SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Aku Ingin kuliah diluar negri


__ADS_3

Di dalam rumah besar Keluarga Mahesa, terlihat seorang lelaki paruh baya tengah memarahi beberapa pengawalnya yang berdiri berjejer, dengan kepala menunduk.


Lelaki itu tak lain adalah Bima, ayah Saila yang tengah mencari keberadaan putrinya. Sudah beberapa jam semenjak ia pulang dari Kantor, namun ia tidak mendapati keberadaan putrinya di rumah. Ia pun menyuruh beberapa pengawalnya mencari keberadaan putrinya di seluruh kota, namun para pengawalnya sama sekali tidak menemukan putrinya.


Bima menampar satu - satu para pengawalnya dengan keras membuat mereka sangat ketakutan.


"Aku sudah bilang pada kalian untuk mencarinya sampai dapat. Apa kalian sudah bosan hidup?" teriaknya dengan keras. Ia berdiri di depan para pengawalnya dengan ekspresi dinginnya menatap para bawahannya itu yang tidak mendapati keberadaan putrinya.


Ia kembali berteriak. "Kalian semua di pecat. Dasar tidak becus!" Ia berdiri tegak di sana menatap dingin para bawahannya yang terus menunduk di depannya. "Ken!" panggil Bima pada asisten pribadinya.


Kenan maju dua langkah. "Iya tuan."


"Singkirkan mereka semua. Aku tidak suka melihat orang tidak becus bekerja denganku!" perintahnya dengan tegas.


"Baik tuan."


Sementara di sofa yang letaknya tak jauh dari tempat Bima, terlihat seorang wanita tengah menangisi anaknya. Ia sedih, khawatir menunggu kabar keberadaan putrinya. Ia di dampingi putranya yang masih berumur 15 tahun.


"Ibu ... sudah lah. Kakak pasti akan kembali. Kakak sudah dewasa kan. Dia pasti di rumah temannya," ucap Ansel mencoba menenangkan ibunya. Ia duduk di samping ibunya sambil mengusap punggung ibunya, berusaha menanangkan hati ibunya itu.


Bima yang berdiri di sana, kemudian berjalan menghampiri istrinya yang bersedih tentang Saila. Putrinya yang tak kunjung pulang seperti biasa, bahkan ini pertama kalinya Saila pulang telat tanpa ada kabar darinya.


Bima duduk di samping istrinya, memegang tangan istrinya. "Tenanglah, aku sudah menghubungi kepolisian. Mereka akan membantu kita mencari keberadan Saila."


Yasmin menoleh ke arah suaminya. "Bukannya polisi akan bertindak setelah 24 jam sayang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Saila? Saila tidak pernah keluar rumah tanpa menghubungi kita dulu!"


"Aku juga sudah mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Sebentar lagi kita akan mendapatkan kabar baik. Tenanglah dulu, hentikan tangisanmu." Ucap Bima sambil memegang kepala istrinya. Bima kemudian menoleh ke arah Ansel. "Ansel ... kau bawa ibumu ke kamar dulu. Dia butuh istirahat!" perintahnya.


"Baik yah ... ." Balas Ansel sambil melihat ayahnya, kemudian beralih melihat ibunya. "Ayo bu!" Ajaknya.


Yasmin pun berdiri dari tempat duduknya disusul Ansel, anaknya. Mereka baru saja mau melangkah meninggalkan tempatnya, namun seorang pengawal datang dengan tergesa - gesa menghampiri Bima.


"Tuan! Nona Muda sudah kembali!" Pengawal itu langsung melapor pada Bima saat ia sudah berada di depan Bima. Ia masuk melapor saat ia melihat Saila turun dari taksi tadi.


Bima langsung berdiri kaget mendengar anaknya sudah kembali, begitu pun dengan Yasmin yang tadi ingin masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Wajah mereka sangat senang mendengar anaknya sudah kembali pulang.

__ADS_1


"Dimana dia?" tanya Bima.


"Ada diluar tuan," jawabnya sambil menunduk.


Bima berjalan cepat untuk menghampiri putrinya, begitu juga dengan yasmin yang mengikuti suaminya melangkah keluar. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, namun Saila sudah berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saila sangat kaget melihat kedua orang tuanya sudah berjalan ke arahnya.


"Ayah ... ibu!" panggil Saila dengan bingung melihat kedua orang tuanya.


Yasmin langsung memeluk putrinya dengan erat, sedangkan Bima hanya berdiri menatap anaknya sambil menghela nafasnya, merasa lega melihat putrinya baik - baik saja.


Yasmin melepaskan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu anaknya, menggerakkan tubuh anaknya ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah anaknya baik - baik saja.


"Bu ... aku baik - baik saja. Tolong hentikan, aku merasa pusing kalau ibu terus menggoyangkan tubuhku!" ucap Saila.


