ejeknya.
Vanessa tidak mau kalah, sehingga beralih menjambak rambut Anja dengan kasar. Anja meringis kesakitan, kenapa Vanessa sangat benci kepadanya.
Selsa merasa geram, dan kembali menjambak
__ADS_1
Vanessa dengan lebih kasar.
"Lepasin!! sakit! aduh kepala gue mau copot rasanya."
"Berani banget lo sentuh Anja, rasakan ini!!" Selsa membabi buta, sehingga tangan Vanesaa yang tadi menjambak Anja kini terlepas.
"Aduh!! Sel!! udah! kasihan Vanessa kesakitan."
Seakan bisu, Selsa tetap tidak ingin melepaskan nya, terlihat kini Vanessa yang terduduk lemas dan hampir pingsan, baru Selsa melepaskan tangannya. Dan untuk anak buah baru Vanessa mereka segera kabur dari sana tidak ingin disakiti oleh Selsa.
"Vanessa!! kamu ngak apa-apa kan?" tanya Anja berjongkok meraih tubuh Vanessa, namun cewek itu segera menepisnya, membuat Selsa geram, kenapa juga Anja selalu ingin menolong manusia ular itu.
"Ngak usah sok peduli lo. Lo itu sengaja mau jebak gue dan nyakitin gue ahh?"
"Danial!! Anja nyakitin gue hikz dia jahatin gue," Anja segera menggelengkan kepalanya, kenapa dirinya di fitnah seperti ini.
Danial menatap tajam Vanessa lalu menarik Anja dari sana, membawa gadisnya menjauh dari tempat itu.
"DANIAL!!!" Teriak Vanessa karena diabaikan.
Selsa menatap sinis Vanessa yang kini telah berantakan, "Cabe!!" satu kata namun membuat Vanessa ingin membunuh cewek yang ada di depannya ini.
****
__ADS_1
"Nial marah sama Anja??" tanya Anja pelan.
Danial menatap gadisnya lembut, "Jangan pernah berurusan dengannya!!" peringatnya.
"Anja ngak pernah gangguin dia, dia yang gangguin Anja."
"Jangan pernah membuat Vanessa terluka," ucap Danial membuat Anja merasakan sesak mendengarnya.
"Vanessa terluka!! sama saja itu ancaman bagimu sayang."
Anja masih bingung dengan penjelasan Danial. Ia tidak boleh menyakiti Vanessa, karena itu sama saja akan membahayakan dirinya. Danial mencoba melindungi Vanessa untuk dirinya.
"Sayang dengarkan??"
Anja mengangguk, "Iya Nial. Vanessa ada hubungan apa sama keluarga nial??"
Deg.
Danial segera menetralkan wajahnya, gadisnya belum waktunya mengetahui semua nya, ia akan segera membereskan kekacauan ini.
Sialan kau tua bangka, batin Danial menggepalkan tangannya. Ia harus segera mengancam tua bangka itu, agar tidak macam-macam dengannya.
"Vanessa dari keluarga terpandang sayang. Jadi keluarga nya bisa saja menyelakai dirimu karena berurusan dengannya."
__ADS_1
Maaf sayang, batinnya merasa bersalah karena membohongi gadisnya.