She Is Mine

She Is Mine
Episode 81. Peringatan Untuk Anja


__ADS_3

"Apa lo lihat-lihat!" ketus Lala menatap tajam ke arah Kintan. Lala merasa jengah dengan kelakuan Kintan. Andai Rapa tidak ada di sini sudah ia jambak rambut Kintan sampai botak. Berani sekali ia ingin menyakiti sahabatnya.


Satria tengah mengobati Kintan. Rapa sudah mengobati Satria lebih dulu. Karena Rapa tidak ingin menyentuh perempuan lain, maka ia membiarkan saja Kintan kesakitan dan tidak peduli.


"Gue ada salah sama lo?" tanya Kintan polos.


"Jelas ada salah. Bahkan salah besar, lo mau nyelakain sahabat gue. Rap! usir deh perempuan ular ini dari sini. Gue mau muntah lihatnya."


Rapa membuang nafas kasar, "Pergi!" tegas Rapa menatap tajam Kintan.


Kintan tidak mau pergi dari sini karena ia harus diobati.


"Rap! lo kenapa usir Kintan? nanti dia diserang sama Steven," protes Satria merasa kasihan dengan nasib Kintan. Bahkan sepupunya Anja tidak peduli dengan Kintan.


"Woy bang Satria. Lo kenapa belain ulat bulu seperti dia? jelas-jelas dia itu mau nyelakain Anja. Untung ada Kesya. Coba Anja yang kena mati lo di tangan Danial."


"Udah," ujar Rapa mengelus tangan Lala.


"Aku belum puas caci maki ulat bulu ini. Lo kenapa benci banget sama Anja? ada masalah hidup apa lo, ah??"


"Kurang cantik?"


"Atau kurang pinter?"


Kintan menggepalkan tangannya mendengar perkataan Lala. Namun ia segera tahan agar semua orang iba padanya.


"Lo kenapa sih, La? tega banget lo fitnah Kintan seperti itu?" sangkal Satria langsung.


Ingin sekali Lala menghajar wajah Satria. Pasti otaknya sudah diracuni oleh Kintan. Dasar perempuan gatal, jahat, murahan.

__ADS_1


"Gue akan minta maaf ke Anja. Gue beneran ngak sengaja," cicit Kintan takut.


"Harus! awas ajha lo sentuh Anja lagi! gue pastiin hidup lo ngak akan tenang. Rap! besok sediakan racun suntikan mati, biar nih cewek langsung kita suntik mati kalau berulah."


"Oke," jawab Rapa. Bukan bercandaan tapi seriusan. Rapa nanti akan meraciknya.


Satria langsung melebarkan matanya mendengar Lala memerintah Rapa seperti itu. Rapa tidak pernah main-main dalam ucapannya. Ia akan melakukannya.


Sedangkan Kintan tidak memperdulikan perkataan Lala. Ia anggap semuanya hanya angin berlalu. Mana berani mereka menyakiti nya.


***


"Nial! aku khawatir sama kak Kintan. Sekarang di mana dia??" tanya Anja.


"Jangan membahasnya!" larang Danial.


Andai Kintan bukan sepupu Anja, dari kemarin nyawa perempuan itu sudah melayang. Tapi Danial masih menahannya sampai sekarang. Kalau sampai Kintan bermain-main kembali, ia akan memberikan Kintan hukuman yang lebih menakutkan dari kematian.


"Aku ngak suka. Dia mau mencelakai kamu sayang."


"Anja tahu. Tapi Danial ngak usah benci sama kak Kintan."


Danial memilih diam dan mengalah. Walaupun Kintan selalu jahat pada Anja, gadisnya selalu memaafkan sepupunya.


"Aku kasih waktu Kintan berubah selama dua minggu. Kalau dia semakin menjadi-jadi. Maka aku akan kasih tahu keberadaan Kintan di rumah kamu, ke keluarga Angkasa."


"Bukan hanya itu. Aku yang akan menambah hukumannya. Suruh dia berubah, sebelum terlambat."


Jantung Anja berpacu dengan cepat. Ia takut Danial akan menyakiti sepupunya. Anja tahu siapa Danial. Mereka semua bukan orang biasa. Anja menggigit bibir bawahnya khawatir.

__ADS_1


"Jangan menggigitnya. Nanti berdarah!"


"Iya Nial. Kasih Anja waktu untuk merubah kak Kintan. Anja janji."


"Buktikan!" tegas Danial datar.


***


"Kak Kintan!" panggil Anja ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah. Hari sudah menjelang siang, teriak matahari membuat hawa semakin memanas.


"Iya kenapa? lo mau nyalahin gue juga?" tanya Kintan kesal.


"Aku ngak pernah menyalahkan Kak Kintan dari dulu, bahkan ketika Kak Kintan dorong aku dari tangga."


Kintan terdiam sejenak. Anja kembali mengungkit nya.


"Kak! jangan main-main sama mereka. Anja khawatir sama Kak Kintan. Jadi Anja mohon jangan berbuat yang aneh. Kalau Kak Kintan mau sakiti Anja, jangan di sekolah dan jangan sampai mereka tahu. Mereka bahaya Kak."


"Gue ngak peduli. Lo jangan asal fitnah gue. Kapan gue mau nyakitin lo?" sangkal Kintan tersinggung.


"Anja sudah peringatkan dari awal. Kakak jangan bermain-main sesuka hati Kakak."


"Terserah gue. Lo ngak berhak ngatur hidup gue."


Bagaimana lagi Anja mengasih paham ke sepupunya. Anja khawatir dengan hidup Kintan nantinya. Anja sangat menyayangi Kintan.


"Kak! Anja mohon sekali lagi sama Kak Kintan. Jauhi mereka!" pinta Anja sendu.


"Lo kenapa sih ahh? lo diancam sama mereka? gue ngak takut karena mereka ngak mungkin bisa nyakitin gue. Satria ada di pihak gue."

__ADS_1


Kintan naik ke atas tangga meninggal kan Anja yang mematung mendengar perkataan sepupunya.


Kak Kintan yakin, Abang Satria ada di pihak Kakak? batin Anja menatap punggung Kintan yang menjauh.


__ADS_2