
Pagi - Pagi sekali mama Tika dan papa Daniel sudah pergi ke bandara Hana hanya mengantar nya sampai depan pintu rumah, tidak lupa Hana pamit untuk kerumah bunda Shinta nanti.
Jam pun menunjukan jam 9 pagi Hana sudah selesai beberes atau rapi rapi di rumah itu, Hana izin pada embok Atun untuk pergi ke rumah bunda Shinta beberapa hari.
"Embo, saya pamit ya mau ke rumah bunda." ucap Hana.
"Iya non, apa tuan muda sudah tau.?" tanya embo tun.
"Nanti saya kabarin mbok." ucap Hana, pamit karena ojek online yang di pesan Hana sudah tiba.
Tidak butuh lama Hana tiba di rumah bunda Shinta, hatinya sangat senang melihat rumah cat orange dengan taman kecil... Setelah membayar ojek online segera Hana masuk ke dalam..
Di rumah hanya ada paman, kak Mira ikot suaminya tugas di luar kota, yoga anak kedua bunda Shinta pergi merantau karena perusahaan cabang di mana Bang Yoga bekerja kekurangan karyawan terpaksa Yoga di oper kesana.
Tok... Tok... Bunda.. Bunda... ucap Hana sambil mengetuk pintu.
Ceklek... suara pintu di buka.
"Hana kamu nak.? " ucap bunda Shinta senang.
"Iya bunda." ucap Hana menyalami tangan bunda.
"Kamu sama siapa.? Kamu sendiri kesini.?" ucap bunda Shinta.
"Iya, tadi Devan mau antar tapi Hana tolak Bun." ucap Hana berbohong pada bunda Shinta.
"Yasudah yuk kita masuk bunda lagi buat kue." ucap bunda Shinta.
"Bunda kenapa tidak istirahat.?" tanya Hana.
"Pasti kak Mira kamu sudah beri tahu ya.?" ucap bunda Shinta.
__ADS_1
"Iya, bunda kenapa tidak beritahu aku.?" tanya Hana.
"Bunda, tidak ingin kamu khawatir sayang... Kak Mira juga waktu itu karena telepon paman dan paman yang beritahu." ucap bunda Shinta menjelaskan.
"Ya sudah bunda istirahat biar Hana yang kerjakan semua ya." ucap Hana.
"Kamu kan baru datang... Biar bunda saja." ucap bunda Shinta.
"Bunda..." ucap Hana.
"Ok... Ok... bunda istirahat... Kamu jangan terlalu capek ya ?" ucap bunda Shinta lalu pergi ke kamarnya.
Sementara Devan di kantor yang sibuk dengan pekerjaannya serta beberapa map di meja kerjanya yang di beri oleh sekertaris nya... Sampai sampai hampir kelupaan untuk makan siang, Robby datang mengajaknya makan siang... Robby ikot sibuk juga tapi cacing di perutnya tidak lupa untuk makan.
"Tuan muda, kita makan siang baru lanjut lagi." ucap Robby.
"Kayaknya kita harus ke kota X semua kacau." ucap Devan.
"Perut ku juga sudah kacau di demo cacing ku." ucap Robby.
"Tuan, kita makan siomay." ucap Robby.
"Bukan kamu lapar.?" ucap Devan yang masih sibuk dengan layar ponselnya.
"Siomay yang dari nona sangat enak dan aku mau lagi rasanya." Devan menoleh ke Robby mengernyitkan dahinya.
"Atau kita makan di rumah anda, siapa tau nona muda ada masak sesuatu.?" ucap Robby tanpa dosa.
"Terserah kamu..." ucap Devan pasrah dia juga tidak tau kenapa mau pulang karena semalam tidak pulang ke rumah.
Sesampai di rumah Devan merasa heran rumah tampak sepi seperti tidak ada kehidupan, Devan datang hanya di sambut oleh pelayan yang bernama Juni..
__ADS_1
"Kemana yang lain?" tanya Deva.
"Mbok Tun lagi di atas tuan." ucap Juni.
"Saya tidak tanya Mbok Tun." ucap Devan sedikit marah.
"Maaf tuan." Juni langsung pergi di rumah hanya ada pelayan.
"Siang tuan, apa anda mau makan siang di rumah.?" ucap pelayan bernama Ratih." ucap Bi Ratih yang menghampiri tuan muda nya...
Robby hanya geleng geleng kepalanya...
"BI kemana nona.?" ucap Robby mewakili Devan karena Robby tahu pasti Devan ingin menanyakan kemana istrinya tapi gengsi pada pelayan.
"Ooh... Nona muda pergi tadi pagi setelah nyonya dan tuan besar pergi ke bandara tuan." ucap Bi Ratih.
"Kemana bi.?" tanya Devan reflek. Robby hanya senyum.
"Bibi hanya dengar katanya mau ke rumah bundanya tuan." ucap bibi Ratih.
"Yasudah bi, siapkan makan siang buat kita." ucap Robby.
Hp Devan berbunyi tanda notifikasi ponselnya bahwa pesan masuk...
"Tuan, saya Hana... Saya izin untuk beberapa hari tinggal di rumah bunda, terimakasih tuan." isi pesan Hana karena tahu kalo Devan juga tidak akan merespon pesannya.
setelah membaca pesan dari Hana Devan memasukan ponselnya lagi di saku jasnya.
"Ini tuan." Robby menyerahkan selembar kertas pada Devan.
"Ini alamat rumah nona muda." ucap Robby lagi.
__ADS_1
Devan melototi asistennya sekaligus temen nya ini kenapa tahu apa isi hatinya...Karena gengsi Devan membuangnya.
"Saya sudah kirim." Robby tidak menyerah dia mengirim alamat Hanan di ponsel Devan... sebenarnya Devan senang mendapat alamat Hana.