
Sorot mata Kesya menatap aneh ke arah Kintan yang sedang menunggu makanan untuk dirinya sendiri.
Kesya melirik sekilas ke arah meja geng Danial yang di sana sudah ada Anja dan Lala duduk di dekat Danial maupun Rapa. Dan Semua sahabat Danial lainnya
Sedangkan dirinya duduk bersama dengan dua sahabat nya, yakni Hani dan juga Desi. Di sebrang meja ke empat dari meja geng Danial yang kedua.
"Lo lihatin apa Sya??" tanya Desi penasaran. Dari tadi Kesya memilirik cewek yang sedang menunggu bakso di sebrang sana.
"Lo tahu yang berdiri di sana itu adalah sepupu nya Anja. Tapi dari tadi gue merasa ngak enak ajha lihat tingkah lakunya."
"Lo masih peduli sama Anja??" tanya Hani.
"Ya kan Anja teman kelas kita. Kalau terjadi apa-apa kelas kita yang kena. Mikir makanya."
"Galak amat hidup lo."
Hani melanjutkan makannya sedangkan Kesya masih melirik Kintan yang kini sudah siap membawa nampan berisi bakso dan jus ke arah meja geng Danial.
Melihat Kintan dengan langkah aneh mendekati Anja. Kesya langsung bergegas berlari ketika kuah bakso panas akan tumpah ke badan mungil Anja. Dan Kintan sengaja melakukannya, Kesya sudah curiga dari awal dengan gerak-gerik Kintan.
"Sya!!" teriakan nyaring kedua sahabat Kesya melihat Kesya berlari melindungi Anja dengan lengannya.
Prang.
__ADS_1
Semua orang terdiam. Kejadian itu seakan tidak ada jedanya untuk disetel ulang. Kesya meringis dan terduduk di lantai dengan lengan baju yang kini basah akibat kuah bakso panas.
Semuanya terdiam dan hening.
Steven yang melihat Kesya seperti itu langsung menghampiri Kintan, membuat suara riuh semakin memanas ketika Steven dengan sangat kasar mendorong Kintan agar menjauh dari Kesya.
"Awshh..." Kesya memegang lengannya yang terasa melepuh.
"Key!! ngak apa-apa kan??" Anja langsung memeluk Kesya sembari menangis. Kesya tadi menolongnya.
"Lala ayok bawa Kesya ke UKS." Sahabat Kesya dan Juga Lala mengangguk dan memapah Kesya berdiri dan membawanya ke UKS.
Sedangkan para cowok kini tengah menenangkan Steven yang ingin menghajar Kintan.
"Gue ngak sengaja hiks. Tadi..."
"CEWEK IBLIS." Steven melepaskan tangan Satria dan Riko, lalu kembali mendorong Kintan dengan sangat kasar sampai kepala gadis itu berdarah karena terkena meja.
Dan apa yang dilakukan Danial dan Rapa?? mereka berdua tersenyum miring melihat adegan yang sangat menarik.
Satria memegang bahu Kintan dan menatap tajam ke arah Steven.
"DIA CEWEK BRO!! LO KENAPA KASAR BANGET??"
__ADS_1
"Lo ngak usah bela dia Satria!!" sentak Steven memegang kerah baju Satria dengan kasar.
"Gue ngak belain Kintan. Tapi dia beneran ngak sengaja. Cewek lo yang sengaja dorong Kintan sampai jatuh. Kenapa lo nyalahin Kintan??"
Steven menggepalkan tangannya dan langsung menghajar Satria membabi buta bahkan kaki kanan Steven menendang Kintan sampai memuntahkan darah.
Tidak ada yang berani ikut campur dengan urusan geng Danial. Mereka semua lebih memilih menonton dari kejahuan.
"Woy bos pisahin. Steven bahaya kalau ngamuk seperti ini. Satria bisa mati." Riko mencoba mendekati Steven namun cowok itu malah menyiku perutnya membuat Riko mundur dan kesakitan.
"Lo ngak usah belain cewek seperti dia."
Danial akhirnya turun tangan dan memisahkan mereka dengan satu tangannya terangkat ke udara. Membuat Steven mundur dan Satria memegang wajahnya yang babak belur.
"Cobak tadi gue yang angkat tangan dan kaki. Mereka ngak mau berhenti. Sedangkan Danial, baru angkat tangan sekali langsung mundur," protes Riko kesal.
"Rapa! bawa Satria!!" perintah Danial dengan suara berat.
Rapa mengangguk dan membawa Satria menjauh dari sana. Untuk mengobati wajah Satria akibat pukulan maut dari Steven.
Setelah sekian lamanya baru pertama kalinya mereka melihat Steven semarah ini sampai tidak bisa mengendalikan emosi nya hanya gara-gara cewek.
"Gue ngerti perasaan lo. Tapi semuanya ada waktunya." Danial menepuk bahu Steven.
__ADS_1