
Hana mengangkat ponselnya... Devan yang mendengar ponsel Hana berbunyi iya berhenti kan langkahnya ya bisa di bilang Devan menguping percakapan istrinya di ponsel..
"Hallo bunda..." ucap Hana dengan hati tidak jelas...
"Nak, kamu bisa kerumah sakit." ucap mama Yuli.
"Rumah sakit, siapa yang sakit bunda.?" tanya Hana.
"Baiklah Hana akan kesana bunda..." ucap Hana lalu menutup ponselnya walau air mata nya mengalir dengan deras makin deras mendengar mama dan neneknya masuk rumah sakit... Dengan cepat Hana merapikan pecahan beling di lantai...
Mengambil tas miliknya dan pamit pada Devan bukan meminta izin hanya pamit pada pemilik rumah...
"Tuan, saya izin keluar." setelah berbicara begitu Hana segera pergi tapi Devan menarik tangannya.
"Tuan saya mohon kali ini saja." ucap Hana sambil meletakan tangan di dada dengan penuh memohon.
Devan pria yang baik sebenarnya apalagi melihat Hana yang sudah menangis wajahnya yang sangat basah oleh air mata, mata yang sembab dengan air mata selalu ingin keluar... Devan melepas kan genggaman tangannya, Hana segera pergi dengan cepet .
Sesampainya di rumah sakit Hana segera menemui bunda Shinta dan paman Yudha nya...
"Bunda apa yang terjadi.?" tanya Hana.
"Maafin bunda." ucap bunda Shinta memeluk Hana yang baru datang...
"Ada apa, bunda.?" kata Hana yang baru datang...
"Kamu yang kuat." kata bunda Shinta.
Hana terdiam mendengar penjelasan dari Shinta bundanya itu... Hingga seorang Dokter keluar dari ruangan UGD.
"Maaf, kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan." ucap dokter lalu pergi setelah menjelaskan rinci kondisi nenek Ayu dan mama Yuli saat ini...
"Hana..." ucap seorang pria berjas putih ..
"Mas Rangga.?" kata Hana yang mengenal pria tersebut.
"Siapa yang sakit." ucap Rangga.
"Tante Yuli dan nenek aku." kata Yoga yang berdiri di sebelah mama nya...
__ADS_1
Setelah berbincang Rangga pun pamit pada keluarga Hana..
"Han... Mana suami kamu.?" ucap Yoga sedari tadi ingin
bertanya pada Hana kemana suaminya.
"A...ah... Anu tu... Tu- Tuan Devan lagi sibuk." kata Hana yang gugup sambil menggaruk garuk lehernya yang tidak gatal atau pegal.
"Sibuk.? Hana ini mama mertua dan nenek yang ada di rumah sakit." ucap Yoga emosi.
" Maaf ini salah Hana yang tidak bilang pada mereka." ucap Hana kali ini emang Hana jujur.
"Maaf aku telat." ucap Mira baru datang karena dia baru selesai mendampingi dokter praktek di polly nya. Hari ini Mira bukan sama dokter Nayla.
Kebetulan banget nenek Ayu dan mama Yuli di rawat dimana Mira dan Nayla praktek di rumah sakit KESEHATAN. Rumah sakit milik Dermawan.
"Suami kamu kemana.?" tanya Mira.
"Tuan sibuk kak." ucap Hana karena itu yang dia buat alasan pada Yoga dan yang lainnya.
...🍄🍄🍄🍄🍄...
Sementara Devan asik membaca email masuk yang dikirim oleh asisten nya... Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore semua sudah pada balik mama Tika, papa Daniel, nenek Jenni, David dan Denis serta Emba Sari tidak lupa Nayla lalu Derry suaminya.
"Anu... Nyonya, Nona tadi pergi terburu buru..." ucap embo Atun gugup.
"Kemana bi.?" ucap mama Tika lagi..
"Embo juga GK tau nyonya." kata Embo Tun, saat lagi berbicara ponsel Embo Tun berbunyi panggilan masuk tertulis nama Hana di layar ponsel Embo Tun..
