
Pukul 1:00 siang.
Setelah jam pelajaran kampus selesai, dosen yang mengajar pun sudah keluar, dan Saila sudah siap – siap untuk beranjak dari tempat duduknya, tiba – tiba saja ponselnya berbunyi.
Ia melihat nomor baru yang menghubunginya tadi malam, yang mengajak Saila bertemu di Restoran depan kampusnya. Ia angkatlah nomor baru itu.
“Halo!”
“Saila ... aku sudah berada di Restoran. Apa kau sudah selesai kuliah?” tanya Ben di balik telfon.
“Sebenarnya Anda mendapatkan nomorku darimana. Sejak tadi malam Anda terus menghubungiku, menyuruhku bertemu di depan kampus?” tanya Saila merasa risih dengan Ben yang terus menghubunginya sejak semalam.
“Saila ... kalau kau merasa takut untuk bertemu. Kau bisa membawa seorang teman untuk menemanimu! Bagaimana?” tanya Ben tanpa menanggapi pertanyaan Saila tadi.
“Aku sudah bilang tadi malam kalau aku tidak mau bertemu dengan siapapun!” tegas Saila tak mau bertemu dengan Ben.
“Aku mohon. Ini pertama dan terakhir. Ini sangat penting. Dia ingin bicara sebentar denganmu. Setelah ini, itu terserah padamu kalau kau tidak mau bertemu lagi. Please, Saila!” Terdengar suara Ben yang memohon pada Saila.
"Aku tidak mau. Katakan saja pada teman om kalau aku tidak mau bertemu." Saila terus menolak untuk bertemu. Baginya tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.
"Kau memanggilku dengan sebutan om," ucap Ben di balik telfon.
"Lalu aku harus memanggil apa. Anda bilang kita pernah bertemu di Restoran waktu itu. Aku lihat kalau umur Anda jauh di atasku. Demi menghargai Anda, aku harus memanggil Anda dengan sebutan yang pantas, bukan?"
"Baiklah terserah padamu. Tapi aku tidak akan berhenti menghubungimu sebelum kamu setuju untuk bertemu dengan Leon," ucap Ben di balik telfon, memaksa Saila untuk bertemu dengan Leon.
Saila menghela nafasnya dengan kasar. “Baiklah. Aku setuju untuk bertemu. Tapi katakan pada teman om. Jangan macam - macam lagi. Aku akan melaporkannya ke polisi kalau sampai berani menyentuhku!" Ancam Saila.
"Oke ... Saila," balas Ben.
"Aku akan kesana sekarang!”
Saila pun menutup telfonnya.
"Ya tuhan. Aku harus bertemu kembali dengan lelaki itu." Gumamnya.
Saila kemudian melangkah keluar dari kelasnya. Ia berjalan sendiri tanpa meminta Riana menemaninya, karena memang pada saat itu, Riana sudah tidak berada di kampusnya setelah selesai dengan jadwal pelajarannya tadi.
Saila berjalan menuju sebuah Restoran yang letaknya tak begitu jauh dari kampusnya. Saat sampai di depan Restoran, Saila langsung masuk ke sana, dan sudah melihat seorang pria berdiri di depan sebuah meja Restoran, menatapnya sambil tersenyum.
Kondisi Restoran pada waktu itu terlihat sepi, tidak terlalu ramai, namun Saila merasa tidak takut untuk berhadapan dengan lelaki yang berdiri menatapnya dengan senyuman. Toh...dia tidak punya apa – apa lagi untuk bisa dilindungi sekarang?
__ADS_1
Saila berjalan cepat menghampiri lelaki itu yang merupakan Leon. Sejak tadi Leon sudah menunggu dirinya di sana bersama Ben sahabatnya.
Saat Saila sampai di depan mereka berdua, ia berdiri sejenak menatap Ben dan Leon disana, kemudian bicara pada Leon.
“Apa yang ingin dibicarakan?” tanya Saila sambil melihat Leon.
“Sebaiknya aku pergi dulu. Bicara lah baik – baik," sahut Ben sambil menepuk - nepuk bahu Leon.
Leon hanya mengangguk sambil tersenyum melihat sahabatnya.
Ben pun berjalan meninggalkan mereka berdua, sedangkan Saila dan Leon masih berdiri di sana saling bertatapan.
Sesaat setelah Ben pergi, Leon berjalan ke arah Saila dan menarik kursi untuk Saila.
“Duduklah!” Pinta Leon sambil tersenyum melihat Saila.
Saila tampak risih melihat lelaki yang ia benci itu tiba – tiba bersikap baik padanya. Tidak seperti kemarin yang terus memaksanya melakukan hal yang tidak ia inginkan. Ia hanya berdiri menatap Leon tanpa mau duduk di kursi yang sudah di tarik Leon.
