
Wah ternyata semakin banyak yang baca ya... Terima kasih untuk para pembaca setia
SHE IS MINE π
Di sinilah sekarang pasangan muda yang tengah mabuk kasmaran bersandar di sopa ruang tengah mension Danial. Anja berada di samping Danial dengan memeluk perut sang kekasih, siapa lagi kalau bukan Danial.
"Nial!! mension ini punya siapa?? pasti Nial sewa ya??" tanya Anja dengan matanya yang polos, memandang mata kelam Danial yang kini melembut melihatnya.
Danial mengusap surai kekasihnya dengan gemas, "Ini punya aku sayang. Dan sekarang punya kita berdua," jelas Danial.
"Ngak mau, Anja ngak mau tinggal di tengah hutan, terus Anja mainnya di mana?? kata mama, ngak asik kalau ngak punya tetangga."
"Kan tetangganya ada sayang."
"Mana??" tanya Anja penasaran, bukannya ini mension satu-satunya di hutan ini. Dengan penjagaan ketat di setiap sudut yang ada di mension Danial.
"Ada, tapi tetangganya bukan manusia tapi hewan," jelas Danial, menakuti kekasihnya. Benar saja Anja merapatkan dirinya dan kini memeluknya semakin erat.
"Ihh Nial. Anja takut tetanggaan sama hewan. Kalau mereka pada ngomongin daging Anja bagaimana?? Anja kan ngeri."
Danial tertawa melihat tingkah gadisnya. Bagaimana Danial tidak gila dan frustasi ketika Anja membahas perpisahan. Gadisnya sungguh sangat menggemaskan dan juga lucu. Dan satu lagi gampang dipengaruhi dan ditakuti seperti sekarang ini.
__ADS_1
Anja mencubit perut Danial dengan jurus emak-emak, karena berani menertawakan nya, "Rasain," ujar Anja menatap kesal Danial yang masih tertawa walaupun sudah Anja cubit. Jujur bagi Danial, cubitan Anja bahkan lebih sakitan digigit semut.
"Kesel sama Nial. Anja minta putus ajha," gadis mungil itu melepaskan pelukannya dari perut Danial. Danial langsung berhenti tertawa dan memeluk Anja dari belakang.
"Anak kecil ngak boleh ngomong putus," ujar Danial, menghirup aroma strawberry kesukaannya dari tubuh gadisnya.
"Kalau Anja anak kecil, jadi Anja ngak boleh pacaran dong," balas Anja membela diri.
Sial, batin Danial tersenyum terpaksa. Ia salah ngomong.
"Wah dedek manis udah sehat ya??" tanya Riko keluar dari kamar bersama Steven dan juga Satria. Dan untuk Rapa, mungkin cowok itu tengah memikirkan cara untuk berdamai dengan Lala.
"Wah, bang Rik, bang Stev dan bang Sat ada di sini. Kok Anja ngak pernah lihat kalian??" tanya Anja penasaran. Mungkin karena mereka tidak pernah keluar kamar.
Satria memutar bola matanya dengan malas, "Bukannya lo ya yang seperti itu. Gue kalau udah shalat Subuh tidur lagi. Makanya gue sulit dibangunin."
"Tapi kan tidur setelah shalat Subuh itu ngak baik bang Sat," ucap Anja menceramahi, Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya dedek manis. Bang Sat ngak akan gitu lagi. Tapi bang Riko dan bang Stev lebih parah lagi."
Anja menatap Riko dan Steven yang menunduk siap dimarahi oleh Queen mereka, "Bang Rik, bang bang Stev mau dipanggang di neraka?? Anja sih ngak mau ya. Karena neraka itu serem tahu. Pokoknya awas ajha abang-abang ulangi lagi. Anja ngak mau nyapa kalian berdua."
Mereka berdua segera mengangguk, dan tatapan Danial yang tajam, membuat mereka tidak bisa berkutik lagi. Ngak ketuanya, ngak Queen nya, sama-sama menyeramkan kalau marah.
__ADS_1
"Ohh ya... Anja mau tanya sama kalian??"
"Mau tanya apa dedek manis??" tanya Riko langsung.
"Rapa kenapa sering hukum Lala sampai Lala berdarah-darah seperti kemarin?? Anja kan kasihan sama Lala."
"Sebenarnya bang Rik sudah larang Rapa buat hukum cewek seperti itu, tapi jiwa bar-bar Rapa yang keras kepala ngak mau. Jiwa bar-barnya yang ngak bisa ngak lihat darah sehari."
Jadi Rapa setiap hari harus lihat darah dong?? batin Anja mulai ketakutan.
Danial yang mengerti dengan pemikiran gadisnya langsung mengambil alih, "Kan Rapa dokter sayang, dia juga yang memiliki rumah sakit, Rapa setiap hari lihat darah orang yang kecelakaan atau operasi."
Anja mencoba mempercayai perkataan Danial. Ia pun bernafas dengan lega, "Rapa belum kuliah udah jadi dokter."
"Aku juga belum kuliah udah jadi miliarder," ucap Danial membanggakan dirinya di depan gadisnya.
Danial sudah dari dulu mengambil alih perusahaan keluarga nya dan juga mengurus beberapa pembangunan-pembangunan besar di daerahnya. Ya, jadi bisa dibayangkan uang yang dihasilkan bahkan lebih banyak daripada menjadi seorang dokter seperti Rapa.
"Tapi dokter kan nolongin orang."
"Aku juga nolongin pembangunan dan membuka lowongan pekerjaan yang banyak untuk masyarakat."
Riko, Steven dan Satria menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketua mereka, tidak ingin kalah di depan gadisnya yang memuji Rapa.
__ADS_1