
Suara riuh kelas Xll IPA 1 terdengar sampai ke luar ruangan. Para guru sudah biasa mendengar mereka berteriak histeris seperti itu, ketika melihat kedatangan geng Danial memasuki ke kelas dengan wajah datar dan dingin membuat mereka semua terpesona.
Danial duduk di salah satu meja urutan ke dua paling kanan diikuti oleh sahabatnya yakni Rapa yang duduk dengan Danial, Riko bersama Steven dan Satria berada paling depan di antara mereka, duduk di bersama teman cowok lainnya. Tidak ada yang berani mendekati meja paling kanan, tempat geng Danial berpijak.
Guru wanita masuk dengan mengandeng tangan seorang murid baru cantik yang kini sudah berdiri di hadapan mereka untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan namamu nak!!" perintah bu Azizah dengan suara keibuan. Bu Azizah terkenal dengan guru yang paling digemari oleh semua siswa, karena mengajar mereka dengan cukup sabar walaupun mereka sering mengeluh dengan pelajaran Matematika yang ibu Azizah ajarkan.
"Nama gue Kintan Purnama Adelia. Kalian bisa panggil gue dengan sebutan Kintan."
Kintan sempat melirik sekilas ke arah geng Danial yang kini tengah sibuk membaca buku pelajaran. Kintan mendengus kesal karena dirinya diabaikan padahal sekarang Kintan tengah memperkenalkan diri.
"Nama lo lumayan bagus. Tapi lebih bagus nama gue sih," ujar seorang cewek terkenal penguasa di kelas itu bernama Nabila. Seketika gelak tawa terdengar membuat Kintan tertunduk malu. Dan tidak ada satupun yang meliriknya dari geng Danial.
Kintan hanya tersenyum menanggapinya. Kintan tidak mungkin beradu argumen dengan Nabila. Pasti dirinya akan dicap sebagai cewek yang sangat sombong.
"Kamu duduk di meja tengah paling belakang bersama dengan Tari. Tari angkat tangan kamu!!"
"Baik buk," jawab Kintan dengan sangat lembut.
Siswi yang bernama Tari mengangkat tangan, membuat Kintan menuju ke arahnya dan duduk dengannya, "Hai nama gue Mentari," sapa Tari tersenyum ramah.
"Nama gue Kintan," ulang Kintan lagi dan berjabat tangan dengan Tari.
__ADS_1
Di depan kelas, bu Azizah sedang menjelaskan tentang pelajaran matematika yang lumayan sulit untuk otak manusia kalau tidak benar-benar memperhatikan dengan baik penjelasan bu Azizah di papan dengan seksama.
"Danial! sekarang kamu yang selesaikan soal pertama ibu," titah bu Azizah memberikan spidol papan tulis kepada Danial yang sekarang telah berdiri di depan kelas.
Semua siswa sangat terpukau dengan dengan kelihaian Danial dalam menyelesaikan soal tersebut. Selain tampan kemampuan IQ Danial tidak bisa diragukan lagi.
"Lo sebaiknya jangan naksir sama Danial!!" peringat Tari melihat gerak-gerik Kintan yang sangat aneh, terlalu terfokus ke wajah Danial bukan berfokus kepada soal yang dikerjakan.
"Kenapa??" lirih Kintan kini beralih menatap Tari yang membuang nafas kasar.
"Mereka bahaya untuk kita yang biasa. Cukup jangan usik ketenangan mereka hidup kita di sekolah ini akan aman."
"Gue perjelas Kintan dengan memperkenalkan semua anggota geng mereka. Lo lihat yang paling depan kanan, namanya Satria dia penguasa ring pencak silat di sekolah ini. Dan teman duduk Danial, namanya Rapa, dia itu penguasa laboratorium dan terkenal dengan keahliannya dalam bidang kedokteran. Dan dua orang yang ada di belakang Rapa, yang kanan namanya Steven, ahli teknologi di sekolah ini, katanya kemampuan Steven dalam ilmu itu sangat luar biasa. Dan terakhir namanya Riko, anggota geng Danial yang paling ramah dan manis."
