She Is Mine

She Is Mine
Episode 59. Bertemu sang Sahabat dan baikan


__ADS_3


Dua bodyguard yang tadi berbicara dengan Danial. Kini bersama dengan Danial meninggalkan kamar abu-abu tersebut. Lala menghela nafas lega, dan Lala kini membuka pintu abu-abu tersebut dengan perlahan.


Ceklek. Lala berhasil dan menatap sendu ke arah sahabatnya yang kini tertidur dengan lelap membelakangi nya. Lala mendekati Anja dan menepuk pelan bahu Anja, agar gadis itu terbangun dari tidurnya.


"An!! An!!" panggil Lala, membuat Anja terusik dan membuka matanya secara perlahan. Anja membekap mulutnya terkejut bukan main melihat sahabatnya ada di depannya. Anja langsung memeluk Lala dan menangis di bahu cewek itu.


"Lala!! hiks," ucap Anja, membuat Lala mengusap bahu Anja yang bergetar.


"Nial udah ngak sayang sama Anja, La. Nial tega kurung Anja di sini sendirian dan bius Anja selama dua hari kemarin. Tolongin Anja, La, hiks."


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Lala bingung dengan sifat Danial yang berubah, pasti sahabatnya telah melakukan sesuatu, sehingga Danial sampai marah dan mengurungnya di sini.


"Anja mau putus," ujar Anja menghapus sisa air matanya dan berharap pembelaan dari Lala.


"Lo nyari penyakit sih An. Lo tahu kan sifat Danial seperti apa. Lo ngak akan pernah lepas dari Danial selamanya An."


Anja menyikap lengan baju Lala perlahan. Dan benar saja di sana ada luka goresan memanjang, Lala segera menutupnya dengan lengan panjang bajunya.


"Kenapa La??" tanya Anja menuntut penjelasan dari Lala. Kenapa Lala menyembunyikan hal itu selama ini. Apa Lala tidak menganggapnya menjadi seorang sahabat.


"Maaf An!! gue ngak mau buat lo khawatir dan juga menjauh dari Danial seperti sekarang," jelas Lala merasa bersalah telah menyembunyikan status Danial yang sebenarnya dari dulu dari sahabatnya. Karena Danial telah mengancamnya agar tidak membahas hal itu di depan Anja. Namun sekarang Anja telah mengetahui nya.


"Anja semakin yakin untuk meninggalkan Nial."


Lala menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Anja hanya duduk manis di mansion ini dan menjadi kekasih Danial, semuanya akan aman dari pada memberontak seperti sekarang.


"Anja harus kabur dari sini La. Ayok La secepatnya kita kabur," ujar Anja menarik tangan Lala. Lala segera menepisnya membuat Anja menatap Lala bingung.


"Kenapa La??"

__ADS_1


"Jangan seperti ini An!! ini di tengah hutan, di luar sana dingin dan banyak hewan buas. Tolong jangan nekad untuk pergi dari sini!!"


Sebenarnya Lala berencana untuk membawa kabur Anja dari awalnya. Namun melihat kondisi di mansion ini yang berada di tengah hutan belantara dan juga sepertinya banyak hewan buas. Sama saja mengantarkan nyawa, membuat Lala mengurungkan niatnya.


"Lala sama saja seperti mereka," ujar Anja kini benar-benar kecewa dengan pemikiran Lala yang egois.


"Maaf An!! ini demi kebaikan kita. Gue ngak mau nantinya kita menyesal dan bahkan membahayakan orang lain. Lo juga ngak akan bisa kabur dari sini karena ada puluhan bodyguard berjaga di pintu utama dan gerbang."


"Sudah cukup berbincang-bincang nya??" tanya suara serak dan dingin memenuhi indra pendengaran mereka berdua.


"Ternyata gadisku nakal," ujar Rapa menyeringai membuat Lala menahan nafas gusar. Rapa segera menarik kasar Lala dari sana dan membawanya pergi.


