She Is Mine

She Is Mine
Episode 63. Hanya berdua


__ADS_3

Hawa dingin di balkon tidak menganggu aktivitas pasangan yang tengah duduk berdua sembari menikmati bintang-bintang di atas sana.


"Kamu ngak kedinginan??" tanya Danial memastikan sang kekasih yang berada di sampingnya tidak sakit nantinya.


Anja menggelengkan kepalanya, bagaimana iya akan kedinginan jaket yang di gunakan sangatlah tebal dan berbulu-bulu sangat halus, memakai kaos kaki dan juga sarung tangan. Dan ini semua adalah perintah dari Danial.


"Jangan pernah minta pisah ya??"


"Kenapa emangnya kalau Anja minta pisah sama Nial??"


"Aku ngak sanggup membayangkan perpisahan itu. Kalau aku bisa memilih takdir, aku ingin dari dulu bisa mengenalmu."


"Aku ingin mengenalmu dari lahir kalau bisa, agar kebersamaan kita jauh lebih lama sampai sekarang."


"Kata seseorang kita menemukan cinta sejati pas umur 16 tahun."


"Ngak ada yang tahu sayang. Itu semua hanya omong kosong seseorang yang kesepian."


Anja mengangguk, menyetujui perkataan Danial. Ia juga heran dengan mitos tersebut. Mana bisa seperti itu, dan apa kabar seseorang yang tidak pernah jatuh cinta dan jatuh cinta ketika sudah dewasa. Sungguh tidak masuk akal.


"Anja sayang sama Nial," ungkap gadis itu tersenyum, sembari menikmati hembusan angin malam yang sangat sunyi.


"Aku jauh lebih sayang sama kamu sayang."


"Kenapa Nial ngak punya saudara?? Nial anak tunggal kan?"


"Mama dulu sulit punya anak, bahkan hampir sepuluh tahun lamanya, baru bisa hamil. Namun papa tidak mempermasalahkan hal itu. Karena papa menerima mama apa adanya."


"Nial juga seperti itu kan besok?? mau menerima Anja apa adanya, Anja yang manja, bisa masak walaupun sedikit, dan apa lagi ya??" gadis itu memikirkan kekurangan nya sejenak, membuat Danial menatap gadisnya dalam.


"Aku juga punya kekurangan sayang. Sekarang aku mau jujur sama kamu."

__ADS_1


"Jujur soal apa?"


"Sebenarnya aku paling sulit mengontrol emosi, bahkan dulu papa sama mama terkena dampaknya, pas aku masih kecil."


"Nial ngelukain orang tua Nial sendiri?" tanya Anja memastikan.


Danial menggelengkan kepalanya, "Dulu pas aku umur 10 tahun, aku hampir membunuh anak seumuran aku, yang sering menganggu ketenangan aku."


Anja terkesiap mendengarkan pengakuan Danial, "Nial beneran??"


"Aku yang terkenal dingin dan juga tidak ingin bergaul, tidak berniat mau berteman dengan siapapun. Namun dengan kecerdasan dan juga wajah, semua orang menganggumiku.


Dari sana lah awal mula masalah muncul, segerombolan anak-anak laki-laki dengan berani menganggu Danial secara terang-terangan. Danial awalnya tidak menanggapi dan memilih untuk cuek karena tidak ingin berurusan dengan mereka semua.


Bukan dirinya takut, namun nantinya mereka yang akan menyesal seumur hidup.


Karena mereka dengan berani mendorong dirinya, mengakibatkan buku-buku yang ia baca berserakan dan bahkan mulut mereka menjelekkan keluarganya membuat Danial geram.


"Lo hanya anak sok pintar dan sok cerdas."


"Yang hanya lo bisa lakukan hanya membanggakan nama orang tua lo. Dasar anak tidak berguna, anak mami hahaha."


Mereka semua tertawa, anak-anak itu berjumlah lima orang menertawakan Danial tanpa dosa, bahkan mereka tidak sadar sang pencabut nyawa ada di depannya.


Danial menggepalkan tangannya, dan langsung saja menonjok hidung salah satu anak laki-laki yang mengejeknya. Membenturkan kepala anak itu berkali-kali di batu semen tempat tadinya ia duduk.


Keempat teman anak itu berteriak dengan histeris dan segera kabur namun Danial langsung melepaskan sang ketua dan melempar batu-batuan sampai keempat anak itu berdarah tepat di kepalanya.


"Apa yang kamu lakukan Danial Arsalan Putra Syahreza??" bentak sang guru melihat para muridnya telah terkapar tidak berdaya.


"Anda berani membentak saya?? saya pastikan jabatan kepala sekolah anda, saya lepaskan. Dan saya pastikan anda dan keluarga anda tidak akan tenang sampai memilih mati, setelah ini."

__ADS_1


Semua orang, bahkan kepala sekolah langsung terdiam mendengarkan ancaman dari Danial.


"Saya perintahkan jangan membawa mereka ke rumah sakit, biarkan saja mereka mati dan membusuk karena perbuatan mereka sendiri."


Para satpam yang mulai mendekati kelima anak itu langsung mundur karena tidak berani dengan tatapan Danial yang mematikan. Mereka tidak ingin menanggung akibatnya nantinya.


Selang beberapa menit, kelima anak-anak itu telah pingsan bahkan darah mereka tetap mengalir deras, Danial menyeringai melihat pemandangan itu, sampai mamanya datang dan mengacaukan semuanya.


"Apa yang kamu lakukan terhadap mereka Danial??" ujar sang mama dengan wajah yang khawatir dan menyuruh para satpam membawa mereka ke rumah sakit.


"Membersihkan para hawa ma. Tidak seru kalau mereka masih hidup. Nanti hidup mereka tidak akan tenang."


"Mama tanya sekali, kamu bahagia melukai orang sampai mau mati seperti sekarang ini??"


Semua mata menatap Danial, masih beberapa orang yang berani menyaksikan semua itu.


"Kurang bahagia karena mereka ngak jadi mati. Tapi akan Danial pastikan semua keturunan mereka akan menyesal," ujar Danial membawa buku-buku nya dan pergi dari sana, meninggalkan mamanya yang shock dengan sifat Danial yang kejam mulai terlihat.


"Seperti itu ceritanya."


"Tapi mereka ngak mati kan??"


"Tidak. Tapi mereka hidup tidak tenang selama ini. Selama hampir dewasa aku masih menyuruh meneror mereka."


"Nial kejam tahu."


"Ngak kejam sayang. Agar mereka jera dan tidak berani mengusikku."


"Tapi tetap saja kejam."


"Tapi aku ngak akan pernah berani kejam sama kesayangan aku," ujar Danial memeluk gadisnya dengan cukup erat, "Mungkin besok aku pertama kali nyakitin kamu, pas malam pertama."

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana??" tanya Anja dengan polos, ia tidak mengerti dengan ucapan Danial sedikitpun.


"Ngak usah dipikirin, belum cukup umur," peringat Danial lalu menggendong Anja masuk ke kamar, sepertinya gadisnya mulai mengantuk, terlihat dari matanya yang sayu.


__ADS_2