"Lo pasti penasaran sama Danial kan?? kalau mereka penguasa di bidang keahlian masing-masing, maka Danial adalah ketua mereka. Penguasa di sekolah ini, ketua yayasan dan ketua OSIS. Danial menyandang tiga gelar itu secara bersamaan."
"Danial juga sudah memiliki kekasih, kalau ngak salah namanya Anja, adik kelas kita anak IPS. Begitupun Rapa sudah memiliki kekasih sahabat dari Anja, namanya Lala. Beruntung banget ya mereka??"
Ternyata Anja sepupunya terkenal karena menjadi kekasih dari Danial? kalau dinilai dari wajah mereka sebenarnya masih cantik kan Anja, karena mewarisi gen ibunya dengan wajah imut dan manis Anja juga lebih tinggi darinya walaupun memiliki umur yang lebih muda satu tahun. Bagaimana Danial tidak menyukai sepupunya, Anja anaknya baik dan juga sangat polos. Bahkan dulu, Kintan sempat kesal ketika bermain dengan Anja karena anak-anak seusia mereka selalu mengutamakan Anja ketimbang dirinya.
Kenapa selalu Anja Anja yang terlihat unggul dari dulu?? Dari kecantikan, tinggi badan, prestasi dan sekarang bahkan pacar.
Satu sifat Anja yang membuat semua orang menyukainya yang Kintan ketahui dari dulu. Anja tidak pernah dendam kepada orang lain dan selalu bersikap baik, bahkan kepadanya yang dulu pernah mendorong gadis itu dari tangga membuat tubuh mungil gadis kecil berumur 7 tahun itu berguling dengan luka yang cukup parah.
__ADS_1
Dan Anja mengetahui siapa yang sengaja mendorongnya, namun ketika di tanya ia selalu membela Kintan dan tidak menyalahkan kakak sepupunya.
"Maaf kak Kintan kalau Anja ada salah!! Anja sayang sama kak Kintan sama sayangnya seperti kak Mita."
Bukannya bahagia, Kintan malah semakin dendam kepada adik sepupunya itu.
Gue pastikan gelar Queen itu segera gue rebut, batin Kintan dengan menyeringai dan semua itu tidak luput dari pandangan Steven yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Kintan dan caranya menatap Danial.
"Gue tegaskan sekali lagi Kintan!! jangan bermain api dengan mereka kalau tidak ingin hangus terbakar menjadi debu," saran Tari sekali lagi karena dirinya peduli dengan Kintan yang terlihat sangat ambisius.
"Memuaskan!!" pujian terdengar dari buk Azizah melihat Danial yang telah menyelesaikan soal yang lumayan panjang itu dengan sangat mudah dan cukup singkat.
Danial dengan wajah datar nya membuat buk Azizah menggelengkan kepalanya, "Kamu boleh duduk!!" perintah buk Azizah diangguki oleh Danial.
"Sebelum ibu jelaskan kembali silahkan kalian mencatat jawaban dari Danial. Jawabannya benar semua tanpa ada kesalahan."
Semua siswa mulai menulis di buku mereka masing-masing dengan seksama tanpa ada suara berisik sedikitpun membuat buk Azizah tersenyum, melihat semua muridnya yang begitu bersungguh-sungguh dalam belajar. Biasanya buk Azizah mengadakan les private untuk para murid yang ingin belajar lebih giat lagi dan buk Azizah tidak menuntut bayaran apapun. Buk Azizah ikhlas untuk mengajar anak didiknya untuk les private.
"Buk!! sepertinya Bila mau les private sama ibuk. Sebentar lagi kan mau ujian kelulusan jadi Bila mau belajar lebih giat lagi."
"Nanti kita bicarakan setelah ini Bila. Untuk yang lainnya ada yang mau ikut dengan teman kalian les private sama ibuk??"
Semua siswa terdiam. Buk Azizah sangat mengerti kesibukan semua siswa mereka dari ekskul dan lainnya jadi tidak semua siswa yang ada waktu untuk les private.
__ADS_1