
JANGAN LUPA VOTE AND LIKE + KOMEN YANG BANYAK, AGAR AUTHOR SEMANGAT BUAT LANJUT.
"Saya akan menyampaikan beberapa aturan mengenai perubahan tata tertib sekolah. Dan di sini saya bukan hanya selaku ketua OSIS, tapi sebagai ketua yayasan SMA Garuda. Bagi yang tidak setuju, silahkan mengangkat tangan dan menyampaikan kritikan."
Tidak ada yang berani mengangkat tangan, mereka semua saling pandang.
Kini semua siswa berkumpul di dalam ruangan yang sangat luas, beserta guru-guru dan kepala sekolah.
Para siswi bukannya takut, mereka malah terpesona dengan cowok yang sedang berpidato di depannya, calon suami idaman.
Dengan jas almamater, dan berlogo SMA Garuda, Danial berpidato dengan lantang. Jangan lupakan wajah tampan nya dan juga damage nya yang membuat siapapun akan terpesona.
"Perubahan peraturan Tata tertib SMA Garuda. Dengan ini menyatakan :
Untuk semua murid SMA Garuda harus berpakaian rapi, tidak ketat dan lainnya. Bagi yang melanggar sampai dua kali, maka saya akan mencoret namanya dari SMA Garuda.
Bersikap sopan kepada guru, maupun kepada sesama murid. Bagi yang ketahuan membuli, maka saya sendiri yang akan turun tangan membereskannya lebih dari itu.
Tidak berkeliaran ketika jam pelajaran, makan di kantin, merokok dan lainnya. Saya akan mengutus beberapa anggota keamanan untuk berjaga ketika bell masuk, tapi bukan anggota OSIS, namun bodyguard kepercayaan saya, agar tidak menganggu jam pelajaran anggota OSIS.
Mengalirlah peraturan-peraturan baru dari Danial Syahreza. Tidak ada yang berani membantah, aura Danial sungguh mengalir kental dari keluarga nya.
****
__ADS_1
"Hebatnya pacarnya aku."
Anja gemas sendiri dengan Danial. Bagaimana bisa Danial berpidato dengan lantang dan hebat, membuat semua orang tidak berani berkutik karena takut dan auranya yang mengintimidasi.
"Tapi sedikit takut," cicit Anja, melihat raut wajah Danial yang masih datar.
"Ngak usah takut sayang, aku ngak gigit kok."
"Kalau Nial gigit, aku akan ninggalin Nial."
Mata Danial menajam, berani sekali gadisnya berkata seperti itu. Sampai kapanpun ia tidak akan melepaskan gadisnya, walaupun dengan cara memaksa gadisnya sekalipun.
"Maaf Nial, aku hanya bercanda."
Danial meredam emosi nya, ia tidak ingin menyakiti gadisnya, "Jangan di ulangi sayang."
Anja mengangguk, dan tiba-tiba teringat sesuatu, "Nial!!"
"Hem."
"Mau ke toilet," sebenarnya Anja malu.
"Aku temenin ya?" Danial khawatir gadisnya kenapa-kenapa.
Anja menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Ihhh ngak boleh, mesum banget. Aku bisa sendiri bye Nial."
***
"Akhirnya selesai juga, aku lama ngak ya? Nial pasti capek nungguin nya," Anja segera beranjak keluar dari toilet, namun.
"Ehh lo," tunjuk seorang wanita dengan tatapan menilai. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Anja menunduk, apakah penampilan nya berbeda?? namun bukannya seragam mereka sama persis dan juga Anja telah memeriksanya tadi di cermin.
"Masih kalah jauh."
Anja lalu mendongak melihat wajah seorang cewek yang pernah ia temui, Anja mengingat nya, ya cewek yang berada di ruang OSIS kemarin, namun sekarang bersama dengan kedua temannya.
"Lo kasih pelet apa? sampai Danial mau sama lo ahh?" Anja sekarang merasa terpojokkan.
Kedua teman cewek itu memegang tangan Anja, sedangkan cewek bernama tag Vanessa perlahan memegang rahang Anja dengan kasar, "Lo sok cantik, padahal lebih cantikan gue."
Vani dan Venezia tersenyum miring melihat tingkah bossanya, Genx V yang terkenal dengan bullying di sekolah SMA Garuda, namun siapapun tidak ada yang berani melaporkan mereka, karena diancam, bukan hanya di sekolah, orang yang berani melapor, akan mereka buat menderita selamanya bahkan di luar sekolah.
"Jauhin Danial, atau lo korban selanjutnya!!" ancam Vanessa tersenyum miring, mempererat kukunya yang tajam ke pipi Anja.
"Aku ngak mau, kalian tidak berhak mengatur hidup aku!!"
__ADS_1
Katakan Anja berani, Anja memang sungguh berani, namun Danial menyuruhnya bersikap manja ke cowok itu.
"Wah, gue kira ni anak polos, ternyata polos bohongan ya."
Mereka tertawa geli mendengar nya, "Kenapa Danial mau sama cewek dekil seperti lo?? atau lo jebak Danial *****??"
"Jaga ucapan kalian, justru di sini, kalian semua yang murah, pakaian kurang bahan dan sering membuli, akan aku laporan semuanya ke Danial."
"Wah tukang ngadu," ucap Vani menarik rambut Anja dengan kasar, sakit sungguh perih yang kini cewek itu rasakan.
Sekarang giliran Venezia yang mendorong Anja ke arah tembok kamar mandi, sehingga kepala gadis itu mengeluarkan darah segar.
Plak.
"Masih berani lo lawan kita??" bentak Vanessa, menampar Anja.
"Cabut girls!!" perintah Venesia lalu pergi berlalu dari kamar mandi meninggalkan Anja yang menangis kesakitan menahan darah dari kepalanya yang tanpa permisi masih mengalir dengan deras.
Keadaan Anja sekarang sungguh memperihatinkan, wajah yang sembab, kepala berdarah, dan juga kulit kepala yang perih.
****
"Kenapa perasaan gue ngak enak," Danial langsung bergegas mencari gadis nya, sungguh Danial sangat bodoh, kenapa ia melupakan gadisnya yang sudah lewat beberapa menit meninggalkan dirinya di toilet.
Danial menyusuri toilet perempuan, tidak peduli dengan suara heboh para cewek yang ada di sana, hanya satu yang ada di pikiran Danial, gadisnya tidak kenapa-kenapa.
"Ya ampun dia kenapa??"
"Kasihan banget, banyak darahnya."
"Dia pingsan kayaknya."
"Siapa yang melakukan hal ini??"
Danial melihat kerumunan di dalam salah satu toilet perempuan, ia mendekat dan betapa terkejut nya dirinya melihat gadisnya pingsan dengan kepala yang di banjiri darah.
Dan manusia-manusia bodoh ini hanya mengerubungi gadisnya, sungguh gadisnya bisa mati kehabisan oksigen.
"MINGGIR!!!"
Mereka semua tersentak dan terkejut melihat raut wajah ketua OSIS seperti ingin memangsa mereka semua hidup-hidup.
"Sayang hei.."
Badan Danial melemas, ada bekas tamparan di wajah gadisnya, berarti ada seseorang yang melakukan hal ini. Mungkin semua orang akan mengira Anja jatuh dan terbentur, tapi Danial tidak sebodoh itu.
"Akan aku tunjukkan siapa Danial Syahreza yang sebenarnya, berani sekali mereka bermain dengan milikku."
__ADS_1
Danial langsung membawa gadisnya ke rumah sakit, sembari mengecup bibir mungil itu yang kini tertutup dan pucat. Danial ingin menangis melihat keadaan gadisnya saat ini.