"Ibu khawatir kalau di luar sana kau mendapatkan masalah sayang," jawab Yasmin, menatap anaknya.


Bima tersadar dengan kemeja pria yang dipakai Saila. Ia melangkah mendekati anaknya untuk memperjelas penglihatannya itu.


"Saila ... ayah mau bertanya padamu. Seharian ini kau darimana saja?" tanya Bima penasaran. Ia curiga kalau anaknya bersama dengan seorang pria melihat kemeja yang di pakai Saila.


Saila tampak diam menatap ayahnya. Ia tidak tahu harus mengatakan alasan apa pada ayahnya itu. Kalau ia mengatakan pada ayahnya, ia pergi bersama Riana atau Zidan, itu tidak mungkin, karena Bima pasti tahu.


Saila menundukkan kepala, tidak berani melihat wajah ayahnya. Ia tidak berani untuk berbohong pada ayahnya, namun ia harus mencari alasan yang jelas agar ayahnya tidak murka saat tahu kalau ia bersama dengan seorang pria, apalagi ia sudah dinodai.


Saila kemudian mengangkat kepalanya melihat ayahnya. "A-aku tadi bertemu dengan teman Sila. Dia kira kalau aku adalah Sila. Jadi aku pergi dengannya sebentar," jawab Saila dengan nada gugup.


"Lalu ... kenapa kau tidak menghubungi ibumu, dan kenapa kau tidak pergi dengan Pak Herman?" tanya Bima dengan bingung. Ia belum bisa menerima alasan yang diberikan Saila, ia belum percaya alasan anak perempuannya itu.


"Kami mengobrol lama di tempatnya sampai lupa waktu. Aku juga tidak sengaja mengotori bajuku, jadi aku pakai kemejanya."


"Seorang pria," tanya Bima yang masih penasaran.


"Seorang pria dan wanita. Mereka adalah teman yang baik," jawab Saila tanpa berani melihat sorot mata ayahnya. Ia takut kalau ayahnya sampai menyadari kebohongannya.


"Oke ... masuklah ke kamarmu!" perintah Bima.

__ADS_1


Saila langsung bernafas lega saat ayahnya menerima alasannya itu, tanpa bertanya lagi. Ia tidak tahu harus mengatakan alasan apa lagi kalau ayahnya sampai menanyakan nama orang yang ia temui tadi.


"Baik ... ." jawab Saila dengan sopan.


Saila pun melangkah untuk meninggalkan tempatnya itu. Namun, baru beberapa langkah saja ia berjalan, tiba - tiba Bima memanggillnya.


"Tunggu ... ."


Saila kaget mendengar ayahnya menghentikan langkahnya. Apa mungkin ayahnya menyadari kebohongannya tadi? Ia pun menoleh ke arah ayah dan ibunya yang saat itu berdiri berdampingan.


"Iya, Yah ... ." jawab Saila.


"Ayah dihubungi orang tua Zidan. Mereka bilang kalau Zidan sudah bersedia untuk bertunangan denganmu," jelas Bima dengan serius.


Sontak saja membuat Saila kaget. Ia terlihat tersenyum mendengar kabar bahagia itu.


"Benarkah!" seru Saila dengan ekspresi senang menatap ayah dan ibunya.


"Iya sayang ... kau senang kan," sahut ibunya.


Seketika senyumnya terhenti saat mengingat kejadian tadi siang. Senyumnya memudar pelan menatap kedua orang tuanya. Bagaimana ia bisa bertunangan dan menikah dengan Zidan, sedangkan ia sendiri sudah bukan gadis sempurna. Ia bukan gadis suci lagi untuk Zidan.


"Maaf ... ayah, ibu. Aku tidak bisa bertunangan dengan Kak Zidan." Dengan terpaksa, ia mengangkat bibir manisnya untuk menolak rencana pertunangannya dengan Zidan. Meskipun berat untuk bisa menggerakkan bibirnya menolak Zidan, namun ia harus melakukannya. Rasanya ia tidak pantas untuk bersanding dengan Zidan.


Bima mengerutkan keningnya mendengar perkataan putrinya yang menolak rencana pertunangannya dengan Zidan.


"Bukannya kau sangat menyukai Zidan, Saila. Kenapa kau tiba - tiba menolak perjodohanmu dengannya?" tanya Bima penasaran.


Saila menunduk sejenak, tidak tahu harus mengatakan apa pada ayahnya, namun ia harus memberikan alasan pada ayahnya, mengingat kalau ayahnya orang yang butuh penjelasan setiap pertanyaannya.


"Aku ingin kuliah diluar negri, tempat Sila berada." Saila tiba - tiba saja memutuskan itu, tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Jalan satu - satunya agar ia menghindari Zidan adalah pergi ke luar negri.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2