
Selesai makan malam bersama, Leon menyuruh Saila untuk duluan mandi di dalam kamar mandinya, sedangkan Leon duduk santai di depan TV menunggu Saila selesai mandi. Namun, karena bosan duduk menonton TV, Leon pun berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya dengan Saila.
Saat di dalam kamar, ia menghentikan langkahnya tepat di depan kamar mandi untuk tahu, apakah Saila sudah selesai mandi? Namun, suara air masih terdengar di dalam kamar mandi. Ia kemudian melanjutkan langkahnya kembali ke arah Ruang Gantinya untuk melepaskan semua pakaiannya, sambil menunggu Saila selesai mandi.
Ketika berada di dalam Ruang Ganti, Leon membuka kanci bajunya, kemudian melepaskan kemeja yang ia pakai, memperlihatkan tubuh atletisnya itu. Ia melanjutkan kembali membuka tali pinggang dan resleting celananya setelah ia melemparkan kemeja yang ia lepaskan tadi.
Tanpa di duga, Saila langsung masuk ke dalam Ruang Gantinya setelah ia selesai mandi. Ia tidak tahu kalau ada Leon di dalam sana.
Saat di dalam Ruang Ganti, Saila kaget melihat tubuh kekar suaminya dari belakang, namun ia tidak lagi berteriak seperti yang ia lakukan tempo hari. Saila hanya berdiri diam dengan mata melotot melihat punggung suaminya itu.
Leon pun tersadar dengan kehadiran istrinya yang hanya berdiri diam di belakang. Ia menoleh melihat Saila dengan tubuh telanjangnya, namun celana masih belum ia buka. Hanya resleting celana yang sempat ia buka tadi.
“Saila, kau sudah selesai mandi ya,” tanya Leon.
“I-iya,” jawab Saila dengan suaranya yang terdengar gagap. Wajahnya memerah ketika menatap tubuh Leon yang tidak memakai baju, apalagi melihat resleting celana Leon yang terbuka.
Namun, Leon tampak biasa saja di depan istrinya tanpa ada rasa malu memperlihatkan tubuh kekarnya itu.
“Oke ... kalau gitu, aku mandi dulu ya,” ucap Leon sambil tersenyum melihat istrinya.
“Iya,” jawab Saila.
Leon kemudian melangkah untuk keluar dari kamar gantinya menuju kamar mandinya. Saat itu, ia sempat memegang lembut atas kepala istrinya ketika ia melewati Saila di sana, kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya menuju kamar mandi pribadinya.
Sesaat setelah Leon pergi, Saila langsung memegang dadanya, merasakan kembali jantungnya yang berdetak dag dig dug, merasakan gugup dalam dirinya ketika melihat Leon bertelanjang dada, apalagi saat Leon memegang atas kepalanya dengan lembut. Saila menghela nafasnya, kemudian memegang kedua pipinya yang memerah.
“Kenapa setiap dia begitu, aku selalu gugup?” Gumamnya.
Saila terdiam sejenak, lalu melepaskan kembali kedua tangannya dari pipinya itu. Ia melangkah ke arah lemari pakaiannya yang ada di depannya, kemudian membuka lemari pakaiannya. Ia memilih salah satu gaun tidurnya lalu memakai gaun tidurnya di sana.
Selesai berpakaian, ia kembali melangkah keluar Kamar Ganti menuju tempat tidurnya. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memikirkan Leon. Ia baru saja tersadar tentang Leon yang masuk di kamar untuk mandi. Apa ia dan Leon akan satu kamar lagi seperti di Kamar Hotel tempo hari? Bukannya waktu itu, ia dan Leon hanya terpaksa karena sedang berakting di depan keluarganya. Namun sekarang berbeda, mereka tidak berhadapan lagi dengan keluarganya. Tinggal mereka berdua yang ada di sana. Apalagi sikap Leon tampak biasa saja dengan dirinya. Tidak canggung atau pun malu memperlihatkan tubuhnya di depan seorang gadis asing baginya. Saila terus duduk melamun di tepi tempat tidurnya memikirkan semua itu.
Tak lama kemudian, Leon keluar dari kamar mandinya. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mengusap rambut basahnya melihat Saila duduk melamun.
__ADS_1
“Saila, ada apa denganmu?” tanya Leon penasaran melihat istrinya melamun.
Lamunan Saila buyar ketika ia mendengar pertanyaan suaminya. Ia mengangkat kepalanya melihat Leon sejenak, kemudian menjawab pertanyaan suaminya.
“Tidak apa – apa, Mas,” jawab Saila.
“Oh, aku pikir kau sedang sakit," ucap Leon.
