She Is Mine

She Is Mine
Episode 31. Hukuman Untuk Vanessa 2


__ADS_3

Setelah beberapa hari beristirahat, kini Anja diperbolehkan masuk sekolah oleh Danial. Orang tua Anja mempercayai Danial untuk menjaga anak kesayangannya itu.


"Akhirnya masuk sekolah."


"Jangan jauh-jauh setelah ini baby!!" peringat Danial dengan tegas, ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali, cukup Anja terluka minggu yang lalu, membuat dirinya frustasi.


"Iya Nial," jawab Anja patuh. Demi kebaikan dirinya, Anja menurut saja dengan kekasihnya.


"Alex!! lakukan perintah saya!!" tegas Danial, menatap anak buahnya yg kini menjadi sopirnya.


"Baik tuan muda."


Alex adalah salah satu anak buah yang terlatih, yang Danial utus untuk menjaga kekasihnya di manapun dan kapanpun.


"Kenapa Alex ngak sekolah seperti kita?" tanya Anja polos, soalnya wajah anak buah Danial itu terlihat masih muda, namun umur mereka terpaut jauh.


"Maaf nona, saya sudah lulus beberapa tahun yang lalu," jawab Alex sopan.


"Kirain masih sekolah seperti kita, soalnya wajah Alex gan.."


"Baby!!" peringat Danial, membuat Anja menyengir kuda.


"Cemburuan, ngak boleh tahu Nial. Alex kan anak buah Nial. Kerja sama dengan Nial buat jagain Anja. Oh ya... kenapa Nial utus anak buah Nial buat jaga Anja?? kan Nial ada."


"Ngak apa-apa sayang."


*****


"Hua... gue kangen," rengek Lala memeluk sahabatnya dengan erat. Anja tersenyum menanggapinya.


Sedangkan Kesya hanya melirik sinis ke arah mereka yang tengah berpelukan sebagai seorang sahabat. Cemburu? ohh tidak Kesya tidak peduli, meski hati kecilnya meresahkan.


"Jangan peluk terlalu kencang, Anja masih lemah Lala!!" peringat Selsa langsung, iya bertugas mengawasi semuanya.


Lala melepaskan pelukannya, "Habisnya gue khawatir banget sama lo Nja. Sampai gue nangis pas jenguk lo yang belum sadar."


"Maaf ya, buar Lala khawatir," sesal Anja dengan polos.


"Kita kan sahabatan, iya kan Sel?" tanya Lala antusias diangguki oleh Selsa dengan jawaban yang malas.


"Tahu ngak sih? nanti katanya ada acara di lapangan sekolah. Seperti pemilihan anggota Cheers," ujar Lala memberi tahu kabar yang sempat ia dengarkan.


"Wah seru tuh, wajib nonton kita," jawab Anja antusias, ia sebenarnya paling suka melihat kompetisi Cheers, apalagi ikut menjadi salah satu anggotanya. Tapi ia sadar diri orang tuanya melarang keras ia mengikuti Cheers, apalagi sekarang ada Nial.


"Ma!! Pa!! Anja boleh ikut ekskul Cheers ya??" tanya Anja dengan semangat 45, karena itu salah satu impiannya dari dulu.


"Ngak!!" jawab orang tua Anja dengan tegas, apa-apa'an ikut seperti itu, dapat membahayakan putrinya.


"Kok gitu," keluh Anja protes.


"Bahaya sayang. sampai kapanpun mama sama papa tidak mengizinkan Anja ikut ekskul itu."


Semenjak itu, Anja mencoba mengubur impiannya ikutan Cheers, apapun alasannya, orang tuanya tidak akan mengizinkan. Jadi dirinya hanya menjadi penonton.


"Yang sabar ya nja!! bagaimana kita coba ikut ekskul musik atau sastra."

__ADS_1


Mata Anja berbinar, boleh di coba? asalkan kedua ekskul itu tidak membuatnya kelelahan sehingga ia akan mencari alasannya nanti untuk meminta izin ke orang tuanya, termasuk kekasihnya.


****


Suara riuh tepuk tangan terdengar nyaring di telinga pada murid yang berkumpul, untuk menyeleksi anggota baru ekskul cheers.


Jurinya adalah ketua basket dan juga ketua OSIS siapa lagi kalau bukan Danial Syahreza yang kini menatap nyalang murid-murid cowok yang menatap secara terang-terangan gadisnya, yang duduk di antara Lala dan Selsa.


Ingin sekali Danial membawa gadisnya pergi dari sini, karena gadisnya masih terlihat lemah, namun ada yang harus gadisnya lihat sebagai kejutannya yang akan terjadi beberapa menit kemudian.


"PERHATIAN!! KARENA SEMUA VOTE MENGARAH KE VENEZIA SEBAGAI PENGGANTI KETUA CHEERS, MAKA SAYA MENYATAKAN, KETUA CHEERS SAH UNTUK DI GAN__"


"NGAK!! INI NGAK FER DANIAL!!" teriak Vanessa dengan keadaan yang memperihatinkan.


Semua perhatian murid tertuju kepadanya. Wajah yang sembab, riasan wajah yang acak-acakan dan seragam sekolah yang kucel.


"La!!" bisik Anja heran dengan penampilan Vanessa yang menggenaskan.


Lala memberikan isyarat untuk Anja diam dan menikmati tontonan gratis tersebut.


"Babu lewat gaiz!!" teriak Venezia dengan nyaring.


Semua murid bertepuk tangan dengan hebohnya, khusunya tamu spesial untuk saat ini yang tengah berbaris dengan panduan Kesya.


"Lo sahabat laknat!!" bentak Vanessa ingin menjambak Venezia, namun terhalang oleh beberapa korban bullying yang menghempaskan tangan Vanessa dengan kasar.


