
"Lo di panggil sama Danial," ujar Lala menghampiri Anja yang kini asik dengan novel yang tengah ia baca. Gadis itu tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini apalagi dengan kekasihnya.
"Lala bisa bilang Anja sibuk ngak??"
Lala langsung menggelengkan kepalanya, mana berani dia berurusan dengan Danial. Walaupun ia adalah kekasih Rapa namun, Danial tidak akan memandang bulu menghancurkan siapapun. Apalagi keluarga Danial jauh lebih tinggi ketimbang Rapa.
"Please An!! gue takut tahu tadi lihat raut wajah Danial ingin memangsa orang."
Jawabannya, karena Danial sedang ada masalah dengan Anja, gadisnya yang akhir-akhir ini ingin menjauhinya. Namun Danial tidak akan pernah tega untuk memaksa gadisnya itu untuk berbicara, sampai Anja menjelaskan apa yang membuat nya menjauhinya.
"Sebaiknya lo temuin Danial!!" ujar seseorang melangkah maju, itu bukan Lala, namun Rapa yang kini di utus oleh Danial untuk menjemputnya. "Jangan sampai sekolah ini rata dengan tanah," jelasnya menatap Anja dengan tajam.
Kalau sampai Rapa sudah diutus oleh Danial, maka sekarang mereka dalam keadaan terancam. Danial tidak sembarang mengutus seseorang untuk melakukan apapun, selain itu bertanda sesuatu yang besar akan terjadi.
Anja menatap Lala dengan tatapan pasrah, lalu mengikuti langkah Rapa yang kini ada di depannya. Langkah Rapa, tanpa memelankan jalannya sedikitpun, "Jangan membuat nyawa orang dalam bahaya!!" peringat Rapa lalu berlalu, semakin mempercepat langkahnya.
Semakin ke sini Anja semakin tidak mengerti dengan kehidupan Danial. Kenapa semua orang takut kepadanya?? siapa Danial sebenarnya?? apa yang cowok itu sembunyikan kepadanya?? ia harus mencari tahu sendiri. Kalau memang Danial berbahaya untuk masa depannya, maka Anja akan terpaksa untuk menjauhi Danial selamanya.
"Cewek lo datang bos," ujar Steven menyambut Anja yang kini menunduk lalu duduk di dekat Danial.
Anja menahan nafas dari tadi, entah kenapa semua orang menatapnya dengan nafas lega. Ada apa sebenarnya.
"Mau makan apa?" tanya Danial membuka suara seraknya, seketika suara kantin tiba-tiba hening, namun kini mereka tidak berani menatap ke arah meja tempat Geng Danial duduk.
"Terserah Nial," putusnya pasrah.
__ADS_1
Danial menatap Rapa, Rapa memesankan nasi goreng dan susu kotak, kesukaan Anja. Kini Danial menatap Anja lagi, "Kenapa??" tanyanya singkat.
Gadisnya tidak pernah bersikap manja lagi, bahkan sekarang Anja menatapnya saja tidak berani. Danial mencoba untuk meredam emosi nya, siapapun yang membuat gadisnya seperti ini maka mereka akan musnah.
Lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Lo sadar ngak sih, lo itu hanya anak manja yang hanya menyusahkan Danial. Lo lemah, lo cupu, miskin lagi."
Bukan cewek yang mengatakan hal itu namun seorang cowok utusan seseorang untuk menjatuhkan gadis itu. Agar gadis itu menjauh dari Danial. Dan rencananya sukses untuk menghancurkan Danial secara perlahan.
"Kamu kenapa bilang seperti itu??"
"Ngak usah sok polos lo, lo tahu cowok lo itu bahaya. Lo jangan mau ditipu sama dia."
"Danial itu kejam. Bahkan sangat kejam kalau lo tahu itu. Dia bukan hanya ketua geng, namun pimpinan orang yang paling di takuti di dunia bawah."
Merasa perkataan cowok ini tidak masuk akal, Anja memilih untuk pergi, namun sebelum tubuh mungil itu menjauh ada rahasia yang cowok itu sebutkan, membuat tubuhnya bergetar seketika.
"Cowok lo itu sering bunuh orang."
Deg. Benarkah Danial pernah membunuh orang?? Anja tidak percaya akan hal itu, sekejamnya Danial tidak mungkin untuk membunuh manusia.
****
"Hahaha. Lo mau bunuh gue??" tanya cowok itu dengan percaya diri masih tertawa melihat raut wajah Danial yang datar.
__ADS_1
"Gimana rasanya dijauhi sama gadis lo??"
Buk.
Danial menonjok cowok itu tepat di hidungnya, hingga mengeluarkan darah segar yang amat banyak. Beberapa anak buah Danial mundur seketika tanpa diperintah.
Cowok itu masih tersenyum, tanpa gentar sedikitpun, ia mencoba untuk menghapus darah segar dari hidungnya, namun tangan dan kakinya di rantai dengan besi yang lumayan dapat membakar kulitnya.
Danial masih menatap cowok itu datar, "Eksekusi semua keluarganya."
Cowok itu terkejut bukan main, kenapa melibatkan keluarganya, di sini iya yang salah. iya yang pantas mendapatkan hukuman.
"Lo ngak boleh sentuh keluarga gue."
Steven membuka suara, "Ledakan menghabiskan semua penghuni rumah."
"LO IBLIS!! LO NGAK PUNYA HATI!!" Teriak cowok itu histeris mendengarkan semuanya.
Dor. Yapp, Rapa menembak tepat di jantung cowok itu, nyawa cowok itu melayang seketika.
Danial menyeringai, "Terlalu mudah," gumamnya lalu keluar dari ruang eksekusi yang kini berbau anyir oleh darah cowok itu.
__ADS_1