
"Gue udah duga Danial ngak akan balas dendam ke gue karena, dia sayang ke gue," ujar Vanessa dengan bangga, diangguki oleh kedua antek-antek nya yakni Vani dan Venezia.
Mereka bertiga mengetahui siapa Danial, bahkan Danial sudah tahu mereka kerap melakukan bullying di sekolah sampai membuat para murid yang menjadi korban kerap trauma, termasuk korbannya saat ini.
Prok. Prok.
Mereka bertiga melihat ke arah sumber suara, tiga cewek dengan tampang menantang menatap mereka meremehkan. Berani sekali mereka tiga masuk ke kandang Genx V.
"Danial ngak sebodoh itu."
Cewek itu mendekat, tidak merasakan takut sedikitpun ketika berhadapan dengan ratu bullying, "Sadar ngak sih, lo semua sudah menggali kuburan sendiri."
Vanessa, Vani, Venezia, membalas dengan senyuman meremehkan, "Kalian mau jadi korban selanjutnya?" tanyanya percaya diri.
"Uhh takut.." ejek Kesya tersenyum miring. Ya Cewek itu Kesya yang berani menantang Ratu Bullying dengan santai nya, tanpa takut dengan masalah kedepannya.
"Berani banget lo," sentak Vani hendak menampar Kesya namun dihentikan oleh Desi, menatap tangan mulus itu berdecih pelan.
"Lo udah nyakitin anggota kelas kita, sama saja lo mengibarkan bendera perang ke kelas kita, bahkan sesama jurusan IPS. Lo anak IPA tapi otak di dengkul ngak pernah tahu rasanya di amuk masa ahh??" jelas Desi panjang lebar.
"Jangan banyak bacot deh, kalau lo semua berani, apalagi perserikatan bangsa IPS lo itu merasa terhina, mari lawan gue?? berani ngak lo?" tantang Vani tersenyum miring.
Kesya terkekeh, "Hasil nyogok jadi ketua karate ajha bangga. Gue pastikan jabatan itu akan tergeser besok pagi."
Vani melotot dan menggepalkan tangannya, bagaimana cewek ini bisa mengetahui nya.
"Ngak cuman lo ajha, bahkan lo," Kesya menunjuk Vanessa, "Akan tergeserkan menjadi ketua Cheers tahun ini, bahkan lo akan dikeluarkan dari OSIS, siap-siap ajha baby girl."
Vanessa membeku, "Lo jangan asal bicara ya?? itu ngak akan pernah terjadi, Danial ngak akan tega lakuin itu ke gue."
"Dan lo bahkan tega nyakitin Anja, sampai dia masuk rumah sakit, terus Danial diam ajha gitu, jangan mimpi. Danial biarin lo bebas selama ini, karena lo ngak ganggu miliknya, tapi lo nyari masalah sendiri."
Bukan mereka bereenam yang berbicara, mereka juga kaget dengan asal suara yang tiba-tiba datang tanpa permisi.
Di sana Selsa tersenyum miring, bukan sendirian namun bersama dengan Hamdi, Riko dan juga Steven.
"Lo pulang deh, saham perusahaan keluarga lo lagi anjlok tuh," seru Selsa menatap Vanessa kasihan.
__ADS_1
Deg.
Apa-apaan ini, kenapa masalah sekolah mereka sangkut pautkan ke keluarga, dan bahkan di luar kawasan sekolah. Terus hanya dirinya gitu? Vani dan Venezia tidak terkena dampaknya juga. Di sini mereka bertiga yang melakukan bullying bukan hanya dirinya.
"INI NGAK ADIL!!" Teriak Vanessa menatap tajam Selsa dan juga teman-teman cowok Danial.
"Sebarkan videonya!!" perintah Selsa diangguki oleh Kesya dan juga teman-teman nya.
Mereka bertiga melotot, video apa??
