
Eughh. Anja terbangun dari pingsannya selama dua hari. Kepalanya terasa pusing karena efek obat bius tersebut dan pasti Danial yang tega melakukan hal itu. Terhitung telah tiga hari ia berada di mension tengah hutan dan meninggalkan orang tuanya di kota.
Ceklek. Bunyi suara pintu terbuka membuat Anja menatap seseorang masuk ke kamar itu. Seorang pembantu muda membawa nampan berisi makanan dan susu hangat.
Dan sepertinya Danial telah memprediksi dirinya bangun hari ini. Untuk itu ia menyuruh pembantu menyiapkan makanan untuk dirinya. Anja tidak habis pikir dengan pola pikir Danial yang semakin menggila.
Dirinya meragukan cinta Danial. Mungkin Danial hanya terobsesi dengannya bukan mencintainya. Pemikiran seperti dunia novel, itulah pemikiran Anja saat ini, walaupun terdengar lucu di kehidupan nyata.
"Silahkan dimakan nona!! tuan muda memerintahkan saya memastikan nona memakannya," ujar sang pembantu dengan suara lembut dan sopan. Namun Anja menatap pembantu itu dengan tatapan datarnya.
"Aku tidak lapar. Percuma kamu memaksaku. Karena aku tidak akan pernah menyentuh makanan itu," jawab Anja keras kepala. Sekarang yang ada di benak Anja, bagaimana caranya kabur dari mension ini.
Seketika ide muncul di otak kecilnya, "Kamu memiliki ponsel??" tanya Anja menatap pembantu tersebut.
Pembantu tersebut menggelengkan kepalanya, karena semua ponsel para pembantu di sita ketika jam kerja. Dan boleh diambil setelah pekerjaan telah usai.
Anja menghela nafas pasrah, "Pergilah!!" usir Anja. Membelakangi pembantu tersebut. Namun pembantu itu tidak menyerah.
"Nona!! kalau anda tidak makan, saya akan di pecat oleh tuan muda," mohon gadis itu dengan suara bergetar.
"Saya yang tanggung jawab."
"Tidak bisa seperti itu nona. Saya mohon belas kasih anda, sebagai seorang manusia nona."
Tidak ingin mendengar ocehan sang pembantu, Anja terpaksa menyanggupinya dan memakan makanan itu dengan terpaksa dan meneguk sekilas susu tersebut sampai kandas. Di hadiah kan senyuman oleh sang pembantu muda itu.
"Sudah dan pergilah!!" usir Anja kembali.
Pembantu tersebut mengangguk, lalu membereskan semuanya, lalu pergi dari kamar tersebut dan jangan lupakan pintu tersebut terkunci dari luar.
Sedangkan di sisi lain. Lala dan Rapa kini tengah menuju mension Danial. Lala dengan akal seribu nya merayu Rapa, agar cowok itu mengajaknya ke mansion tersebut.
__ADS_1
"Jangan macam-macam!!" peringat Rapa dan Lala menanggapinya dengan senyuman termanisnya agar Rapa luluh seketika.
"Aku sayang banget sama kamu, kamu ganteng, baik dan sekarang mau ngajak aku," ucap Lala memeluk lengan Rapa yang tengah menyetir mobil.
Rapa yang melihat tingkah gadisnya dan senyuman Lala, karena dirinya, membuat hati Rapa mengangkat dan tidak menyadari akal Lala yang ingin mengajak kabur Anja nantinya.
Biarlah gue senyam senyum dulu di depan balok es seperti Rapa. Sebenarnya gue males banget rayu cowok ini, batin Lala tersenyum manis.
"Aku bahagia kamu bisa menerima aku La," ucap Rapa mengelus surai gadisnya dengan sangat lembut.
Mobil Rapa melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri hutan belantara, membuat Lala merinding dan juga takut kepada Danial yang membawa Anja, sahabatnya sampai sejauh ini.
