She Is Mine

She Is Mine
SHE IS MINE #4


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Raina menunggu bus di halte “sudah lama nggak ketemu kamu Na” ujar seorang yang suaranya tak asing di telinga gadis tersebut “Arfiza kangen Raina, Raina kangen juga nggak ya?” serunya sambil melirik gadis di sebelahnya “nggak tahu” jawab Raina singkat “Na, aku masih nunggu kamu lho” ucap cowok itu pada gadis yang sudah satu bulan ini tak dilihatnya.


“kalau belum?” tanya Raina tanpa mengalihkan pandangannya “aku tetep tunggu kok” cewek itu mengernyit “nggak capek?” Arfiza menghela nafas “aku mana pernah capek soal itu Na” Raina bingung “kenapa?” ujarnya.


“yang ada aku yang tanya, capek nggak kamu aku kejar”


“kok gituh?”


Arfiza menghela nafasnya lagi “habisnya kamu aku kejar lari terus, nggak capek?” lalu keduanya masuk ke dalam bus. Raina duduk dekat jendela “Raina, denger baik-baik ya” gadis tersebut menoleh “apa?” Arfiza tersenyum manis “kamu mau jadi pacarku, Na?” tanyanya membuat gadis tersebut membulatkan mata.


“kenapa sih kakak bisa suka sama aku?”


“kalau kamu tanya kenapa aku suka sama kamu, aku nggak bisa jawab Na. Yang aku tahu hatiku memilihmu, kamu harus tahu kadang ada hal yang nggak perlu di jawab tapi perlu dipahami. Karena nggak semua tanya ada jawabnya Raina. Kaya perasaanku ke kamu contohnya” jelas Arfiza, ia tersennyum manis. Mendengar penuturan cowok itu hati Raina luluh gengsinya runtuh begitu saja “yaudah” ujarnya singkat. Arfiza bingung.


“yaudah apa Na? Kamu nerima aku?”


“ya gituh” jawab Raina lalu membuang pandangannya ke jendela cowok berkacamata itu memekik dalam hatinya. Kemudian mereka turun dari bus Arfiza mengandeng tangan Raina lalu melangkah ringan ke sekolah.


Berita tentang mereka berpacaran sudah diketahui oleh semua murid SMA Bintang Langit. Sudah dua bulan mereka menjalin hubungan, semakin membaik saja hubungan itu. “kamu udah selesai UN kan?” tanya Raina mereka sedang ada di coffe dekat sekolah.


“iya, minggu depan prom night ya?”


“kak Arfi mau lanjut kemana?” Arfiza tersenyum “aku mau ke jogja Na” ujarnya membuat mata gadis tersebut berkaca-kaca. Arfiza menggemgam tangan Raina “aku nggak suka lihat kamu nangis” gadis itu menyeka air matanya “iya nggak”


Hari begitu cepat berlalu tak terasa malam ini mereka akan datang ke acara prom night yang artinya hari terakhir Raina bersama cowok itu karena Arfiza harus pergi esok hari untuk mempersiapkan kuliahnya di jogja. Raina turun dari lantai dua dengan dress selutut bewarna navy pemberian cowok itu, ia melihat Arfiza sedang duduk di ruang tamu memakai jas bewarna sama cowok itu sedang berbincang dengan sang mama. “cantik Na” puji lelaki itu ia tampak tampan dengan balutan jasnya “iyalah anak bunda” seru wanita berhijab coklat itu sambil mengelus pipi anaknya. Lalu arfiza bangkit menghampiri bunda Raina “kalau gitu kita pamit dulu ya tante” ujarnya sambil mengulurkan tangan “oke, hati-hati ya. Jangan malem-malem pulangnya”serunya sambil mengusap kepala Arfiza “siap tante” kemudian keduanya melangkah keluar rumah, Arfiza membukakan pintu mobil untuk gadis cantik itu lalu ia berlari kecil dan duduk di kursi pengemudi.


Tigapuluh menit kemudian mobil hitam itu sampai di parkiran sekolah Arfiza menggandeng tangan Raina. Mereka melangkah ringan sambil tersenyum manis, membuat beberapa pasang mata menatap keduanya dengan berbagai expresi. “Arfizaaa” seru seorang yang memakai jas bewarna silver, cowok tersebut menyalami Fabian “hai Raina, lo cantik banget malam ini” ujar Fabian seraya tersenyum “setiap hari juga Aina cantik” ucap cowok berkacamata itu. Limabelas menit setelah mereka berbincang ringan sang MC bersuara “oke gays gue ada kejutan nih buat kalian” seru gadis yang memakai long dress maroon membuat semua orang mengarahkan pandangannya ke panggung utama “nggak usah pake lama ya. Sekarang gue langsung panggilin saja nih, best couple sekolah kita kak Arfiza Davian dan kak Raina Salsabila” seru gadis itu yang diketahui masih kelas 10 “tapi kak” tanpa aba-aba cowok tersebut menarik tangan Raina “mau nyanyi lagu apa nih kak?” tanya sang MC yang berdiri di sebalahnya “teman cintaku” ujar Arfiza yang dibalas anggukan oleh Sang MC “oke gue siapin dulu ya musiknya” ujarnya lalu turun dari atas panggung. Hening... terdengar bisik-bisk di bawah sana dan pada akhirnya musik mengalun memecah keheningan. Arfiza mulai bernyanyi.