Sedangkan Danial menatap gadisnya yang kini tengah menantangnya tanpa ketakutan sedikitpun, "Kenapa??" tanya Danial sebenarnya merindukan gadisnya yang manja seperti dulu. Namun kini keras kepala Anja semakin menjadi-jadi.


"Anja sama Lala berniat kabur dari mension ini. Dan Anja ngak takut sama sekali sama Nial."


"Kenapa kamu seperti ini sayang?? dimana Anja Nial yang manja dan juga menggemaskan itu?" tanya Danial mulai mendekati Anja, namun gadis itu masih menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.


"Aku minta maaf sayang, kalau itu yang membuat kamu marah sama aku. Aku janji ngak akan kasar lagi."


"Tapi kata papa. Cowok yang kasar itu ngak baik untuk Anja. Jadi Nial ngak baik untuk Anja."


Danial menggepalkan tangannya. Semakin Danial memperlihatkan emosinya di depan Anja, maka Anja akan semakin menjauhinya.


"Anja kan gadis yang baik. Anja harus memaafkan orang yang meminta maaf dan ingin berubah."


Anja berpikir sejenak. Lalu mengangguk, Danial tersenyum dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Anja juga merindukan pelukan Danial.


Danial menyeringai, dan mengusap leher Anja dengan lembut, dan memberikan tanda merah keunguan di sana. Anja yang merasakan geli di lehernya langsung melepaskan pelukan Danial.


"Nial kok gigit Anja?" tanya Anja meraba-raba bekas gigitan Danial, "Tuh kan sakit."

__ADS_1


"Itu namanya tanda kepemilikan sayang. Bukan gigitan ingat itu cantik," ujar Danial mencuri kecupan di bibir mungil gadisnya.


Sedangkan di tempat lain. Rapa menyeret Lala dengan kasar dan menghempaskan tubuh gadis itu di atas ranjang, salah satu kamar paling pojok di mension itu.


"Argh, kamu kenapa sih Rap??" cetus Lala menatap tajam ke arah Rapa.


"Kamu tanya aku kenapa hem?? kamu nakal," ujar Rapa lalu mengeluarkan silet di saku celananya. Membuat Lala melotot.


"Kamu mau ngapain?" tanya Lala ketakutan dan mundur, ketika Rapa semakin mendekatinya dan memojokkannya.


"Aku mau melukis di perut kamu," lirih Rapa dengan enteng tanpa ada beban sedikitpun.


Lala menggelengkan kepalanya, "Kamu udah buat aku terluka kemarin, sekarang kamu mau lukai aku lagi ahh??" bekas silet Rapa yang memanjang di tangannya sebagai saksi bisu hukuman Rapa kemarin, sebelum pergi ke mansion.


Rapa tidak peduli dengan Protes dari gadisnya, ia menyikap baju Lala dan menampilkan perut rata Lala yang sangat mulus, jiwanya semakin terpanggil untuk melukis di sana.


"Jangan Rap!!" lirih Lala mulai pasrah ketika silet itu bermain di sana. Dan Rapa tersenyum bangga melihatnya.


"Bentar ajha, aku hanya mau lukis kata depan aku. R."


Benar saja Rapa menulis inisial namanya di perut Lala, dan sekarang selesai. Darah mulai perlahan keluar dari perut Lala lumayan banyak. Walaupun hanya goresan ringan dan tidak terlalu dalam.


"Sudah selesai. Cantik kan sayang??" suara mengerikan itu, membuat Lala muak dan ingin sekali membunuh Rapa sekarang juga.


"Kamu punya mulut kan?"


Tetap saja Lala menatap tajam ke arah Rapa sambil meringis dan memegang perutnya.


"KAMU PUNYA MULUT KAN LALA??" bentak Rapa. Membuat Lala seketika terkejut lalu menjawab perkataan Rapa.


"Iya. Sampai kapanpun aku ngak akan pernah menerima kamu di hidup aku. Aku lebih baik mati dari pada bersanding sama iblis seperti kamu, Rap!!" ujar Lala membuat Rapa membeku dan melepaskan siletnya dan terjatuh ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2