
Leon terlihat kesal mendengar ucapan Ben. Ia menatap tajam Ben kemudian berkata: “Apa kau bilang? Kau mau menggantikanku. Apa kau benar – benar mau merasakan pukulanku ya?”
“Yaaaaaa ... mau bagaimana lagi? Kau, kan terlihat tidak bisa naik, dan aku juga sama denganmu, merindukan Saila. Aku juga mau bertemu dengannya, jadi kalau kau tidak bisa naik, biar aku saja yang menggantikanmu!” kata Ben menatap serius Leon. Ia sengaja menggoda sahabatnya, namun tetap saja kata – kata yang diucapkannya itu dari dalam lubuk hatinya.
“Aduh ... diamlah! Jangan bertengkar disini. Kalau ayah dengar atau pengawal rumah dengar bisa gawat. Kak Leon, cepatlah naik. Tidak usah hiraukan kami disini. Kau tidak akan jatuh, aku dan Kak Ben akan memegang erat tangganya disini!” sahut Sila menatap mereka secara bergantian.
Saat itu, Leon ingin membalas ucapan Ben. Ia baru saja mau menggerakkan bibirnya untuk bicara, namun terhenti ketika Sila mulai bicara, dan ia memilih diam mendengarkan ocehan Sila, begitu juga dengan Ben yang seketika diam disana.
Leon pun kembali naik ke atas untuk menemui istrinya, sedangkan Ben dan Sila terus memegang tangga yang dinaiki Leon.
Setelah sampai di atas, Leon langsung melompat ke teras kamar Saila. Saila yang tengah berbaring di tempat tidurnya terkejut mendengar suara kaki Leon yang melompat di teras kamarnya. Ia segera turun dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menghampiri jendela kamarnya.
“Mas Leon!” Ia sangat terkejut ketika melihat Leon berdiri di depan pintu kaca teras kamarnya.
“Sayang, aku datang. Cepat buka jendelanya!” pinta Leon.
Saila terdiam sejenak melihat Leon di sana. Pikirnya kalau ia sekarang sedang bermimpi.
“Saila, ini aku, suamimu. Buka jendelanya sayang!” pinta Leon sambil menggedor gedor pintu kaca yang membatasi dirinya dan Saila.
Saila seketika sadar mendengar suara ketukan dari Leon. Ia segera berlari menghampiri Leon dan langsung membuka pintu kaca teras kamarnya itu.
Saat pintunya terbuka, Leon langsung memeluk erat istrinya sambil memejamkan matanya, merasakan aroma khas Saila, mencium bau harum rambut istrinya yang selama beberapa hari ini ia rindukan.
“Mas Leon, kenapa kau bisa ada disini?” tanya Saila yang saat itu ikut memeluk erat suaminya, merasakan kehangatan pelukan Leon.
Leon melepaskan pelukannya, kemudian menghujani istrinya dengan ciuman di seluruh wajahnya dengan lembut.
“Emmuach ... emmuach ... emmuach!”
“Mas Leon, apa yang kau lakukan? Cepat hentikan!” kata Saila.
Leon menghentikan aksinya, kemudian menatap istrinya dalam - dalam.
“Aku merindukanmu sampai aku mau mati rasanya!” kata Leon sambil tersenyum bahagia melihat Saila di depan matanya.
“Iya, tapi aku tidak bisa bernafas kalau kau berbuat begitu tadi,” keluh Saila.
“Maaf sayang, aku benar – benar sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?” tanya Leon menatap sedih istrinya yang pikirnya kalau Saila tidak sama dengannya.
Saila tersenyum manis, kemudian berjinjit untuk memegang kedua pipi lelaki yang jauh lebih tinggi darinya itu.
“Siapa yang bilang aku tidak merindukan Mas Leon? Aku sangat ... sangat ... sangat ... merindukan Mas Leon!” kata Saila dengan ekspresi bahagianya di depan Leon.
Seketika Leon melingkarkan kedua tangannya di pinggang Saila, memeluk tubuh mungil Saila, kemudian menariknya menempel di tubuhnya sampai tidak ada celah antara dirinya dan Saila.