Bahagianya diriku


Telah milikimu


Tak pernah ku meragu


Tak lagi ku mencari


Cinta selainmu


Takkan kutinggalkan kamu


Jika ku dapat menata jalanku


Ku ingin kau selamanya denganku


Engkau wanita tercantikku


Ku ingin kau tahu

__ADS_1


Maukah kau jadi teman cintaku


Raina mulai bernyanyi dengan Arfiza yang menggenggam tangan kanan gadis itu. Membuat berapa orang di sana menatap keduanya iri.


Tak akan ku mencari cinta selainmu


Takkan ku tinggalkan kamu


Jika ku dapat menata jalanku


Ku ingin kau selamanya denganku


Engkau lelaki terbaikku


Ku ingin kau tahu


Ku ingin kau jadi teman cintaku


Lalu mereka bernyanyi bersama, membuat yang mendengar suara keduanya kagum dan mengabadikan momen itu.


Jangan pergi dari hidupku


Tetap disini temaniku


Sungguh ku tak mau kamu jauh dariku


Kau hanya untuku


Engkau wanita tercantikku


Ku ingin kau tahu


Kau merubah warna hidupku


Engkau lelaki terbaikku


Ku ingin kau tahu


Kau merubah warna hidupku


Dan aku jatuh cinta kepadamu


Tanpa batas waktu


Maukah kamu jadi teman cintaku....


Suara riuh tepuk tangan memenuhi ruangan malam itu. Kedua remaja yang ada di atas panggung tersenyum sumringah lalu turun dari atas panggung. “keren lo berdua” ucap Fabian antusias “gila sih, Rainaaa. Lo keren” seru Naya tak mau kalah.

__ADS_1


Sekarang mereka sudah berada di parkiran sekolah, angin menghembus kencang dan terasa menusuk ke tubuh gadis itu, Arfiza merangkul Raina mengajaknya agar cepat masuk ke dalam mobil. Tak ada yang bicara lagi, sampai mobil sedan itu tiba tepat di depan gerbang rumah berpagar hitam, keduanya keluar dari sana lalu duduk di bangku depan rumah Raina.


“Na, besok aku jalan pagi banget”


“kamu jadi jalan besok?” serunya sambil mengerutkan dahi.


Arfiza tersenyum hambar “iya Na”


“nggak bisa di tunda kak?” tanyanya “nggak bisa na” sahut Arfiza ia menghela nafas lalu bangkit “nih untukmu” ujarnya seraya memberikan satu amplop biru pada Raina “apa nih?” katanya.


“baca saja nanti, Na” seru Arfiza sambil mengusap puncak kepala Raina lembut.


“jaga diri baik-baik ya Na” ucap cowok itu lirih.


“jangan lupa makan sama ibadahnya” lanjutnya.


“aku sayang kamu Raina, kamu baik-baik di sini. Aku tunggu di jogja ya” gadis tersebut menangis lalu menhambur kepelukan cowok di hadapannya “kak Arfiza juga jaga diri baik, jangan lupa makan sama ibadahnya. Semangat kuliahnya, jangan males, jangan jutek kecuali sama cewek, jutek aja kak. Tunggu aku di jogja ya, kita kan sama mau kuliah di sana juga, tapi kak Arfi curang, masa duluan kesana ga bareng aku” ujar gadis itu yang masih dalam pelukan cowok tersebut “iyaa, Raina iyaa” serunya sambil mengusap kepala gadis itu. Lalu keduanya melepas pelukan “aku pulang ya Na, jangan lupa dibaca suratnya” ucap Arfiza yang hanya dibalas anggukan oleh Raina “iya pasti. Good night kak” kemudian cowok tersebut melambaikan tangan “ malam juga. Aku tunggu kamu di jogja, nanti liburan aku pulang kok”


Raina masuk ke dalam rumahnya, lalu langsung melangkah ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang membuka surat pemberian Arfiza. Air matanya mengalir deras membaca isi surat itu ada gelang bewarna hitam juga di sana ‘gelangnya samaan, aku beli waktu kita ke toko buku tanpa sepengetahuan kamu. Jangan lupa dipake ya’


Tentang kamu


Untuk kamu yang membuatku bahagia


Untuk kamu yang membuatku tertawa


Untuk kamu yang selalu ceria


Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu


Terima kasih sudah mengizinkanku hadir di hidupmu


Semoga bahagia selalu


Jangan menangis karena itu membuatku pilu


Di tambah jarak yang membuatku rindu


Aku menyukaimmu tanpa alasan


Yang aku tahu kau membuatku terkesan


Jaga diri baik-baik di sana


Aku menunggumu Raina


Bumi, 9 November 2015

__ADS_1


Dari Arfiza Davian untuk Raina Salsabila


__ADS_2