Siapa Aku, Lihat Aku.?

Siapa Aku, Lihat Aku.?
bab 49...


__ADS_3

Akhirnya pekerjaan Leon selesai, aku langsung mengekor di belakangnya hampir saja aku tertidur menunggu nya... Leon tidak ada berbicara pada ku dia hanya diam dan berjalan tidak ada pedulinya pada ku yang sedang hamil...


bruk... Aku menabrak seseorang...


"Maaf nona." ucap official boy yang lagi membawa sebuah tentengan plastik.


"Tidak apa apa mas... Saya juga minta maaf karena terburu buru." ucap ku lalu pergi meninggalkan pelayan itu.


Leon yang berdiri di depan lift hampir saja aku tertinggal lift yang memang khusus untuk nya makanya lift tersebut tidak perlu menunggu.


Aku Mengatur napas ku, dan menjamah perutku Leon melihatnya... Sekarang aku putuskan aku tidak akan cepat untuk menyeimbangkan langkahnya.


Di depan lobby saat kami tiba mobil Leon pun sudah di antar oleh seorang satpam... Aku masuk walau Leon belom mempersilakan aku.... Dia yang melihat aku mengatur napas karena sekarang aku lagi hamil. Tapi Leon benar tidak peduli pada anak ini.


"Tuan bisa berhenti sebentar..." ucapku padanya... Setelah tak jauh kami keluar dari kantornya aku melihat seorang menjual tahu gejrot.


Leon menepikan mobilnya aku segera turun dan membeli tahu gejrot tersebut...Aku tidak tahu ekspresi Leon sekarang karena aku langsung turun.


"Kamu jangan makan di mobil ku." ucap nya... Aku mengerti tapi jujur aku sudah tidak tahan ingin memakannya.


"Tuan bisa anda pelan pelan jalannya.?" ucap ku..


"Perut ku." ucap ku lagi, Leon akhirnya memperlambat langkahnya... Kami sudah sampai pelayan pun mengarahkan kami di mana nenek dan mama Hana menunggu.

__ADS_1


Saat aku masuk pelayan mengantarkan makanan yang sudah dipesan oleh mama Hana dan nenek Tika... Aku senang rasanya perutku sudah lapar sekali...


"Saya apa semua cocok dengan kamu,?" ucap nenek Tika.


"Cocok nek, terimakasih." ucap ku duduk...


"Tapi apa boleh aku makan ini dulu nek?" ucap ku membuka tahu gejrot yang tadi aku bawa.


"Kamu membeli ini dimana sayang.?" ucap nenek Tika.


"Di pinggir jalan tadi menuju ke sini nek." ucap ku.


"Leon kamu membiarkan istrimu makan ini.?" ucap nenek Tika.


"Sayang biar pelayan di rumah yang buatkan untuk kamu." ucap nenek.


"Tapi nek..." ucap ku.


"Sudah mah biarkan saja, lain kali kamu mau apa bilang sama kami ya atau sama Leon." ucap mama Hana.


Aku pulang bersama Leon tapi kami singgah ke apartemen yang akan kita tinggalkan Minggu depan... apartemen lantai lumayan tinggi yang di pilih Leon... Hanya ada 3 kamar 1 kamar kecil mungkin itu kamar pembantu.


Aku melihat ada 3 kamar 1 kamar kecil mungkin buat pembantu, 2 kamar yang berhadapan...

__ADS_1



Ini hanya contoh dan perkiraan saja....


"Kamar Mun nanti yang ini..." ucap Leon membuka pintu kamar pembantu..


"Iya tuan... Terimakasih." ucap Maya.


" Jadi apa tuan akan mengambil yang ini.? " ucap marketing apartemen..


"Iya, tolong saya siapkan apa yang tadi saya sebut ." ucap Leon lalu pergi...


"Baik tuan." ucap marketing itu.


Maya hanya diam, diri nya sudah tidak ada tenaga untuk berdebat dengan Leon. Sebenarnya Maya ingin protes kenapa iya di suruh ke kamar pembantu.. Bukan Maya mau menolak hanya apa seperti itu Leon menganggap dirinya pelayan.


Saat di perjalanan Maya meminta Leon berhentikan mobil nya lagi menepi di tepi jalan...


"Tuan, bisa berhenti aku mau bubur ayam itu." ucap Maya.


"Aku akan tinggal kamu." ucap Leon.


Maya membatalkan niatnya membeli bubur ayam...

__ADS_1


__ADS_2