“Maaf ya, aku baru bisa menemuimu sekarang. Sebenarnya, aku tidak pernah berhenti datang ke mari untuk menemuimu. Hanya saja , ayah masih belum bisa memaafkanku, jadi terpaksa aku lewat belakang agar aku bisa menemuimu!” jelas Leon sambil mengusap – usap atas kepala istrinya dengan lembut diiringi senyum hangat yang ditunjukkan di depan Saila.
“Tidak apa – apa Mas Leon. Sekarang aku sangat bahagia bisa melihat Mas Leon sampai jantungku sendiri berdetak cepat. Kalau Mas Leon mau pulang, bawa aku juga ya. Aku bosan tinggal disini. Aku mau tinggal sama Mas Leon!” pinta Saila. Wajahnya yang tadi bahagia berubah jadi sedih.
Leon menghela nafasnya melihat Saila, kemudian menggendong tubuh Saila sampai ke arah tempat tidurnya. Ia duduk di tepi tidur Saila sambil memeluk Saila di pangkuannya.
Ia memegang pipi Saila, menatap Saila sambil tersenyum yang ada di pangkuannya saat itu.
__ADS_1
“Aku janji, aku pasti membawamu pulang, tapi bukan sekarang Saila!”
“Kapan? Kenapa bukan sekarang kita pergi?"
"Ayah masih belum mengijinkanku membawamu, Saila. Tunggu sebentar lagi ya!" jawab Leon.
"Makanya kita lewat jendela, seperti yang Mas Leon lakukan tadi. Dan masalah Ayah, aku tahu kok kalau ayah masih tidak menyetujui Mas Leon datang kesini. Ayah itu sangat keras kepala. Ayah masih tidak mau membiarkanku keluar bertemu Mas Leon!” kata Saila mengeluh sambil menatap Leon dengan tatapan sedihnya itu.
“Saila ... bagaimana pun juga dia masih orang tua kita. Kalau kita mau bahagia, tentu saja harus mendapatkan restu darinya. Jadi, kau tinggal duduk manis disini, menungguku datang. Aku pasti membawamu kembali dengan persetujuan ayah dan ibu. Kau percaya padaku, kan?” kata Leon memberi pengertian pada istrinya.
Saila seketika menangis di depan suaminya, ia hanya bisa mengangguk dengan air mata yang jatuh di pipinya itu.
Leon yang melihat Saila menangis, langsung menghapus air mata di pipi istrinya, kemudian berkata: “Hai, kenapa kau menangis? Kau harus tersenyum dong. Kalau kau menangis, bagaimana kita bisa bahagia?”
Ia terus tersenyum menatap istrinya disana.
Setelah mendengar ucapan Leon, Saila langsung memeluk erat suaminya. Pelukannya sangat erat seakan ia tidak mau melepaskan Leon dari genggamannya.
“Sayang, aku tidak bisa bernafas. Longgarkan sedikit tanganmu!” pinta Leon.
“Tidak mau!” kata Saila menolak dan ia semakin mempererat pelukannya pada Leon.
“Iya Saila, tapi suamimu ini mau ciuman darimu. Lepaskan tanganmu dong, dan cium aku!” pinta Leon kembali.
Saila pun melepaskan pelukannya dari Leon, kemudian mencium pipi dan bibir suaminya secara bergantian.
Ia kembali melepaskan ciumannya dan menatap Leon kembali.
“Sailaku sudah jadi gadis pintar ya. Kau langsung lakukan semua yang aku katakan!” ucap Leon sambil tersenyum.
“Tentu saja!” balas Saila.
Leon terlihat masih belum puas menerima ciuman dari istrinya. Ia pun menarik kepala Saila, kemudian mencium bibir Saila dengan lembut, memasukkan lidahnya ke bibir Saila sampai lidahnya menyentuh lidah Saila, melu😘matnya dengan lembut dan mesra.
Sementara Ben dan Sila yang membantunya tadi, masih berada di bawah menunggunya untuk turun. Mereka berdua berjongkok di sana seperti orang bodoh.
