She Is Mine

She Is Mine
Episode 82 // Fakta Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Nih buat Lo." Kintan berdiri di depan mereka semua. Khusunya di depan Danial.


"Lo lihat orang gila ngak? ngasih kotak makanan ke bos?" ujar Riko melirik sinis ke arah Kintan.


Kintan tidak menanggapinya. Ia tersenyum seakan tidak memiliki dosa apapun. Tangannya pegal karena Danial tidak kunjung mengambil kotak makanan nya. Padahal ia masak sendiri dari subuh.


"Sampai lo jadi patung di sana, Danial ngak akan sudi sentuh kotak makan, lo." Riko sangat gemas dengan Kintan. Ingin sekali ia mendorong Kintan dan mencekiknya.


Perempuan berwajah tebal.


"Gue akan berdiri sampai Danial ambil kotak makan gue. Lo ngak kasihan sama gue? ini masakan gue loh."


Danial menatap Kintan tanpa minat. Jangan kan menyentuh kotak makan itu, melirik kintan saja, Danial enggan. Ia lebih baik menulis rumus matematika.


Semua siswa mencibir Kintan yang tidak tahu


malu. Padahal kan Danial pacar sepupunya.


Kintan terpaksa menaruh kotak bekal di atas meja. Namun sebelum kotak bekal itu di taruh, Danial langsung menghempaskan kan nya, sehingga semua makanan berhamburan, bahkan terkena baju Kintan.


"Kan udah gue peringatkan!" seru Riko mengejek.


Kintan menatap nanar kotak bekalnya. Ia segera memungutnya dan kembali ke meja.


Tidak ada Satria di sana. Karena Satria izin tidak masuk, disebabkan kurang enak badan, karena kejadian kemarin. Ia juga malu berhadapan dengan Steven.


"Gue pastikan besok lo jadi milik gue, batin Kintan menggepalkan tangannya. Dirinya dipermalukan.

__ADS_1


***


"Nja!" panggil Lala.


"Apa," jawab Anja lembut.


"Lo ngak marah ke Kintan-Kintan itu??" tanya Lala.


Anja menggelengkan kepalanya. Lala membuang nafas kasar. Tapi sebenarnya berada di posisi Anja juga sulit. Kintan sepupunya, karena itu Danial belum bertindak sampai sekarang.


"Emang kenapa?" tanya Anja kembali. Hampir semua orang bertanya seperti itu.


"Kintan itu jahat Anja. Lo usir deh dari rumah lo. Ntar dia bunuh lo gimana?" tanya Lala khawatir dan ngeri.


"Apaansih La. Kak Kintan ngak mungkin seperti itu. Aku kan adiknya."


Anja menghela nafas pelan. Entahlah, ia juga pusing dengan semua ini. Kenapa kehadiran Kintan di hidupnya membuat semuanya berantakan.


"Aku sudah kasih tahu Nial. Kak Kintan akan berubah kok. Dia bilang iya kemarin."


Anja berbohong. Bahkan Kintan enggak untuk melihat nya walaupun sesekali saling melewati. Kintan marah ke Anja karena di suruh berubah olehnya.


"Lo tahu kan, Danial bahaya. Dia ngak akan segan-segan hukum orang tanpa pandang bulu."


"Aku tahu itu La. Tapi... masalahnya aku harus bagaimana? Kak Kintan masak aku suruh pulang ke rumahnya? aku ngak tega."


"Bagaimana lo kasih tahu kakak lo ajha. Kak Mita."

__ADS_1


Lala menyarankan keputusan yang salah di mata Anja. Itu akan menambah masalah. Pasti nanti kak Mita akan marah besar ke semua keluarga, karena telah memberikan Kintan akses untuk berdekatan dengannya setelah kejadian itu.


Kejadian yang hampir membuat nyawa Anja melayang. Dulu Kintan masih kecil, bisa memiliki otak picik seperti itu. Apalagi sekarang, tapi Anja yakin sepupunya itu bisa berubah secara perlahan.


"Atau jangan-jangan Kintan punya kelainan mental?"


"Ngak ada. Setahu aku Kak Kintan ngak pernah ke rumah sakit dan minum obat."


"Bukan masalah itu Anja. Dia ada masalah keluarga ngak di rumahnya?"


Anja berpikir sejenak. Ia juga kurang tahu, tapi beberapa hari yang lalu ia mendengar Kintan menangis di dalam kamar dan menyebut kedua orang tuanya. Sebenarnya Anja ingin bertanya, tapi Kintan tidak ingin terbuka padanya.


"Gimana??" tanya Lala kembali. Bisa jadikan. Soalnya Kintan sangat terlihat ambisius.


"Aku pernah lihat kak Kintan menangis sendirian di kamar, terus dia sebut nama orang tuanya."


Lala melebarkan matanya semakin penasaran.


"Terakhir aku dengar kak Kintan bilang seperti ini 'takut dan juga sakit' aku ngak tahu artinya apa."


Jantung Lala berpacu dengan cepat. Ia harus konsultasi nanti dengan Rapa. Pacarannya itu hobi mendeteksi orang. Tapi Lala juga curiga dengan Danial dan sahabatnya. Apa mungkin mereka sudah mengetahui nya lebih dulu sebelum Anja menyadarinya??


"Tapi jangan kasih tahu mereka. Aku akan melindungi kak Kintan apapun yang terjadi. Dia kakak aku, La."


Ini yang Lala tidak suka dengan sifat Anja yang keras kepala. Anja itu manja tapi tidak suka asumsinya di atur oleh semua orang, walaupun itu orang dekat sekalipun.


"Gue ngak tahu harus ngomong apa sama lo." Lala menyerah dengan Anja. Anja itu keras kepala seperti batu. Apalagi ini menyangkut keluarga nya.

__ADS_1


"Aku berharap kamu juga bantu aku ubah kak Kintan. Dan cari tahu apa penyebab kak Kintan seperti ini. Aku belain sepupu aku karena ada alasan."


__ADS_2