
Saat ini, Leon dan Saila tengah berada di dalam mobil menuju kampus Saila. Mulai hari ini Leon akan mengantar jemput Saila ke kampus tanpa di temani lagi oleh supir pribadi Saila. Itu semua atas permintaan dari Leon. Tentu saja Saila menuruti suaminya.
Dan kini Saila duduk diam menatap jendela kaca mobil, melihat jalan yang ia lewati sambil memikirkan tentang Alexa. Meskipun Saila merasa kalau masalah pribadi Leon tidak penting atau pun merasa tidak berhak tahu masalah pribadi Leon, namun kedatangan Alexa membuatnya sangat penasaran dan terganggu tentang siapa sebenarnya Alexa?
Saila tidak mau menanyakan Alexa pada Leon, karena ia tidak mau ikut campur hubungan pribadi Leon. Itu semua karena Saila berpikir, kalau Leon bukan lah lelaki yang ia cintai, tidak pantas baginya menanyakan hal itu. Saila lebih memilih diam dengan rasa penasarannya.
Sementara Leon sejak tadi melirik istrinya. Leon ikut penasaran, namun ia penasaran tentang apa yang ada di dalam hati Saila sekarang, setelah melihat hubungannya dengan Alexa.
Kenapa Saila tidak bertanya padanya? Segitu tidak pedulinya kah, Saila pada dirinya. Namun, karena Leon tidak sabaran tentang rasa penasarannya itu, ia pun menggerakkan bibirnya untuk bicara pada Saila.
“Saila ... .” Panggilnya pada Saila.
Saila menoleh ke samping melihat suaminya. “Ya, Mas,” jawab Saila.
Leon kembali melihat lurus ke depan. “Alexa itu hanya sekertarisku. Dia bukan siapa – siapa bagiku,” jelas Leon tanpa melihat istrinya.
Itu karena ia merasa malu menatap langsung mata Saila ketika ia menjelaskan hubungannya dengan Alexa. Namun bola matanya tetap bergerak melirik Saila yang saat itu melihatnya bicara.
“Kenapa Mas Leon menjelaskan padaku tentang wanita tadi. Itu kan terserah Mas Leon mau berhubungan dengan siapa?” tanya Saila mengerutkan keningnya melihat suaminya. Meskipun ia penasaran siapa Alexa, namun ia merasa bingung ketika Leon menjelaskan hubungannya dengan Alexa.
Leon menghela nafasnya saat mendengar ucapan Saila, kemudian menjawab ucapan istrinya, “Bukannya kita sudah menikah. Tentu saja aku harus menjelaskan padamu setiap orang yang dekat denganku, supaya kau tidak salah paham.”
“Tidak apa – apa, Mas. Kita kan hanya menikah karena aku hamil, dan karena Mas Leon mau bertanggung jawab sama janin yang ku kandung ini. Tidak lebih dari itu, kan,” ucap Saila.
Leon menoleh. “Saila ... apa kau masih belum mengerti tentang yang kukatakan tempo hari. Meskipun kita hanya menikah karena keadaan, tapi hubungan pernikahan harus tetap di jaga, kan.” Kembali melihat ke depan. “Dan selama kita menikah, kita hanya perlu saling menghargai satu sama lain. Sekarang aku menjelaskanmu tentang Alexa, karena aku menghargaimu sebagai istriku. Begitu juga denganmu. Kalau kau punya teman lelaki seperti aku dan Alexa, kau harus menjelaskannya padaku. Siapa dia? Apa hubunganmu dengannya? Dan tentu saja, aku tidak suka kalau dalam keadaan kita masih suami istri ada perselingkuhan. Karena meskipun kita menikah bukan karena cinta. Tapi pernikahan ini sudah terjadi. Kau harus menghargai orang yang sudah menjadi suamimu, begitu juga denganku. Benar kan,” jelas Leon dengan panjang lebar. Saat itu, Leon sesekali melihat Saila dan melihat ke depan secara bergantian.
Leon mengatakan itu semua pada Saila untuk membuatnya mengerti tentang hubungan Saila yang sudah punya ikatan pernikahan dengannya. Saila tidak boleh berhubungan dengan seorang pria manapun selama Saila berstatus istrinya.
“Jadi ... maksud Mas Leon, selama kita menikah. Mas Leon dan aku tidak akan punya hubungan dengan siapapun, begitu?” tanya Saila serius.
“Iya,” jawab Leon
“Dan sampai kita pisah nanti, kita akan tetap berakting sepasang suami istri yang bahagia, begitu,” kata Saila.