“Kapan sih Kak Leon akan turun? Aku sudah lelah menunggunya disini!” keluh Sila.
“Tunggu sampai berjam – jam. Dia sedang membuatkanmu keponakan kembar!” balas Ben melirik Sila.
“Apa? Berjam - jam katamu!” balas Sila terkejut.
Ben menoleh saat mendengar suara Sila yang terkejut, kemudian berkata: “Kenapa kau terkejut begitu. Memang apa lagi yang akan dilakukan suami istri kalau bukan itu?”
“Maksudku bukan itu, tapi apa aku harus menunggunya disini sampai berjam – jam, yang benar saja dong. Aku membantunya untuk bertemu Saila sebentar, bukan membantunya begitu. Kalau lama – lama disini, kita bisa ketahuan ayah dan ibu!” jelas Sila.
“Haiss ... kalau aku yang menggantikannya tadi, aku pasti akan menyelesaikannya dengan cepat!” kata Ben kembali bercanda di depan Sila, namun wajahnya terlihat serius di sana.
“Apa sih yang Kak Ben katakan? Tidak jelas!” ucap Sila kesal.
“Apanya yang tidak jelas? Kau mendengarnya dengan jelas tadi, kan?” kata Ben menatap Sila dengan serius.
Sila langsung menatap tajam Ben, kemudian berkata: “Kak Ben suka sama Saila ya?”
__ADS_1
“Tentu saja. Memangnya tidak boleh kalau aku suka padanya. Jatuh cinta itu tidak dilarang, kan?” kata Ben dengan serius.
“Kau sadar tidak, kalau Saila sudah menikah sama Kak Leon. Hentikanlah pikiran kotormu itu!” kata Sila dengan serius memperingati Ben.
“Sila ... aku, kan tidak bilang mau merebut Saila. Aku hanya bilang suka padanya. Apa kau bisa membedakan antara suka dan merebut? Memangnya salah. Dia gadis yang langkah. Kalau Leon tidak bisa mendapatkan restu dari ayahmu yang kejam itu, aku yang akan menggantikannya!”
"Terserah deh. Aku tidak peduli apa yang kau katakan," balas Sila dengan wajahnya yang sudah kesal dengan Ben.
Ben kembali bicara. "Hai ... Aku penasaran denganmu. Kenapa kau bersedia membantu Leon. Dari yang kulihat kalau kau masih suka padanya?" tanya Ben yang penasaran dengan jalan pikiran Sila.
"Tentu saja karena aku menyayangi mereka berdua, memangnya apa lagi?" jawab Sila.
"Oh ya, tapi yang kulihat tidak begitu. Kau masih tidak rela melepas Leon. Gimana kalau kita memisahkan mereka. Kau bisa bersama Leon dan aku bisa sama Saila?" kata Ben yang kembali bercanda di depan Sila.
"Apa sih?" kata Sila kesal.
"Jangan marah begitu. Aku hanya bercanda, Sila, supaya kau tidak bosan!"
Sila tidak lagi menjawab ucapan Ben yang menurutnya tak masuk akal dan tidak jelas itu. Ia tidak mau lagi melanjutkan obrolannya dan lebih memilih diam memalingkan wajahnya tanpa mau melihat ke arah Ben.
Dan ditengah – tengah obrolan mereka, seseorang berjalan mendekati mereka. Mendengar mereka yang mengobrol tadi mendatangkan bahaya untuk mereka sendiri.
.
.
Bersambung.
.
.
Aku sengaja up date lebih cepat dari waktunya karena banyak yang penasaran, tapi eh tapi mungkin aku gak up tengah malam ya😂😥Kasihanilah aku yang rempong ini🤧. sibuk banget di RL.
Dan Ada yang minta visual Ben. jadi aku masukin ya. sebenarnya sih mau masukin sama karakter yang lain pas episode terakhir tapi ada yang sudah tidak sabar kayaknya.
.
.
INI BEN YA SAYANG2KU. ORANGNYA SUKA SEKALI BERCANDA.
__ADS_1