
Bayu melihat semua anak buahnya tergeletak tidak berdaya di depan ruangan anaknya, membuat jantung nya berdetak tidak karuan karena rasa khawatir. Bayu langsung masuk ke dalam memastikan Anja tidak kenapa-kenapa.
"Kenapa kamu di sini??" ujar Bayu melangkah dengan penuh amarah, yang langsung di hadiahi senyuman oleh Anja, karena papanya sudah datang.
"Papa!!" panggil Anja, dan Bayu merubah ekspresinya dengan senyuman lembutnya. Tidak ingin anaknya menilainya yang tidak-tidak.
"Putri papa udah bangun, papa bawa makanan untuk Anja," ujar Bayu mendekati anaknya, namun menatap tajam Danial yang mundur untuk memberikannya ruang, mendekati Anja.
"Anja ngak apa-apa kan sayang?? ngak ada yang sakit dan dia ngak nyakitin Anja kan?"
Anja menggelengkan kepalanya, "Nial nemenin Anja dari tadi, Nial ngak pernah nyakitin Anja, walaupun Anja sering nakal. Papa!! Nial baik, jangan jauhin Anja sama Nial ya?" mohon Anja dengan bola mata yang penuh harap.
Kalau seperti ini, Bayu tidak akan tega menolak permintaan putrinya. Terpaksa ia harus pura-pura setuju. Dan esok ia akan menyusun rencana untuk memisahkan mereka.
"Iya sayang. Papa ngak akan jauhin Anja sama Nial. Tapi Anja janji ini untuk terakhir kalinya Anja di rumah sakit. Kalau Anja sakit lagi, papa akan kirim Anja ke rumah kak Mita, biar Anja homeschooling ajha caranya."
Di kediaman Angkasa, Bayu pastikan tidak ada yang berani menganggu Anja. Karena kekuatan dua keluarga antara Angkasa dan Syahreza sama-sama berpengaruh di dunia bisnis.
Danial menggepalkan tangannya, "Saya janji akan menjaga Anja, bahkan dengan nyawa saya sendiri."
"Dengan membuatnya masuk rumah sakit, karena musuh kamu maksudnya??" tuntut Bayu.
__ADS_1
Danial terdiam sejenak, "Untuk musuh saya yang telah menyakiti Anja, sudah saya bereskan."
"Nial ngak salah papa!! cowok bernama Galang itu benci sama Nial. Makanya dia jadikan Anja umpan. Sebenarnya Anja ngak di apa-apain sama Galang, tapi yang membuat Anja takut, Galang paksa Anja minum obat bius, terus dia mau paksa Anja buat jadi milik Galang."
"Galang mau apa-apain Nial. Anja takut Nial kenapa-kenapa, terus Galang mau jadiin Anja hiks..."
"Udah Anja!! jangan bahas dia lagi," peringat Bayu menenangkan anaknya, "Anja istirahat ya sayang. Udah tadi minum susu?"tanya Bayu menghapus air mata anaknya.
Anja menganggukkan kepalanya, "Tadi Nial yang kasih Anja susu, papa."
"Iya udah, sekarang istirahat ya? papa mau ngomong sama Nial dulu."
****
"Saya mencintai Anja, tuan Bayu yang terhormat. Bagaimana pun cara anda memisahkan saya dengan Anja, Anja tetap akan menjadi milik saya. Karena Anja terlihat hanya untuk saya, menjadi pasangan saya bukan siapapun itu," terdengar egois namun itulah prinsip Danial. Anja hanya untuk dirinya seorang.
Bayu terkekeh sinis, "Saya adalah orang tua Anja. Apa hak kamu ingin memiliki anak saya??"
"Saya pacar dari anak anda. Jangan biarkan saya kurang ajar nantinya untuk melawan anda. Saya bisa menghancurkan perusahaan yang baru anda bangun, dalam waktu satu detik."
"Kamu mengancam saya?? kamu tidak akan pernah bisa menyentuh perusahaan saya, karena menantu saya akan melindungi mertuanya."
__ADS_1
Kini giliran Danial yang tersenyum miring, "Bahkan sepertinya tuan Andra yang terhormat sama dengan saya. Melakukan apapun untuk mendapatkan gadisnya. Saya mengetahui kisah percintaan kakak dari gadis saya."
Bayu menggepalkan tangannya, "Sekarang kamu memang, tapi saya tetap tidak akan merubah keputusan saya!!" ujar Bayu lalu pergi meninggalkan Danial yang duduk dengan gaya yang sangat santai.
****
"Kamu harus menguasai wilayah ini. Tempatnya strategis dan juga akan sangat menguntungkan apabila kita membangun hotel di sana," jelas Opa menunjuk peta tanah yang rencananya akan ia beli.
Danial mengambil peta tersebut, lalu memperhatikan peta itu sekilas, lalu mengangguk, itu urusan yang mudah untuk ia selesaikan.
"Kamu harus hati-hati Danial. Karena banyak warga yang tidak setuju kita membeli tanah mereka. Padahal Opa telah menawarkan tanah itu dengan harga yang lumayan tinggi, sesuai keuntungan kita nantinya."
Keluarga Syahreza memang terkenal licik dan handal. Namun mereka tidak pernah mencurangi masyarakat kecil untuk bisnis mereka. Mereka hanya licik ketika melawan lawan yang ingin menjatuhkan mereka.
"Sudah dua kali para pemuda di desa itu, demo untuk mempertahan tanah mereka."
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan hal ini Opa. Mungkin ada yang ingin bermain-main dengan kita."
Mereka berdua menyeringai, "Opa izinkan," ucap Opa membuat Danial tersenyum miring. Masih ada yang berani bermain-main dengan dirinya.
"Danial akan utus 20 bodyguard untuk mengawasi gadisku, selama Danial menyelesaikan misi ini."
__ADS_1
Opa mengangguk, karena percuma ia melawan, Danial tidak akan bisa ia perintah lagi, kalau bukan karena gadisnya itu. Opa menjelaskan kepada Danial, bahwa Anja akan menuntut suatu hari nanti uang yang lebih banyak, jadi Danial harus berkerja untuk memenuhi kebutuhan gadisnya. Dan benar saja Danial sangat setuju. Apapun untuk gadisnya.