"Tidak mas. Aku baik - baik saja kok," jawab Saila sambil tersenyum.
"Baiklah. Kalu gitu, aku pakai baju dulu ya,” ucap Leon sambil tersenyum pada Saila.
Saila mengangguk. “Iya.”
Leon kembali melangkah menuju kamar gantinya untuk berpakaian di sana, sedangkan Saila masih duduk diam di tempatnya tadi. Ia menunggu Leon keluar, kemudian menanyakan dimana ia harus tidur nanti? Mungkin saja Leon hanya masuk untuk mandi, dan berpakaian di kamarnya, atau Leon akan membawanya nanti ke kamar lain untuk tidur.
Beberapa saat kemudian, Leon pun selesai berganti baju. Ia berjalan menghampiri Saila yang masih duduk di tempatnya tadi.
“Kenapa kau belum tidur? Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku?” tanya Leon saat ia sudah berdiri di depan Saila.
“Kamarku dimana, Mas?” tanya Saila menatap Leon dengan serius. Ia tidak menjawab pertanyaan Leon, namun menanyakan hal lain pada Leon.
“Kenapa kau menanyakan kamarmu? Ya tentu saja disini, memang dimana lagi?” Kata Leon mengerutkan keningnya melihat Saila.
“Oh, begitu. Aku pikir, ini bukan kamar yang ku tempati. Aku pikir ini kamar Mas Leon,” jawab Saila.
“Sebentar.” Leon berpikir, “Apa aku pikir kalau kita tidur di kamar yang terpisah?” tanya Leon.
“Loh ... bukannya memang seperti itu, Mas. Di sini kan tidak ada ibu dan ayah. Kita cuma berdua disini. Jadi tentu saja harus tidur terpisah,” jawab Saila sambil menatap serius suaminya.
Leon menghela nafasnya dengan pelan di depan Saila, lalu kembali bicara pada Saila.
“Saila ... apartemenku ini cuma ada satu kamar, jadi kita akan tinggal dalam satu kamar. Di sini tidak ada lagi kamar selain ini,” Jelas Leon.
__ADS_1
“Apa?” Saila terkejut.
“Apa kau mau membiarkan aku tidur di sofa lagi. Dan kau juga tidak bisa tidur di sofa, bukan. Jalan satu – satunya, kita harus satu tempat tidur?” Leon memberikan pengertian pada istrinya tentang situasinya yang sekarang.
“Tapi, kita kan tidak bisa tidur satu tempat tidur, Mas,” jawab Saila.
“Kenapa tidak bisa. Bukannya tidak masalah kalau kita satu ranjang. Kita sudah menikah, kan?”
“Tapi mas-
“Tenang saja. Aku tidak akan macam – macam padamu,” ucap Leon memotong kalimat istrinya. “Aku tidak akan menyentuhmu. Kita hanya tidur saja, Saila.” Lanjutnya.
“Baiklah. Kalau seperti itu,” Balas Saila.
“Ayo tidur!” ajak Leon sambil memegang kembali atas kepala gadis mungil di depannya itu.
Setelah mengajak Saila tidur, ia kemudian naik ke atas tempat tidurnya dan baring di sana.
Sementara Saila masih berdiri sejenak menatap Leon yang sudah berada di atas tempat tidurnya. Saat itu, Leon langsung memejamkan matanya karena Leon tak mau kalau Saila merasa takut atau pun canggung dengannya. Leon memang berpikir kalau Saila pasti masih merasa ketakutan dengannya.
Setelah Saila melihat Leon memejamkan matanya, ia pun ikut naik di kasurnya sambil terus melihat suaminya yang sudah memejamkan matanya. Dan seperti yang Leon pikirkan, Saila masih takut dengan dirinya itu akibat perbuatan yang dulu memperkosa Saila.
Karena Saila tidak ingin terjadi sesuatu saat mereka tertidur nanti. Ia pun mengambil bantal guling dan bantal untuk membatasi dirinya dan Leon. Ia menyimpan bantalnya di sisi tengah antara dirinya dan Leon.
Tentu saja membuat Leon membuka matanya ketika merasakan hal itu. Ia kaget melihat istrinya yang membatasi dirinya dengan bantal guling, namun ia hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah Saila yang seperti itu. Tampak di wajahnya kalau ia kesal melihat Saila.
Namun, karena ia mau Saila merasa nyaman tidur di sampingnya, ia pun membiarkan hal itu dan kembali memejamkan matanya sambil membelakangi Saila.
Leon memejamkan kembali matanya, begitu pun dengan Saila yang mulai memejamkan matanya untuk tidur. Mereka akhirnya tidur dalam satu ranjang. Ya, meskipun ada beberapa bantal yang membatasi tubuh mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.