__ADS_1
“Lalu, kau mau seperti apa? Apa kau berniat mau menjalin hubungan dengan laki – laki yang bernama Zidan itu?” tanya Leon mengerutkan keningnya melihat Saila. Wajahnya mulai kesal ketika mendengar kata – kata istrinya.
“Apa?” Saila tampak terkejut mendengar pertanyaan Leon yang secara tiba – tiba menanyakan hubungannya dan Zidan.
“Kenapa kau terkejut begitu? Apa kau memang berniat mau pacaran dengan Zidan. Kau itu masih punya ikatan denganku, Saila?” tanya Leon dengan wajahnya yang kembali kesal melihat ekspresi kaget Saila seperti membenarkan pertanyaannya tadi.
Saila dengan cepat mengangkat kedua tangannya. “Tidak, Mas. Tidak. Aku tidak berniat seperti itu. Hubunganku dan Zidan hanya teman sejak kecil kok,” jawab Saila dengan wajahnya yang khawatir dengan suaminya, takut kalau Leon salah paham.
“Loh ... kemarin kau bilang sendiri, kan. Kalau kau suka dengannya?” tanya Leon.
Saila menghela nafasnya pelan setelah mendengar pertanyaan suaminya, kemudian ia menjawab pertanyaan Leon, “Aku memang suka dengan Kak Zidan. Tapi aku sama sekali tidak punya niatan untuk pacaran dengannya atau pun dengan orang lain selama kita menikah!” tegasnya melihat Leon.
Leon tersenyum tipis dengan pandangan lurus ke depan ketika ia mendengar penjelasan dari istrinya. Ia merasa senang saat Saila menegaskan kalau ia tidak akan punya hubungan dengan siapapun?
Tampak wajahnya berbinar – binar, namun ia berusaha menyembunyikannya dari penglihatan Saila, karena ia masih malu di hadapan Saila. Entah apa yang membuatnya sangat malu di hadapan gadis yang sudah berumur 20 tahun itu, jika menyangkut perasaannya?
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Leon telah sampai di depan kampus Saila. Leon turun dari mobilnya saat mobilnya sudah terparkir sempurna di sana, begitu juga dengan Saila yang ikut turun dari mobilnya.
Setelah turun, Saila berpamitan pada Leon, “Mas, aku masuk dulu ya.”
“Iya,” jawab Saila.
Saila kemudian menggerakkan tubuhnya untuk berjalan masuk ke dalam kampusnya. Namun, Leon tiba – tiba saja memanggilnya.
“Saila ... tunggu sebentar,” panggil Leon sambil berjalan ke arah Saila. Saat itu, Leon memanggil Saila, karena melihat Zidan dari arah parkiran yang berjalan menghampiri Saila.
Saila menoleh ke arah Leon. “Ada apa, Mas?” tanya Saila.
“Kau melupakan sesuatu,” ucap Leon.
“Apa?” tanya Saila kembali yang penasaran tentang apa yang ia lupakan.
Namun, Leon dengan cepat memegang belakang kepala Saila, menariknya, kemudian mencium pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
Leon melakukan itu karena ingin memperlihatkan pada Zidan tentang hubungannya dengan Saila, kalau mereka benar – benar saling mencintai dan agar Zidan menjauhi istrinya.
Saila sangat terkejut melihat Leon yang tiba – tiba saja melakukan hal itu padanya. Ia terdiam kaku di sana sambil mengepal kedua tangannya, merasa gugup ketika merasakan sentuhan bibir Leon.
Setelah puas, Leon melepaskan ciumannya, kemudian tersenyum menatap Saila.
Sementara Saila merasa bingung melihat Leon melakukan itu padanya.
“Apa yang Mas Leon lakukan?” tanya Saila.
“Kita kan suami istri yang saling mencintai. Jadi kita harus tetap berakting mesra di depan semua orang,” ucap Leon.
“Apa?” Saila kembali kaget.
“Kalau kita tidak melakukan ini. Orang – orang akan curiga tentang hubungan kita,” jelas Leon.
“Terus apa yang tadi aku lupakan?” tanya Saila.
“Ya ini,” jawab Leon.
Dari kejauhan, Zidan menyaksikan tingkah Leon yang mencium pucuk kepala Saila, namun ia kembali melangkah masuk ke dalam kampus tanpa mau menghampiri Saila. Ia tak mau mengganggu hubungan mereka.
Tadinya Zidan memang ingin menyapa mereka berdua, namun ketika melihat Leon mencium istrinya, ia mengurungkan niatnya itu.
***
Setelah Leon melihat Zidan masuk, ia juga menyuruh Saila masuk ke dalam kampusnya, dan ia tak lupa untuk mengingatkan kembali pada Saila untuk menghubunginya setelah ia pulang nanti.
.
.
.
__ADS_1
.