
Seorang gadis menatap dirinya di depan cermin sambil memakai dasi bewarna abu-abu, lalu ia menyisir rambutnya agar terlihat rapih. Kemudian gadis itu melangkah menuruni tangga sambil membawa sepatu convers hitam di tangannya.
“selamat pagi” serunya sambil duduk di kursi, gadis itu meneguk susu yang ada di hadapannya “kak, pelan-pelan minumnya” ucap Revan, adik laki-laki gadis tersebut yang masih berusia enam tahun “iya, iya” ia bangkit dari posisinya, lalu melangkah ke ruang tamu dan memakai sepatu di sana. Setelah itu gadis tersebut berdiri merapihkan kembali seragam putih abunya “Bunda aku berangkat ya” pamitnya pada sang bunda yang ia tahu masih repot mengurus Revan “Iya, hati-hati kak” sahut wanita itu dari arah dapur.
“assalamualaikum”
“walaikumuusalam”
Raina Salsabila gadis bertubuh mungil, dengan rambut sebahu itu kini duduk di bangku kelas 11. Raina berjalan menuju halte depan perumahannya yang hanya berjarak 1km, yups gadis itu selalu menggunakan bus jika ke sekolah. Jika ditanya kenapa pasti jawabannya ‘biar irit, uangnya bisa buat beli novel baru’ padahal ayah Raina sudah membelikannya motor untuk gadis itu berpergian seperti sekolah.
Gadis itu pokus menatap jalanan ibu kota yang sedang sibuk-sibuknya kalau pagi begini, apa lagi ini hari senin. Hari yang paling tak disukai hampir semua manusia di bumi, tapi hal itu tidak berlaku untuk Raina ‘ngapain nggak suka sama hari senin, doi hari yang baik kok buat mulai aktivitas setelah dua hari weekand, kalau terus males-malesan di hari senin gimana bisa raih impian dan harapan. Lagian se-nggak suka apapun doi bakalan dateng seminggu sekali tuh”
Saat Raina sedang asik melamun, larut dalam pikirannya sendiri. Seorang cowok berseragam sama melangkah menghampirinya “hai!” sapanya, membuat Raina menoleh “siapa ya?” tanya gadis itu sambil melihat cowok yang berdiri di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Lalu ia berkata dalam hati ‘satu sekolah sama gue kok, gue nggak pernah lihat dia sih?’ cowok berambut klimis itu seakan tahu isi kepala Raina “gue tahu, lo nggak kenal sama gue. Arfiza Davian anak kelas XII IPS 1 lo Rania kan? Anggota exskul photographi lo anak kelas XI IPS 1 iya kan?” mendengar penuturan cowok itu membuat Raina menatapnya tak percaya, bingung. “Kok lo bisa tahu gue kak?” tanya Raina dengan ekspresi polosnya membuat Arfiza menyeringai “lo lupa? Karya lo kan ada di mading sekolah” jawabnya yang membuat gadis itu tersenyum kikuk. Arfiza menoleh “tuh busnya udah dateng, naik yuk” serunya, gadis tersebut melangkah lebih dulu disusul Arfiza di belakangnya. Kemudian mereka duduk di kursi depan, dengan Raina di dekat kaca dan Arfiza disampingnya. “Na?” ucap cowok itu, yang dipanggil pun menolehkan kepala.
“apa, lo panggil gue ‘Na’?”
“iya, orang-orang kan manggil lo Rai jadi gue manggil lo Na saja ya?”
“kenapa gituh?”
Arfiza tersenyum simpul “gapapa biar beda saja” Raina berdehem menanggapinya, lalu membuang pandangannya ke luar jendela.
Setelah tigapuluh menit berjalan, bus itu sampai di depan sekolah mereka. Keduanya pun turun darisana, Raina mengeluarkan selembar uang dari dalam kantung seragamnya “pake ini saja, Na” ucap Arfiza seraya memberikan dua lembar uang dari dalam dompetnya.
__ADS_1
“makasih kak”
“gue duluan ya, see you”
“iya kak”
Gadis itu berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya “RAINAAA!!!” seru seorang gadis berkulit putih yang bernama Naya Aurelia “berisik ih!” ucap gadis tersebut sambil menaruh tasnya di atas meja.
“tadi lo naik apa ke sekolah?” tanya Naya yang sudah duduk disamping gadis itu.
“biasa”
“bus?” Raina hanya menganggukan kepalanya. “lo ada motor, tapi kok malah naik bus gimana sih Rai?” seru Naya.
“btw, hari ini bu Eka nggak masuk Rai” ucap Naya menjelaskan, gadis yang tadinya tidak antusias itu tersenyum sumringah “SERIUS?!” tanya Raina memastikan “iya, tadi guru piket kesini”
“YES!” seru gadis itu, lalu mengambil novel dari dalam tasnya “novel terossss” ucap Naya sambil menangkup dagunya menggunakan tangan. Baru satu halaman Raina membaca ia kembali membuka suara “tadi sebenernya gua bareng kakel Nay” gadis yang sedang medengarkan lagu di ponselnya itu menoleh.
“hah siapa Rai?”
“duh gue lupa namanya”
“cowok atau cewek?”
__ADS_1
“cowok”
“lo kenal dia Rai?”
“nggak tapi dia kenal gue” Naya terkejud “cakep nggak?” tanya gadis itu lagi “biasa saja” ucap Raina singkat, gadis itu tampak berpikir sejenak lalu ia mengangkat kepalanya “oh gue inget namanya Nay” gadis tersebut membulatkan mata “SIAPA-SIAPA?” Raina nyengir “Arfiza Davian” ucapnya sambil menjentikkan jarinya “WHAT?!” seru gadis itu yang membuat seisi kelas menoleh padanya, yang ditatap hanya tertawa “maaf” katanya, lalu pandangan gadis itu beralih pada Raina “serius, kak Arfiza yang bareng lo?” tanya Naya dengan raut wajah tak percaya “iya, dia kelas 12 kan?” gadis di depan Raina mengangguk “terus lo ngapain saja selama di bus Rai?” tanyanya lagi “ya nggak ngapa-ngapain” Naya menepuk jidat “maksud gue ngobrol atau apa gitu?” Raina tampak mengingat-ingat “dia bayarin ongkos gue” ucap gadis itu santai.
“apa kak Ar..” belum selesai Naya bicara Raina sudah menutup mulut gadis itu menggunakan tangan “diem Naya” gadis tersebut menghela nafasnya.
“serius kak Arfiza yang bayar?”
“iya emang kenapa sih?” mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sahabatnya itu membuat Naya menghelas nafas lagi.
“lo tahu nggak, dia siapa?”
“manusia sama kaya kita”
“bukan itu maksud gue Raina”
“terus dia siapa?” tanya gadis tersebut, ia bingung. “lo beneran nggak tahu?” Raina menggeleng singkat. Naya berdecak, lalu menepuk keningnya “kak Arfiza itu kapten tim basket sekolah kita Rai. Banyak yang suka sama dia, caper, carmuk, atau semacemnya lah. Kak Arfiza itu terkenal dingin, terus irit ngomong” jelas Naya panjang “oh gitu” balas gadis itu singkat. Raina tidak tertarik sama sekali.
“kok gitu doang sih?” ucap Naya kesal pada sahabatnya itu “terus gue harus apa?” tanya Raina “nggak tahu ah pusing mau jadi buah aja aku mah”
Dua detik kemudian bel istirahat berbunyi membuat mereka menghentikan aksinya “yuk kantin, laper gue Nay” ajak Raina yang sudah jalan lebih dulu “tungguin” seru gadis tersebut.
__ADS_1