
"Pagi..." ucap Maya lesu.
"Kenapa mata kamu May, kamu habis nangis ya.?" tanya Dinda yang sadar dengan keadaan sahabat kerjanya ini.
"Iya kak..." ucap Maya lesu.
"Kenapa.?" tanya Dinda lagi...
Maya hanya menggeleng kepalanya, Dinda tahu Maya tidak ingin bercerita jadi hanya bisa memberi semangat untuk Maya agar kuat... Emang pagi ini di tempat kerja Maya tidak semangat dan sangat lesu sekali, untung saja rekan kerjanya mengerti yang menyadari perubahan Maya.
"May... kamu keruangan saya." ucap Tia yang baru tiba...
Maya mengikuti Tia... Sesampainya di ruang kerja, Tia memberi Maya sebuah kotak nasi.
"Kamu sarapan dulu, pasti kamu belom makan kan.?" ucap Tia sambil menyerahkan sekotak nasi yang di bawanya.
"Terimakasih kak..." ucap Maya.
"Kenapa kamu tidak makan.?" kata Tia yang sadar melihat Maya hanya mendiamkan kotak itu tanpa liat isi nya...
"Aku belom lapar kak." kata Maya lagi...
"May, aku tahu kamu lagi ada masalah... Tapi kamu tidak bisa mengambil keputusan kamu hanya bisa menerimanya May." ucap Tia.
"Hiks... hiks... hiks ... Tapi kak, aku belom siap menikah apalagi aku tidak mengenal tuan Leon dengan jelas." ucap Maya menangis.
"Kamu tidak perlu mengenalnya May... Cukup kamu menjadi istrinya saja, dan dia yang akan mengenal kamu." ucap Tia..
Maya tidak mengerti maksud Tia... Tapi ucapan Tia membuat hatinya lega.
"Jadi kamu hanya bilang sama ibu kamu apa yang terjadi." ucap Tia.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi kalian tidak perlu mempersiapkan apapun." ucap Tia.
"Maksudnya kak.?" tanya Maya.
"Iya karena nenek Tika yang akan mempersiapkannya." ucap Tia.
"Kak, apa boleh aku masih kerja bila sudah menikah.?" ucap Maya.
"Kenapa harus bekerja.? kamu sudah menjadi nona muda." ucap Tia ketawa seperti meledek.
"Kak, aku serius kak, aku ingin bekerja." ucap Maya serius...
"Tentu saja, tapi saya jadi bingung harus gaji berapa untuk nona muda Leon Wijaya." ucap Tia sedikit becanda...
"Kak, aku apa boleh mengajukan 2 permintaan sama tuan muda.?" ucap Maya membuat Tia berhenti ketawa.
"2 permintaan.? sepertinya tidak boleh." ucap Tia.
"Kamu boleh mengajukan apa pun May, pada Leon bukan pada nenek Tika." ucap Tia serius.
"Benar kak.?" ucap Maya senang yang tadi sedih berubah senang.
Tia menganggukkan kepalanya bahwa itu serius, kali ini dirinya tidak bercanda. Maya yang melihatnya sangat senang sehingga lupa akan ketakutannya menikah dengan Leon... Entah apa yang nak di minta oleh Maya ke Leon...
Hari berlalu Maya yang sudah bekerja 1 bulan di tempat Tia... dan sudah satu Minggu yang di sepakati nenek Tika 2 Minggu untuk memberi waktu Maya berbicara pada ibu nya.
"Bu... Apa boleh Maya masuk.?" ucap Maya yang melihat ibunya sedang menyusun baju di lemari bajunya yang baru saja di lipatnya...
"Masuklah nak..." ucap ibu, ibu Maya yang bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah tugasnya hanya memasak saja di rumah itu.
"Ibu pasti capek hari ini." ucap Maya lagi...
__ADS_1
"Sayang, kamu ada apa.?" ucap ibu Erika, ya Erika nama ibu Maya.
"Bu, kalau Maya menikah apa ibu setuju...? Eh bukan itu maksud Maya, bila ada yang ingin melamar Maya bagaimana menurut ibu.?" tanya Maya.
"Hahaha... kamu lucu, setiap ibu selalu senang melihat anak gadisnya menikah dengan pria yang di cintai nya, asalkan pria itu juga menyayangi anak perempuannya." ucap ibu Erika.
"Kenap, kamu mau nikah.? tapi pacar saja belom punya." ucap ibu Erika.
"Cari dulu pria yang membuat kamu bahagia baru kamu boleh menikah." ucap ibu Erika ..
"Bu, kalau baru kenal 1 bulan apa boleh menikah.?" ucap Maya lagi.
Ibu Erika yang terdiam, menatap putrinya terlihat Maya yang serius dengan pertanyaannya terpancar di wajahnya...
"Apa kamu sudah hamil.?" ucap ibu Erika.
"Ibu, tidak aku tidak hamil." ucap Maya.
"Lalu, kenapa kamu ingin menikah sebelum mengenalkan pria itu paa ibu... Bila pria itu tidak punya nyali bertemu dengan ibu, kamu tidak boleh menikah pada nya..." ucap ibu Erika.
"Nanti nenek dan orang tuanya yang akan menemui ibu.?" ucap Maya.
"Apa.? Kenapa harus nenek dan orang tua nya.? lelaki itu kenapa tidak menemui ibu.?" ucap ibu Erika bingung.
"Mungkin dia akan ikut Bu." ucap Maya lagi...
"May, apa yang terjadi kamu membuat ibu bingung." ucap ibu Erika.
"Maya juga bingung Bu, Maya juga takut Bu..."Ucap Maya menangis di pangkuan ibu nya. Sementara ibu yang hanya mengusap pala Maya, terlihat jelas putrinya terlihat sekali kesedihan, kebingungan serta ketakutan di wajah putrinya itu.
Ibu Erika memberi waktu untuk putrinya menangis sampai akhirnya putri nya mau menceritakan semuanya.
__ADS_1