"Lo yang ngak tahu diri," bentak salah satu dari mereka.


Danial menyeringai melihat pertikaian anak-anak tikus yang ada di depannya.


Danial menatap Vanessa dengan tatapan datar, jangan bermain-main dengan milik Danial, ya akibatnya seperti sekarang ini.


"Lo mau gue maafin??"


Vanessa mengangguk lemah, apapun itu ia harus melakukannya demi saham perusahaan bokap nya aman kembali.


"Lo harus minta maaf ke mereka semua," menunjuk 20 murid yang menjadi korban bullying geng V selama ini, bahkan mereka tidak mengingatnya.


"Gue ngak sendirian Danial. Kenapa gue yang di hukum??"


"Cabut!!" perintah Danial tegas, membuat Vanessa gelagapan dan hampir menyentuh tangan Danial. Danial langsung mundur menatap Vanessa dengan tajam.


"Gue minta maaf ke lo semua yang pernah gue siksa dan sakiti."


Turunlah harga diri seorang Vanessa yang selama ini ia jaga sebagai mahkota kesombongan nya.


"Ngak semudah itu," protes semua siswa yang kini menatap Vanessa meremehkan.


Vanessa melotot, "Terus lo semua mau apa?" tanyanya meradang.


Salah satu siswi maju, lalu menampar Vanessa dengan kencang, "Lo udah sejatuh-jatuhnya ajha, masih tetap sombong."


Siswi tersebut mengintrupsi teman-teman lewat permainan mata, "LANJUTKAN!!" teriakan begitu lantang.


Semua siswa yang menjadi korban bullying langsung melemparkan apapun yang mereka bawa ke arah Vanessa, baik itu es jeruk, alpukat, telur busuk, makanan, kue dan lainnya, bahkan mereka menyediakan air got untuk menyiramnya ke wajah Vanessa. Keterlaluan?? Vanessa lebih keterlaluan dari yang sekarang, membuat beberapa siswa keluar dari sekolah karena trauma.

__ADS_1


Vanessa menunduk tidak bisa berbuat apapun, iya sekarang tengah diam menahan tangisan nya, ini semua demi perusahaan bokap nya dan ini adalah salah satu persyaratan dari keluarga Syahreza karena berani menganggu milik mereka.


Anja yang melihat hal tersebut terkejut bukan main, kenapa tidak ada yang menolong Vanessa. Ia menatap Lala dan Selsa bergantian untuk melihat reaksi mereka berdua, dan yang ia lihat senyuman miring terukir tipis di wajah sahabatnya.


Danial menatap gadisnya yang tampak kebingungan dengan situasi ini. Iya mendekati Anja karena gadisnya keluar dari barisan tempat duduk, mendekat ke arah lapangan.


"STOP!!" teriak Anja dengan lantang, membuat Lala dan Selsa terkejut, karena gadis mungil itu telah berada di sana.


"KENAPA KALIAN LAKUIN HAL INI KE TEMAN KALIAN??"


"KENAPA KALIAN MEMBULY KAK VANESSA??"


Mereka semua terdiam, tidak ada yang berani bersuara, karena yang mereka hadapi sekarang adalah gadis dari orang yang berkuasa dan menyuruh mereka melakukan hal ini.


"Baby girl!!" panggil Danial ingin menjangkau Anja, namun ditepisnya.


"Nial jugak, kenapa Nial membiarkan mereka melakukan hal ini ahh?? ini lingkungan sekolah, Nial kenapa ngak marahin mereka, Nial bukannya ketua OSIS kan??" marah Anja tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga dadanya yang naik turun dengan wajah yang semakin pucat.


"KALIAN SEMUA BUBAR!!" teriak Hamdi mengambil alih, karena bosnya tidak mungkin berteriak di hadapan gadisnya itu.


Tidak ada yang meninggalkan lapangan, karena ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Salah satu siswi berani membuka suara ke arah Anja, "Dia, pernah membuli kami, bahkan sampai ada yang trauma sampai sekarang. Kenapa lo membela dia?? yang jelas-jelas jahat ingin merebut kekasih lo."


"Biarkan kami menghukumnya."


Anja menatap siswi itu, "Kalian ngak harus memperlakukan teman kalian seperti binatang, menyiksa dia sampai tidak berdaya, kalian bukan tuhan. Ngak harus seperti... Akh."


Anja memegang dadanya yang sesak. Kini tubuhnya yang mendadak lemas dan dibanjiri dengan keringat.


"Hei sayang!" ujar Danial panik, dan langsung memeluk gadisnya yg kini tengah menekan dadanya kesakitan.


"Nial jahat!! Nial ngak punya hati," lirih Anja langsung pingsan digendong kekasih nya.


Deg.


Bagai tersambar peting, wajah Danial menggelap menatap semua siswa yang melihat adegan tersebut.


"BUBAR KALIAN!!" teriaknya, mereka semua berlari kabur dari sana, dari pada mendapat masalah dan hukuman dari sang penguasa.


Manusia bodoh, karena mereka gadisnya bisa seperti ini, keadaannya gadisnya semakin parah.


Danial membawa gadisnya ke dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit, "SIAL!! CEPAT ALEX!! KALAU SAMPAI TELAT, NYAWAMU TARUHANNYA."


"Sayang!! maaf sayang!! Nial ngak bermaksud membuat Anja kambuh sayang."


Danial sengaja menghukum orang yang berani menyakiti miliknya, agar semua orang mengetahui Anja adalah gadisnya, tidak ada yang boleh menyentuh gadisnya. Atau mereka akan menyesal seumur hidup.


Namun gadisnya tetap gadisnya yang polos dan baik hati, tidak akan pernah tega melihat orang-orang tersakiti dan di siksa di depan matanya.




__ADS_1



__ADS_2