"Jangan bermain-main dengan tuan muda, ini baru permulaan, puncaknya besok pagi," bisik Selsa lalu pergi dari sana, karena merasakan pengap di dalam markas geng V.
****
"Apa yang kamu lakukan Vanessa??" bentak papa perempuan itu, tiba-tiba marah-marah tidak jelas, melihat dirinya menginjakkan kaki di rumah. Bukannya dapat ketenangan pulang ke kandang, tapi malah semakin membuat Vanessa bosan. Papanya menatap dirinya dengan tajam, sedangkan di sana juga terdapat mamanya yang tengah menangis.
Vanessa langsung menghampiri mamanya, mungkin org tuanya lagi bertengkar? "Mama kenapa nangis?" tanya Vanessa menenangkan mamanya.
"Ini semua gara-gara kamu," Vanessa menatap papanya horror, apakah ia pernah melakukan kesalahan.
Deg.
Jadi mereka tidak bercanda? Vanessa terkekeh, bagaimana itu bisa terjadi? jadi, demi cewek sialan bernama Anja itu, Danial berani melakukan ini kepadanya.
Gue akan balas semuanya, batin Vanessa tersenyum miring, lalu pergi dari hadapan orang tuannya.
"Besok Vanessa ngomong sama Danial pa! ma! jadi papa dan mama tenang ajha."
****
"Mereka sudah berkumpul?" tanya Kesya tersenyum miring.
Desi dan Hani mengangguk kompak, awal yang sangat indah bukan, untuk kehancuran geng V.
"Rasain makanya siapa suruh sok ngebos, dia kira, dirinya paling wow gitu haha..." mereka tertawa meremehkan.
"Vanessa!! Vanessa!! dia belum tahu ajha kedua sahabat nya itu ngak pernah ada di pihak dia."
__ADS_1
Hani dan Desi melongok, bukannya mereka menuruti perkataan Vanessa selama ini, terus mereka berkhianat gitu.
"Jabatan ketua Cheers sebenarnya kemarin akan di tempati oleh Venezia, namun karena keegoisan Vanessa dengan melakukan berbagai macam cara, jadinya Venezia mengalah. Tapi..." Kesya menjeda ucapannya, "Venezia masih mendendam."
"Bingung gue sama geng yang satu ini, sok kompak, tapi banyak terdapat dendam satu sama lain."
****
"Makan sayang!!" perintah Danial menyuapi gadisnya, namun dari tadi Anja menggelengkan kepalanya, menolak suapan itu sembari menutup mulutnya.
"Anja bosan Nial, pulang!" Anja merengek dari tadi ingin dipulangkan, karena kepalanya sakit mencium bau obat-obatan rumah sakit.
"Kepalanya kan masih sakit."
Anja cepat menggelengkan kepalanya, "Pokoknya mau pulang, Anja ngak mau makan kalau kita belum pulang, dan satu lagi besok Anja masuk sekolah."
"No baby!!"
"Mogok bicara sama Nial," Anja memalingkan wajahnya, dengan ekspresi cemberutnya.
Danial mengusap kepalanya frustasi, "Alex!! siapkan mobil dan barang-barang nona muda!! dan telpon dokter pribadi ke rumah nona muda secepatnya!!"
Alex mengangguk dan segera melakukan semua perintah dari tuan mudanya.
Mata Anja berbinar, lalu memeluk Danial dengan sangat erat, "Makasih Nial, sayang Nial selamanya."
"Harus baby."
Kamu harus menyayangiku selamanya, batin Danial merasakan pelukan hangat gadisnya.
"Sekarang siap-siap!" Anja mengangguk menuruti perkataan Danial.
Terkadang Anja sering berpikir, kenapa Nial sangat menyayangi nya? banyak diluar sana perempuan yang lebih cantik darinya, tapi kenapa Nial memilihnya.
"Jangan berpikir aneh-aneh baby!! kepalamu nanti sakit."
"Iya Nial."
__ADS_1