****
"Tumben lo bawa cewek lo," ujar Riko menatap Lala yang kini tersenyum canggung menatap mereka semua. Lala semakin menunduk ketika, Danial yang dari tadi menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Lala kesepian," jawab Rapa dengan singkat dan volume datar, diangguki oleh Riko, Satria dan Steven.
"Bagaimana kesan dan pesan pacaran sama Rapa, La??" tanya Riko penasaran dan juga ingin mencairkan suasana yang sepi.
Tapi Rapa sering menghukumnya untuk itu Lala masih berpikir dua kali kalau ingin bersanding dengan dokter muda itu. Biarkan takdir yang menjawab.
"Denger tuh pujian dari cewek lo Rap. Jangan main tangan lagi."
Lala mengangguk setuju, sedangkan Rapa terdiam mendengarnya.
"Lo ngak mau punya cewek Stev??" tanya Satria, membuat Steven menggelengkan kepalanya.
"Apa lo ngak normal??" tanya Riko heboh.
"Cewek itu merepotkan dan manja. Gue ngak mau urusin orang seperti itu, buang-buang waktu."
"Gue ngak manja, itu sih tergantung lo mau tipe cewek yang mana. Jangan salahin sifat cewek yang seperti itu. Itu kodrat seorang perempuan. Dan gue akan paling depan tertawa kalau lo udah bucin ke cewek lo nanti."
__ADS_1
Riko dan Satria tertawa terbahak-bahak mendengarkan pembelaan dari kaum hawa. Mereka bukannya tidak mau pacaran namun belum bertemu seseorang yang tepat. Beda dengan Steven yang berniat melajang seumur hidup.
"Sabar bro. Lala memang seperti itu," ujar Riko menahan tawanya, ketika Lala menatapnya cemberut.
Sedangkan Steven yang mendengarkan pembelaan dari Lala. Menatap cewek itu dalam.
"Jangan lihatin cewek gue seperti itu!!" peringat Rapa. Dan steven memutuskan pandangannya.
"Lo jangan suka sama Lala Stev!! Lala dan punya pawang. Entar lo di suntik mati lagi," ucap Riko kembali.
"Rap!! mau ke belakang," rengek Lala memegang tangan Rapa, diangguki oleh cowok itu.
"Toiletnya ada di sana," ujar Danial. Yang membuka suara setelah sekian lama.
Lala mengangguk, lalu meninggalkan mereka menuju toilet. Setelah memasuki toilet, Lala mendengarkan suara pembantu yang tengah mengobrol tentang Anja. Lala yang penasaran dan menguping pembicaraan mereka.
"Kamu habis dari mana??"
"Saya diperintahkan untuk menyiapkan nona muda makanan dan memastikan nona muda memakannya."
"Sudah??"
"Nona muda memakan makanan tersebut karena saya mengancam nona muda, dengan kehilangan pekerjaan saya sebagai pembantu. Seperti perintah tuan muda."
"Saya jadi penasaran wajah nona muda seperti apa??"
"Gadis cantik namun sedikit keras kepala. Dia ada di lantai dua, pintu berwarna abu-abu."
Lala yang berhasil mengorek informasi langsung membuka toilet dengan perlahan. Dan mencari di kamar itu. Iya merindukan sahabatnya.
"Lantai dua, kamar abu-abu. Pasti ada kunci cadangan di samping kamar itu." Lala menaiki tangga secara perlahan dan sekarang berhasil menemukan pintu abu-abu tersebut.
Lala menghela nafas lega dan segera mencari kunci cadangan di samping kamar itu. Dan berhasil ketemu namun sepertinya suara langkah seseorang mendekat ke arahnya. Lala menyembunyikan kunci itu di saku celananya dan bersembunyi di samping laci.
__ADS_1
"Pastikan tidak ada yang masuk ke dalam kamar ini, kalau sampai gadis saya kabur. Maka nyawa kalian jaminan nya."
Lala menutup mulutnya tidak menyangka, Danial sesadis itu mengancam para bodyguardnya. Dan sekarang Lala terjebak di samping laci dengan para bodyguard Danial yang berjaga di sana.