“Ayo duduk!” Leon kembali menyuruh Saila duduk saat Saila hanya berdiri menatapnya.
Saila pun duduk di sana dengan perasaan tidak nyamannya itu. Diikuti Leon yang juga duduk di depannya sesaat setelah ia duduk.
Leon kembali bicara di depan Saila yang saat itu melihatnya dengan tatapan tak suka padanya.
Saila masih diam membisu. Leon tak berhenti sampai di situ, ia kembali bertanya pada Saila.
“Kau suka makan apa, biar aku pesankan?” tanya Leon.
“Aku datang ke sini bukan untuk makan,” jawab Saila dengan ekspresi tak sukanya melihat Leon yang terus bertanya padanya.
“Saila ... santai saja. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin bicara baik – baik denganmu,” jawab Leon.
“Silahkan, kalau tuan mau bicara penting. Tapi, aku tidak suka orang asing memperhatikanku. Tolong bersikaplah seperti orang asing!” kata Saila dengan serius menatap Leon, memberi pengertian pada Leon kalau Leon seharusnya bersikap seperti orang asing.
Leon menghela nafasnya dengan pelan. “Oke ... aku langsung saja. Aku mengajakmu bertemu karena ingin bicara tentang kejadian yang kulakukan padamu waktu itu. Aku mau minta maaf, karena sudah memperlakukanmu seperti itu, tanpa mencari tahu yang sebenarnya. Aku sungguh menyesal sudah melakukannya. tolong maafkan aku!” ucap Leon dengan serius melihat Saila.
Saila menundukkan kepalanya sejenak sambil memejamkan matanya. Rasanya ia masih belum terima perlakuan Leon padanya, namun lelaki itu berusaha bertemu dengannya dan meminta maaf secara langsung. Apalagi ia tidak ingin berurusan lagi dengan lelaki yang sudah membuatnya hancur.
Saila pun mengangkat kepalanya, melihat Leon. “Kalau tuan meminta maaf dengan tulus, aku maafkan. Aku hanya berharap kalau kita tidak akan bertemu kembali,” balas Saila.
Meskipun ia masih sakit hati, namun ia akan tetap menerima permintaan maaf dari Leon. Toh semuanya sudah terjadi. Tidak akan bisa di kembalikan seperti semula. Saila hanya berharap untuk tidak bertemu lagi dengan Leon, apalagi ia sudah berencana untuk ke luar negri.
__ADS_1
Leon kembali bicara. "Saila ... aku mengajakmu bertemu bukan hanya untuk minta maaf, tapi aku juga ingin bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah kulakukan untukmu," jelasnya.
"Kenapa Anda mau bertanggung jawab?" tanya Saila.
"Karena aku sudah menodaimu. Perbuatan yang seharusnya tidak kulakukan padamu, harus kupertanggung jawabkan Saila," jawab Leon.
"Maksud Anda, Anda mau menikahiku. Begitu," Mengerutkan keningnya menatap Leon.
"Iya ... ." balas Leon.
"Maaf tuan. Masalah pernikahan tidak bisa dianggap main - main. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang baru ku kenal. Dan aku juga tahu kalau tuan membicarakan ini karena merasa bersalah bukan. Anda tenang saja. Aku wanita yang terbuka. Aku tidak akan permasalahkan masalah itu lagi. Aku hanya berharap kita tidak pernah bertemu lagi!" jelas Saila dengan tegas.
Saila langsung berdiri dari tempatnya setelah mengatakan semuanya. Ia merasa tidak penting membahas masalah itu dengan lelaki yang baru tiga kali ia temui.
"Kalau tidak ada lagi yang mau di bahas. Aku permisi." Pamitnya. Ia kemudian membalikkan badannya membelakangi Leon untuk pergi dari sana.
Leon langsung berdiri. "Saila ... tunggu sebentar."
Saila menoleh melihat Leon. "Ada apa?" tanya Saila.
"Aku tahu pernikahan itu bukan hal yang main - main. Aku benar - benar serius mengatakannya. Aku harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang sudah kulakukan," ucap Leon.
Saila menatap Leon dengan serius. "Apa Anda akan menikahi setiap gadis yang Anda tiduri?" tanya Saila.
Leon tampak diam dengan pertanyaan Saila. Tak tahu harus mengatakan apa.
Saila kembali bicara. "Anda tidak mungkin melakukannya, bukan. Jadi saya mohon, jangan mengatakan itu padaku atau pun setiap gadis yang Anda tiduri!" ucap Saila dengan tegas.
Saila kembali melangkah pergi meninggalkan Leon yang masih diam membisu. Saat itu, Leon bingung harus menjawab apa di depan gadis itu. Ia malu mengatakan pada Saila kalau Saila adalah wanita pertama yang ia tiduri.
.
.
.
.
Bersambung
.
__ADS_1
.