
"Nial! Nial!!" teriak Anja, membuat semua orang yang ada di dalam mobil tersebut menutup telinga mereka karena teriakan dari Anja.
Sekarang mereka telah memasuki jalan raya, dan mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan. Danial yang merasa di panggil langsung menatap wajah gadisnya yang terlihat kesal dan cemberut.
"Kenapa teriak-teriak hem??" tanya Danial, mengusap surai gadisnya dengan sangat lembut.
"Nial lagi mikirin apa?? mikirin cewek lain ya?? makanya lupa sama Anja," tuntut gadis itu, memfitnah Danial.
"Ngak sayang. Mau apa hem??" tanya Danial kembali. Danial sangat tahu, tingkah gadisnya kalau menginginkan sesuatu.
"Anja mau jajan di supermarket. Stok cemilan Anja di rumah kosong. Entar Anja capek kalau beli lagi keluar rumah."
Danial mengangguk, "Rap!! mampir ke supermarket," perintah Danial kepada Rapa yang kini tengah menyetir.
"Makasih Nial."
"Jangan keluar rumah sendirian!! bahaya sayang. Telpon aku kalau mau sesuatu, nanti aku belikan caranya. Anja mengerti kan!!"
"Iya Nial," jawab gadis itu menganggukkan kepalanya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu tegak kekasihnya.
__ADS_1
****
"Nial!! Anja mau beli biskuit, es krim, yupi, permen strawberry, kripik sama permen karet."
Di sinilah sekarang mereka berduaan di dalam supermarket. Sedangkan yang lainnya berpencar untuk mencari makanan juga di sini.
Anja langsung berbinar melihat banyak biskuit kesukaannya berjejer rapi di depannya, ia langsung memilih sedangkan Danial dengan sigap mengambil semua belanjaan Anja dan memasukkan di troli.
"Kamu ngak lelah sayang?? ngak mau naik ini??" tanya Danial, menunjuk troli yang ia dorong sekarang. Biar dia yang mengambil semua pilihan Anja nantinya.
"Ngak. Anja mau pilih sendiri. Emang Anja anak kecil di dorong pakai ini."
"Susunya sayang!!" peringat Andra, menaruh beberapa susu kotak di dalam troli, Anja membalasnya dengan cengiran.
Sekarang Anja mencari tempat ditaruhnya permen karet. Matanya berbinar ketika melihat kotak permen karet berbagai macam rasa di sana. Ia langsung menghampiri nya, namun tangannya langsung dihalangi oleh Riko dan Satria.
Anja menatap kedua orang itu bingung, "Anja mau ini, kenapa kalian halangin Anja sih??" kesal gadis itu menatap mereka berdua.
"Nial!! Anja mau ini titik!!" ujar gadis itu keras kepala.
__ADS_1
"Sayang ini bukan permen karet tapi...." Danial juga bingung harus menjelaskannya bagaimana ke Anja. Ia tidak ingin otak gadisnya tercemar nantinya.
"Pokoknya Anja mau titik!!" Anja hendak mengambil nya namun Satria dan Riko berteriak nyaring.
"JANGAN!!"
"Kenapa abang pada teriak?? tuh dilihatin sama semua orang."
Mereka semua yang sedang belanja melihat ke arah Riko dan Satria dan mencemooh keberadaan Anja yang sendirian seorang gadis di sana, apalagi di depan di taruhnya sesuatu.
"Dek Anja yang imut dan cantik, jangan sentuh barang ini, soalnya ini racun tikus, sengaja di desain seperti ini biar tikusnya pada tertarik. Kalau di desain seperti biasanya, tikus mah sudah hafal."
Anja berpikir sejenak, lalu melihat ke arah permen karet yang ia maksud tadi, sedangkan ketiga laki-laki itu saling menatap tegang, berharap Anja mempercayai ucapan Riko tadi.
Salah kan pihak supermarket yang sembarang menaruhnya di sana. Nanti anak buah Danial akan menegur mereka langsung.
Anja mengangguk, membuat mereka bernafas lega, "Ya udah, belanjaan Anja sudah banyak, sekarang Anja mau pulang."
"Ya udah, ayok sayang," ujar Danial langsung menarik gadisnya dengan lembut dan pergi ke arah kasir.
__ADS_1
Untung saja Riko, terlalu pintar untuk mengarang kata-kata. Riko memang ada manfaatnya sekarang.