
Setelah kemarin di rawat di rumah sakit tiga hari dan diperbolehkan pulang kemarin. Anja merengek rindu dengan sekolah dan mengancam akan mogok makan dan mogok bicara kalau tidak sekolah hari ini.
"Silahkan tuan putri," ujar Danial membukakan pintu untuk Anja, dengan senyuman merekah di wajah cantik gadis itu.
"Nial!!" panggil Anja, menoleh ke arah kanan, dan Danial sesekali melihat ke arah Anja, karena sedang menyetir.
"Anja seneng Nial sama papa izinin Anja sekolah lagi. Anja rindu sama Lala dan Selsa. Ohh ya, Selsa kenapa jarang kelihatan Nial, perasaan beberapa hari yang lalu Selsa jarang masuk sekolah."
Karena tugasnya menjagamu, telah gantikan, batin Danial.
"Kenapa Nial diem?" tanya Anja bingung dengan raut wajah Danial yang datar.
"Udah jangan terlalu banyak berpikir sayang!! entar kepalanya sakit," ujar Danial mengusap surai gadisnya yang sangat lembut dan wangi.
"Obat sama bekalnya ada?" tanya Danial kembali memastikan, dengan di jawab anggukan oleh Anja, membuat Danial tersenyum tipis.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di sekolah. Mobil mewah Danial membuat pada siswa memberhentikan kegiatan nya sejenak, untuk melihat most wanted sekolah SMA Garuda.
Danial dengan jas Osis di badan atletisnya, dengan wajah yang datar, mampu mengeluarkan aura kekuasaan. Danial membukakan pintu untuk Anja. Sedangkan di sana banyak sekali para siswi yang memekik histeris dan menatap Anja sinis.
__ADS_1
"Mereka pacaran??"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Masih cantikan gue kemana-mana."
"Apa yang dilihat Danial sama cewek manja itu."
"Anaknya lemah dan manja. Pura-pura polos lagi."
"Woy!! berani banget lo katain sahabat gue," ujar Lala dengan berkacak pinggang menatap mereka satu persatu, "Gue tandain ya wajah-wajah gelandang lo semua."
"Jaga ya ucapan lo!! sebelum hidup lo menderita, gue peringatkan, jangan pernah usik sahabat gue!! atau lo akan sangat menyesal."
Mereka belum tahu ajha, siapa Danial yang sebenarnya, apalagi mendengarkan gadisnya dijelek-jelekkan, Lala saja merinding membayangkan hukuman untuk mereka semua.
"LO SAMA SAHABAT LO ITU SAMA-SAMA MURAHAN!!" Bentak siswi tersebut dengan lantang, langsung dihadiahi tatapan mematikan oleh Danial dan Rapa yang ada di sana juga.
Plak. Bukan Danial, Rapa maupun Lala yang menampar cewek itu, tapi Anja dengan dorongan kasar membuat cewek itu terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Apa hak kamu sebut sahabat Anja murahan, bukannya kamu yang murahan ahh??" bentak Anja menatap tajam cewek itu.
"Tuhkan, bener dugaan gue, lo itu bukan gadis polos. Tapi gadis munafik."
Anja dan Lala hendak menjambak siswi tersebut, namun Danial langsung menginjak kaki siswi tersebut dengan sepatu mahalnya.
"Apa hak anda, mengatakan gadis saya??"
Siswi tersebut tengah kesakitan dan merintih, karena Danial semakin menekan kakinya, yang sudah mati rasa. Mungkin kakinya sudah patah, karena darah tidak berhenti keluar dari sela-sela sepatu Danial.
Danial menyuruh Anja pergi dulu ke kelasnya bersama Lala, karena tidak ingin gadisnya mengatakan ia kejam dan tidak berperikemanusiaan. Sehingga nantinya Anja takut kepadanya.
Semua siswa menahan nafas melihat hal tersebut, dengan tatapan datar, dan aura yang mematikan Danial langsung menjambak rambut siswi tersebut dan membenturkannya di lantai, sehingga banyak darah yang keluar dari kening cewek itu, lalu pandangan cewek itu kabur dan memburam, terakhir dirinya merasakan melayang, karena anak buah Danial menyeretnya dengan kasar, entah kemana.
"GUE PERINGATKAN KEPADA KALIAN SEMUA!! KALAU LO SEMUA BERANI SENTUH DUA TUAN PUTRI, LO SEMUA AKAN TAHU AKIBATNYA. ITU HANYA PERMULAAN!!" Tegas Riko dengan tatapan serius meneliti satu-persatu ekspresi para siswa yang menunduk dan ketakutan.
"Lo hebat banget An. Keren, sahabat polos gue udah berani sama orang lain. Jangan baik-baik amat sama orang yang seperti itu."
"Tapi Anja kasihan. Dia kan cewek."
__ADS_1
"Ngak usah kasihan!! mereka berhak mendapatkan semua itu."