
"Sebenarnya ada apa tante?? apa yang terjadi dengan Danial?" tanya Rapa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Mama Danial menelpon Rapa tengah malam, dan mengatakan Danial kembali mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri. Rapa yang mendengar hal itu langsung pergi ke mension Danial, yang ada di tengah hutan dengan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan rahang yang mengeras.
"Setelah tiga tahun lamanya, Danial kembali menyakiti dirinya sendiri," keluh sang mama menangis melihat keadaan anaknya yang masih belum sadarkan diri.
"Rapa sudah mengobati luka Danial. Dan memberikannya obat penenang."
"Sepertinya gadisnya ingin memutuskan hubungan dengan Danial. Sehingga Danial mengamuk seperti ini. Tante mendengar langsung dari bibir Danial sebelum pingsan."
Rapa menggepalkan tangannya, apa yang sebenarnya yang cewek manja itu inginkan. Danial tidak pernah berbuat kasar kepadanya, bahkan Danial mati-matian selalu menjaganya.
Rapa dan Danial sungguh berbeda memperlakukan gadis mereka, Rapa tidak akan segan-segan menyakiti Lala, kalau gadis itu melawan. Sedangkan Danial hanya menatap tajam Anja, tanda peringatan dan tidak menyakiti gadis itu sedikitpun.
"Aku akan bertemu dengan Anja," ujar Rapa dengan jas dokternya keluar dari kamar itu dan masuk ke kamar Anja dengan mendobrak pintu itu dengan kasar.
__ADS_1
Anja terkejut bukan main, ketika ia hendak membuka jendela mension yang berada di tingkatan kedua, kalau gadis itu nekad terjun maka ia akan mati dan tulang belulangnya akan remuk.
"Mencoba kabur huh?" tanya Rapa menyeringai.
Anja menatap Rapa ketakutan, "Mana Nial?? kenapa kamu masuk ke kamar ini?" tanya Anja mencari keberadaan Danial, namun tidak ada cowok itu di sana.
Rapa tersenyum miring, "Mau lo apa sih ahh??" ujar Rapa tenang, "Lo bukannya berterima kasih di jaga oleh sahabat gue, tapi makin kesini lo semakin melunjak."
"Itu bukan urusan kamu," Anja semakin keras kepala. Memang benarkan itu bukan urusan Rapa, dan Rapa tidak berhak ikut campur dengan hubungan mereka.
"Lo seharusnya bersyukur di sandingkan dengan Danial, bukan dengan gue. Kalau cara main gue itu lembut, lo akan gue buat menangis sepanjang hari karena goresan pisau."
"Lala!!" Anja mengingat sahabatnya itu. Berarti Lala selama ini tersiksa dengan Rapa. Dan goresan yang pernah ia lihat bukan karena Lala tidak sengaja terjatuh atau terluka, tapi karena Rapa yang selalu menghukumnya.
"Ternyata lo peka juga. Lala salah satu contohnya," ucap Rapa semakin menakuti Anja. Karena gadis ini semakin di manjakan akan semakin melunjak. Rapa menjadi gemas ingin mencekiknya.
"Kamu kejam. Dasar dokter iblis!!"
__ADS_1
"Makanya jangan macam-macam dengan Danial bahkan sahabat nya. Lo belum tahu cara main Danial lebih kejam dari pada gue. Dan ingat!! sampai kapanpun lo akan terjebak selamanya bersama Danial."
Anja menangis, "Kamu pertama kali berbicara panjang lebar dengan Anja. Karena ingin menakuti Anja??" tanya Anja menatap Rapa, "Tapi Anja ngak takut, karena Anja ngak mau dikurung sama Nial di sini. Anja ngak mau dikekang terus. Nial udah berani kasar sama Anja. Siapapun yang kasar sama Anja, maka orang itu ngak baik untuk Anja."
Rapa tersenyum miring, "Sebentar lagi Danial akan ke sini, akan menyiksa lo yang pembangkang."
"Danial ngak akan pernah tega menyakiti Anja, ingat itu Rapa!!"
"Yakin??" tanya Rapa menyeringai, "Tunggu ajha tanggal mainnya, Anja Adelia. Semakin lo berontak semakin lo akan membangkitkan sisi iblis dalam tubuh Danial."
Danial tidak akan pernah menyakitinya kan?? batin Anja menguatkan diri. Ia tidak ingin Danial sama dengan Rapa. Rapa cowok gila, yang selalu menyakiti sahabatnya Lala, dengan goresan pisau di setiap tubuh Lala. Rapa pergi begitu saja dan mengunci kamar itu kembali.
"Mama!! hiks, Anja takut."
Seakan teringat dengan ponselnya, Anja langsung merogoh ponselnya dan ingin menelpon kak Mita, untuk menolongnya dari Danial. Hanya kak Mita yang bisa menolongnya saat ini.
"Ketemu," ponselnya ada di atas meja, dan Anja langsung membuka ponselnya, namun Anja semakin menangis kencang, melihat kedua kartu SIM ponselnya telah di ambil oleh Danial.
__ADS_1
"Nial jahat sama Anja hiks," lirih Anja membuang ponselnya ke atas ranjang.