She Is Mine

She Is Mine
Episode 40. Berita kehancuran Vanessa


__ADS_3

KARENA BANYAK YANG KOMEN, JADI AUTHOR LANJUT😎😎🥳🥳



Gue ngak nyangka Vanessa cewek seperti itu.


Bener banget. Ternyata jalang.


Mencoreng nama baik sekolah.


Pantesan Danial ngak suka sama dia.


Cocokan sama Anja kemana-mana.


Murahan.


Mainan Om-om.


Begitulah cemoohan dan kata-kata untuk Vanessa yang kini telah tersebar, di papan mading sekolah SMA Garuda. Yap mereka semua tidak menyangka mantan ketua Cheers SMA Garuda yang terkenal queen Bullying dan kaya raya, ternyata wanita murahan, yang senang bolak-balik Club malam.


"Ada apa La??" tanya Anja baru saja datang dan melihat kerumunan ramai di depan mading.


Anja tidak mendekati mading, karena di sana sangat ramai, ia takut Danial memarahinya nanti dan membahayakan orang lain di sekitarnya.


"Oh itu, biasa tentang Vanessa," balas Lala malas dan mencemooh wanita ular itu, "Rasain tuh, sekarang malu kan??" kekeh Lala tersenyum miring.


"Vanessa kenapa??" tanya Anja masih bingung, apalagi semua siswa membicarakan gadis itu.


"Nanti Lala jelasin ke Anja."


Ketua Osis kita ganteng banget.


Gila tampan banget.


Calon suami masa depan.


Rapa!! calon suami gue.


Di sana terlihat anggota OSIS sedang mengamati semua siswa. Dari ketua, Danial dan wakil ketua, Rapa dan anggota lainnya seperti Riko dan Steven.


Dari keempat cowok tersebut, terlihat wajah Danial yang paling kalem dan datar, namun percayalah di balik wajah kalem tersebut, terdapat sifat iblis yang mengerikan.

__ADS_1


"Baby!!" panggil Danial lirih, mendekati gadis kesayangannya.


"Iya Nial," jawab Anja gugup. Bagaimana tidak gugup semua murid memperhatikan dirinya, yang di hampiri oleh Danial dan teman-teman nya.


"Kenapa berangkat sendiri?" tanyanya pelan. Takut gadisnya ketakutan karena sikapnya yang dingin kepada semua orang.


Anja tersenyum manis, menatap wajah datar kekasihnya, "Di anterin papa, Nial."


"Jangan diulangi sayang," jawab Danial lalu merengkuh gadis kecilnya, untuk mengantarkan nya ke kelas gadis itu.


"Nial!!" panggil Anja pelan.


"Hem."


"Vanessa kenapa?? semua orang membicarakan Vanessa dari tadi. Anja udah nanya ke Lala, tapi Lala jelasin nanti katanya. Tapi Anja penasaran Nial. Jelasin ya?"


Kini hanya mereka berdua yang berada di sana. Semua siswa tidak berani membuat keributan di dekat Danial. Mereka tidak ingin berurusan dengan sang ketua OSIS, yang akan berakibat fatal dengan kehidupan mereka nantinya.


"Vanessa ketahuan main-main ke Club," jawab Danial lembut.


"Club itu restoran kan Nial?? kenapa Vanessa dibicarakan seperti itu."


"Club itu tempat orang-orang tidak benar sayang. Jadi Anja ngak boleh tahu ya? nanti kasih tahu Lala, jangan bicarakan Vanessa lagi."


Ini yang membuat Danial semakin mencintai gadis kecilnya ini. Gadisnya sangat manis dan penurut. Ingatkan Danial akan membersihkan photo-photo yang di tempelkan oleh anggota nya di mading sekolah. Agar gadisnya tidak melihat gambar seperti itu.


Danial tidak ingin otak suci gadisnya tercemar karena hal itu. Gadisnya akan tetap menjadi gadis polos kesayangannya.