"Ini nona Hana telepon." ucap Embo Tun izin mau menjawab panggilan Hana.
Sementara nona Tika menganggukkan kepala memberi izin Embo Tun menjawab panggilan Hana lalu lospeker suara nya.
"Hallo non... Non dimana.?" tanya embo Tun.
"Embo aku di rumah sakit, sampaikan ke mama dan nenek aku tidak pulang malam ini." ucap Hana.
"Siapa yang sakit Han.?" tanya mama Tika yang langsung menjawab dan mengambil ahli ponsel Embo Tun.
__ADS_1
"Mama... nenek dan ibu mereka kecelakaan." ucap Hana.
"Ya, sudah kamu jangan sedih ya besok mama akan kesana." ucap nyonya Tika mengakhiri panggilan mantunya itu...
Sementara Hana hanya menatap kosong ke depan pintu dimana nenek dan ibu nya di rawat... Air mata mengalir deras begitu saja di kedua matanya.
"Darimana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu.?" gumam Hana memikirkan biaya rumah sakit ibu dan nenek nya saat ini...
Pagi ini setelah Hana menemui dokter dan ke bagian kasir administrasi biaya perawatan nenek dan ibunya membuat Hana merasa sedih dan bingung.
"Uang dari mana aku.?" gumam Hana melihat selembar kertas yang dia pegang... Sementara Hana sangat bingung diri nya tidak bekerja.. "Ya... Tuhan bagaimana aku harus membayar semua ini.?" ucap Hana pelan.
Hana pun melangkahkan kaki nya menuju halte rumah sakit entah mau kemana Hana pergi pagi ini, setelah mencapai tempat tujuan nya Hana segera masuk... Iya Hana pergi kerumahnya mencari sebuah berkas surat rumah milik ayahnya itu...
"Maafkan Hana ayah..." ucap Hana setelah melihat map yang isinya surat sertifikat tanah rumah milik ayah ya berhasil di tebus oleh mama Tika mertuanya dari tangan kakek Yanto.
Segera Hana pergi menuju sebuah gedung yang sangat tinggi perkantoran yang terlihat banyak orang sudah sibuk masuk... Hana yang duduk di sofa menunggu tamu dengan gugup kaki yang di goyang seperti gemeter celingak celinguk melihat setiap orang masuk ke gedung itu...
"Nona, lebih baik anda tunggu di depan ruang bapak Devan." ucap satpam.
"Tidak apa apa pak saya disini saja." ucap Hana.
Iya Hana saat ini ada di gedung kantor Devan entah apa yang di lakukan Hana di kantor suaminya setelah menunggu 2 jam Hana menunggu Devan suaminya, setelah menunggu 2jam di kantor Dermawan group akhirnya Devan datang bersama asistennya Robby.
"Tuan, itu nona.." ucap Robby. Devan menoleh di mana Hana yang lagi duduk...
"Mau apa kamu kesini.?" tanya Devan yang berdiri di depan Hana...
Hana segera berdiri dan memberi hormat pada Devan...
"Pagi tuan, pagi tuan Robby." sapa Hana pada kedua pria itu.
Hana di ajak Devan ke ruangannya... Semua karyawan memberi hormat pada Devan atasnya menatap pada Hana yang mengikoti mereka, di ruangan Devan Hana hanya berdiri dengan gugup...
"Ada apa kamu kesini.?" tanya Devan.
"Tuan maaf saya menganggu anda... Saya ingin meminta tolong pada anda tuan." ucap Hana yang sangat gugup.
"Dasar wanita miskin... Tidak punya malu kamu." ucap Devan..
__ADS_1
"Kamu ingin menjual apa untuk aku, tubuh mu seperti kamu menjual ke ibu ku, apa kamu mau melayani ku.?" ucap Devan lagi.
"Saya hanya punya ini tuan." kata Hana menyerahkan map yang dia bawa.