
Saila kini berada di Ruang VIP bersama seluruh keluarganya, dan juga bersama bayinya. Ia baru saja di pindahkan dokternya tadi ke ruangannya itu.
Ia berbaring di kasurnya, sedangkan Leon bersandar di atas kasurnya tepatnya di samping Saila sambil terus memegang tangan istrinya. Mereka berdua tersenyum melihat semua orang menatap bayinya yang sedang di gendong Nyonya Yasmin.
Saat itu, Nyonya Serly juga hadir di antara mereka. Ia baru saja tiba beberapa menit yang lalu.
“Leon, kau sudah memberikan nama yang bagus untuk bayimu?” tanya Nyonya Serly.
“Belum. Ibu saja yang memberikannya nama,” jawab Leon.
“Biar aku yang memberikannya nama, karena ini adalah cucu pertamaku!” sahut Tuan Bima.
“Ini juga cucu pertama saya, jadi saya juga berhak memberikannya nama dong,” sahut Nyonya Serly yang tidak mau kalah dengan Tuan Bima.
“Biar adil. Aku saja yang memberikannya nama. Aku sudah punya nama yang bagus untuknya!” sahut Sila.
“Namanya siapa?” tanya Saila.
“Aidan Shandika Mahesa,” kata Sila.
“Nama yang bagus, kau dapat darimana sayang?” sahut Nyonya Yasmin.
“Tuh ... Ansel yang mengusulkannya kemarin nama itu. Dan menurutku bagus,” kata Sila menunjuk sosok lelaki dingin yang duduk di sofa dengan tampang cueknya.
Tuan Bima dan Nyonya Yasmin hanya menghela nafasnya melihat anak lelakinya itu yang tampak diam di tempat duduknya. Ia tidak menyangka kalau Ansel bisa memberikan nama untuk keponakannya, mengingat Ansel yang jarang sekali mengeluarkan pendapatnya.
***
Dua hari kemudian.
Saila dan Leon baru saja pulang dari Rumah Sakit. Selama dua hari berada di Rumah Sakit, Leon jarang sekali menyentuh bayinya, dan lebih memperhatikan istrinya selama pemulihannya. Apalagi kedua mertuanya selalu menggendong bayinya yang membuat ia tidak punya kesempatan untuk bercengkrama dengan bayinya.
Seperti hari ini, bayinya tengah di gendong lagi oleh Nyonya Serly, bahkan tidak memberinya kesempatan. Jika ia ingin menggendong bayi mungilnya itu, pasti ada seseorang yang lebih dulu menggendongnya. Entah itu ibunya, ibu mertuanya, ayah mertuanya atau pun Sila yang tidak pernah absen untuk melihat bayi kecil itu.
Saila sekarang berada di kamarnya. Ia baru saja selesai berpakaian setelah mandi tadi. Tiba – tiba Leon masuk dengan wajahnya yang tampak cemberut.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Saila menghampiri Leon yang tengah duduk di tepai tempat tidurnya.
“Mereka semua tidak membiarkanku menggendong bayi kita,” jawab Leon.
“Kenapa Mas Leon tidak bilang pada mereka kalau Mas Leon mau gendong?” kata Saila.
“Aku tidak enak kalau harus bilang begitu pada ibu,” jawab Leon.
“Ya sudah, sekarang kita ke sana ya, ke kamar Aidan. Aku yang akan menggendongnya dan memberikannya pada Mas Leon!” ajak Saila sambil memegang tangan suaminya, menariknya untuk berdiri.
"Benar ya," kata Leon.
"Iya," jawab Saila.
Leon pun berdiri dan mengikuti istrinya untuk kembali ke kamar anak mereka.
***
Sementara di tempat lain, tepatnya di kampus Sila dan Zidan.
“Ada apa?” tanya Sila.
“Apa maksud ucapanmu tadi malam di telfon?” tanya Zidan yang sangat penasaran dan masih terlihat bingung.
“Tentu saja seperti yang kau dengar. Aku tidak bisa mengulangnya kembali,” jawab Sila.
“Jadi kau benar – benar sudah mau menikah denganku?” tanya Zidan dengan hal yang di katakan Sila padanya tadi malam saat Sila menghubunginya.
“Iya, memang kapan sih aku bilang tidak mau menikah. Aku kan, tidak pernah bilang tidak mau? Aku hanya bilang menunda sampai Saila melahirkan bayinya!” kata Sila dengan nada santainya.
“Lalu kapan kita akan menikah?” tanya Zidan kembali.
“Terserah kau saja,” jawab Sila yang memalingkan wajahnya ke samping. Ia tampak malu – malu untuk melihat Zidan.
Zidan langsung memeluk erat Sila dengan wajahnya yang tampak sangat bahagia, kemudian berkata: “Secepatnya aku akan bilang pada ayah dan ibu tentang ini. Dan kita juga bisa punya anak mungil seperti Saila dan Leon!”
__ADS_1
“Hei, aku mau menikah denganmu bukan untuk mendapatkan anak. Kita itu masih kuliah ya. Aku masih belum mau hamil!” kata Sila yang menolak keinginan Zidan.
“Iya, terserah kau saja, yang penting kita akan menikah!” kata Zidan yang terus memeluk erat tubuh Sila.
“Lepaskan aku dulu, aku mau ke kelas. Aku sudah terlambat tahu!” kata Sila yang berusaha melepaskan pelukan Zidan darinya.
Zidan pun melepaskan pelukannya, dan berniat mencium Sila, namun Sila langsung menghindar.
“Kau mau apa?” tanya Sila.
“Tentu saja menciummu,” jawab Zidan.
“Hari ini tidak ada ciuman!” kata Sila yang menolak.
“Sila ... lihat yang di sana, temanmu datang!” kata Zidan yang membuat Sila menolah, dan Zidan langsung mendaratkan bibirnya di pipi Sila.
Zidan sengaja membohongi Sila untuk mencuri ciuman dari gadis itu, dan itu membuat Sila kesal.
“Kak Zidan, apa sih yang kau lakukan?” tanya Sila yang seketika memegang pipinya.
Zidan kembali mencuri ciuman di pipi Sila di sebelah, kemudian berlari meninggalkan Sila di sana ketika Sila sudah tampak kesalnya padanya.
"Kak Zidaaaaan!" teriak Sila melihat Zidan menciumnya lagi.
Saat itu, Zidan sudah berada jauh dari Sila, ia tersenyum bahagia sambil memberikan ciuman jauhnya pada Sila. Tingkah nakal Zidan itu membuat Sila geleng – geleng kepala.
.
.
.
Bersambung
.
__ADS_1
.