KRINGGG


"Nial dah bel, Anja masuk dulu ya?" pamit gadis itu tersenyum manis, membuat Danial enggan untuk meninggalkan gadis kecilnya.


"Hem."


"Ihh Nial. Anja masuk nih," protes Anja, karena Danial enggan untuk pergi dari hadapannya, sedangkan banyak murid yang kini memperhatikan mereka yang tengah berada di depan pintu.


Cup.


Danial mengecup kening gadisnya, menyalurkan segala kerinduan terhadap kemanjaan gadisnya, yang beberapa hari bermasalah.


Anja tersipu malu, "Bye Nial, hati-hati ya?"

__ADS_1


"Nanti aku jemput."


Setelah itu Danial pergi dari kelas Anja, membuat Anja bernafas lega. Tolonglah jantungnya berdetak dengan kencang. Danial nya semakin hari semakin tampan dan berkharisma saja.


Apalagi di tambah jas OSIS yang melekat di tubuhnya itu.


****


"Maaf!!" ujar Rapa kini menatap gadis yang ada di sampingnya, gadis itu adalah Lala. Lala menatap lurus ke depan, tanpa berniat menoleh ke arah Rapa.


"Hem," jawab Lala singkat. Apa lagi yang harus ia bicarakan bukan. Semuanya sudah tampak jelas.


"Aku ngak bermaksud lupain janji kita," sesal cowok itu, berharap Lala mengerti dengan keadaannya saat ini.


"Ya terserah kamulah." jawab Lala singkat.


"Jangan gini La."


Jangan gini bagaimana? untung jiwa bar-bar Lala sedang tidak kambuh, kalau kambuh dari tadi Lala sudah berkata-kata indah untuk memarahi Rapa. Namun ia masih waras memarahi wakil ketua OSIS ini. Karena suatu hal.


Lala tidak ingin di kurung di rumah Rapa dan di suntik dengan benda sialan itu, yang selalu membuatnya pingsan.


"Kemarin aku persiapan untuk olimpiade Fisika. Bersama dengan Erika."


Gadis caper itu lagi dan lagi. Kenapa harus bersama dengan Erika sih?? batin Lala kesal dan bahkan sangat kesal.


Erika, cewek sok pintar itu salah satu fans berat Rapa. Dan dengan memanfaatkan olimpiade, pasti gadis itu mencari perhatian kepada Rapa.


"Ohh," jawab Lala sedikit kesal. Sebenarnya banyak, tapi ya karena tidak ingin di kira cemburuan. Ia kan gengsi.


"Maaf ya?"


Kuping Lala panas mendengar cowok ini dari tadi berkata maaf, "Iya aku maafin tapi jangan ganggu aku dulu seminggu."


"Kenapa?" tanya Rapa menatap tajam Lala yang kini ketakutan setengah mati.


"Kan kamu mau konsentrasi untuk olimpiade fisika. Jadi, aku ngak enak ganggu. Dan jangan terlalu dekat sama Erika, aku ngak suka ya."


Alasan yang sangat bagus. Sebenarnya Lala ingin perlahan menjauh dari kehidupan Rapa, namun tahu kan cowok itu keras kepala dan selalu mengancamnya.


"Baiklah, terima kasih pengertinnya my dear," ucap Rapa tersenyum sangat tipis. Hanya Lala yang menyadari senyuman itu, ada di wajah tampan seorang dokter muda seperti Rapa.

__ADS_1


Akhirnya bebas. Dan untuk Erika, jangan salahkan nantinya ia akan melabrak cewek kegatelan itu. Lala bukan sahabatnya yang baik hati seperti Anja, yang akan memaafkan gadis cabe-cabean itu ketika kekasihnya di dekati.


Awas lo Erika Magnolia, besar juga nyali lo deketin Rapa, batin Lala tersenyum miring.


__ADS_2