
Entah apa yang aku rasakan ketika melihat wajah seorang dokter muda seperti Rapa. Dia tampan namun kejam.
"Mau apa kamu ke sini?? mau sakitin aku lagi?? belum puas?" tanyaku menatap tajam cowok dengan jas dokter yang masih cowok itu pakai, sepertinya Rapa baru saja selesai dari laboratorium di mension ini.
Selain besar dan juga luas, di mension ini terdapat lengkap berbagai macam peralatan medis yang ada di laboratorium untuk penelitian mereka dan menyiksa para musuh.
"Maaf," lirih Rapa terlihat menyesal dan menunduk dihadapan aku, namun aku memilih menatap jendela yang ada di belakangnya, dari pada harus menatap wajah itu.
Kurang bersabar apa lagi diriku di hubungan tidak jelas ini. Dulu Rapa meninggalkan aku dengan seenaknya tanpa ada kabar sedikitpun. Dan kembali pulang ke Indonesa seperti tidak terjadi apapun.
Dan kebodohan terbesarku adalah tidak berpacaran dulu ketika Rapa pergi, agar cowok itu tidak mengikatnya sampai saat ini.
"Aku khilaf La," ucap Rapa sekali lagi. Khilaf sampai bertahun-tahun menghukum ku seperti itu. Mungkin kalau aku tidak rajin perawatan, mungkin tubuhku tidak akan semulus sekarang, karena banyak bekas sayatan di sana.
"Aku ngak akan memaafkan mu."
Rapa sepertinya frustasi mendengar perkataan ku, seperti sekarang cowok itu tampak sangat menyesal dan meremas rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kamu mau apa?? aku akan kabulkan??" tanyanya lagi, membuatku menoleh dan menatapnya dengan serius.
"Aku mau kamu jangan pernah deketin aku lagi sampai kapanpun."
Rapa menggelengkan kepalanya langsung, lalu melempar jas dokternya ke sembarangan arah dan mengeluarkan silet itu lagi.
"Kamu mau lukain aku lagi??" tanyaku takut dan was-was ketika Rapa mengeluarkan benda tajam itu.
Namun dugaan ku salah Rapa malah ingin menekan silet itu di urat nadi nya membuatku melototkan mataku terkejut, "Kamu gila Rapa!!" teriakku penuh emosi, "Lepas benda itu!!" perintahku dengan nafas memburu, walaupun aku membencinya, namun aku tidak ingin Rapa bunuh diri di depan ku.
"Kalau kamu mau mati jangan di depan aku," ujarku ketakutan, aku tidak ingin nantinya bertanggung jawab dan menjadi saksi seseorang yang bunuh diri.
Aku memang dulu sangat mencintai Rapa, bahkan hampir depresi ketika Rapa hilang kontak dan semua media sosialnya memblokir ku. Namun seiringnya berjalan waktu aku mencoba menikmati keadaan dan sekarang rasa ini mulai terkikis untuk Rapa.
Atau ini yang di katakan karma untuk Rapa?? karena meninggalkan aku dulu dan egois dengan hubungan kita.
"Aku sebenarnya sayang sama kamu Rap. Tapi mungkin kalau cinta, aku ngak tahu," jawabku dengan jujur dihadapan cowok tampan itu.
Rapa membuang silet itu dengan kasar, dan hendak memelukku, namun aku mundur selangkah, mencoba melarang tubuh tegap itu untuk menyentuh ku sedikitpun.
__ADS_1
"Jangan salahkan rasa yang mulai memudar Rap. Karena semua ini berawal dari keegoisan kamu."
"Aku harus apa La?" tanya Rapa semakin frustasi, hilang sudah sifat pemaksa dalam diri Rapa, "Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita."
"Bahkan aku sudah memberikan seribu kesempatan untuk kamu."
"Gini ajha, kita akhiri drama siang ini, aku ngak mau bahas-bahas itu lagi. Kamu renungan kesalahan kamu!!" perintah ku lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Rapa yang mematung masih mencerna kata-kata ku tadi.
Aku menutup pintu kamar tersebut lalu bersandar di sana, "Rap!! kalau kita ngak berjodoh, semoga kamu mendapatkan orang yang jauh lebih sabar dari pada aku," aku meneteskan air mata, terduduk di depan pintu, sebenarnya rasa ini masih ada walaupun hanya sedikit.
Dug. Dug. Rapa dengan nekad membenturkan kepalanya di tembok dalam kamar dengan kasar dan terdengar suara nyaring sampai keluar kamar. Selang beberapa menit semua orang berlari menaiki tangga dan mendobrak pintu tempatku bersandar tadi.
"Lala!! lo apain Rapa?" tanya Satria menatapku dengan tajam dan masuk dengan nafas memburu, untuk menghentikan aksi nekad dari Rapa.
Aku menutup mulutku menatap kosong para sahabat Rapa yang kini mencoba menghentikan aksi Rapa.
Anja mendekati ku dan mengelus pundak ku, "Ini bukan salah Lala, biarin ajha Rapa hukum dirinya sendiri seperti itu," ujar Anja menatapku dengan tersenyum dan menggenggam tanganku dengan erat.
"Bahkan dengan darah Rapa akibat benturan di kepalanya, ngak akan bisa membayar rasa sakit Lala sampai depresi mikirin dia," ucap Anja dengan menatap tajam ke arah pintu tersebut.
__ADS_1