SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Kenapa aku sedih melihatnya?


__ADS_3

Jam pelajaran baru saja selesai. Saila buru - buru keluar dari kelasnya untuk menghampiri Sila. Ia keluar bersama Riana, sahabatnya.


Saat berada di kelas Sila, Saila tidak melihat keberadaan saudari kembarnya itu. Dan beberapa siswa juga sudah kembali pulang.


"Dimana Sila?" ucap Saila melihat kesana kemari, kemudian beralih menatap Riana.


Riana mengangkat kedua bahu dan tangannya, membalas ucapan Saila yang tak tahu menahu.


"Kayaknya Sila tidak ada disini," ucap Saila.


"Apa mungkin dia sudah pulang?" ucap Riana mengira - ngira.


"Masa dia sudah pulang. Kenapa dia tidak menungguku dulu?" tanya Saila kembali menatap Riana.


"Memangnya kau menyuruh dia untuk menunggumu tadi?" tanya Riana.


"Tidak sih," jawab Saila.


"Sebaiknya kita keluar, mungkin saja dia ada diluar!" ajak Riana, kemudian menarik tangan Saila untuk keluar dari sana.


Saila dan Riana pun keluar dari kelas Sila. Mereka berjalan keluar dari kampusnya.


Dan tentu saja Sila sudah berada di luar kampusnya. Ia berdiri depan kampus menunggu Zidan yang mengeluarkan mobilnya dari parkiran mobil kampus.


Tiba - tiba sebuah mobil sport berhenti depan gerbang kampus Sila dan Saila.


Mobil itu milik Leon. Leon turun dari mobilnya, kemudian berjalan masuk ke dalam kampus untuk menjemput istrinya.


Dan tak sengaja Leon bertemu dengan Sila saat Leon baru jalan beberapa langkah.


Sila menatap heran Leon yang baru ia lihat setelah 1 tahun lebih tidak bertemu, begitu pun dengan Leon yang menatap kaget Sila yang berdiri di depannya.


***


Dari pintu keluar kampus, Saila baru saja keluar dari dalam kampusnya. Ia melihat Sila dan Leon berdiri saling menatap.


Saila sangat kaget. Ia baru saja mau menjelaskan pada Sila tentang Leon, baru setelah itu, Saila akan mempertemukan Sila dan suaminya, namun mereka sudah bertemu.


Saila dan Riana melihat Sila sedang mengobrol dengan Leon. Ia melihat Sila dan Leon bicara seperti orang yang sedang bertengkar, namun Saila tidak mendengar jelas pembicaraan mereka.


"Saila, ayo kita hampiri Sila dan suamimu. Sebelum terjadi kesalah pahaman!" ajak Riana.


Saila langsung berjalan cepat menghampiri Sila dan Leon tanpa membalas ucapan Riana tadi, namun langkahnya tiba - tiba berhenti saat Saila melihat Leon menarik tangan Sila masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Riana yang ikut berhenti di samping Saila.


Entah kenapa, Saila merasa sedih saat melihat mereka bersama, apalagi saat melihat Leon menarik tangan Sila masuk ke dalam mobil? Ia merasa seperti diabaikan, merasa keberadaannya sudah tidak penting.


Ia terdiam menatap gerbang kampusnya yang sudah tidak terlihat keberadaan Sila dan Leon.


"Kenapa Mas Leon tidak menungguku untuk menjelaskan semuanya pada Sila? Kenapa dia pergi begitu saja?" dalam hati Saila.


"Saila, kau baik - baik saja, kan?" tanya Riana sambil memegang bahu Saila, menatap Saila yang hanya diam kaku dengan pertanyaan dalam benaknya itu.


Saila kaget saat Riana memegang bahunya. Ia pun menoleh ke arah Riana.


"Tidak apa - apa," jawab Saila, kemudian menghela nafasnya. "Aku terlambat menjelaskan Sila tentang Mas Leon. Sila pasti benci denganku. Harusnya aku ke kelasnya saja tadi," ucap Saila menyesal.

__ADS_1


Saila kemudian berjongkok di sana sambil memegang kepalanya yang menunduk, merasa takut dengan perasaan benci Sila padanya.


Riana ikut berjongkok sambil memegang bahu Saila.


"Saila, jangan khawatir. Aku yakin, Sila pasti akan mengerti. Kak Leon pasti akan menjelaskan semua pada Sila," ucap Riana mencoba menenangkan Saila.


Saila mengangkat kepalanya melihat Riana.


"Aku takut kalau Sila mengira aku adalah pengganggu dalam hubungan cintanya dan Mas Leon," ucap Saila dengan tatapan sedihnya.


"Jangan banyak berpikir. Semuanya pasti baik - baik saja!" ucap Riana menenangkan sahabatnya itu.


Dari arah parkiran kampus, mobil Zidan baru saja keluar. Zidan menghentikan mobilnya saat ia melihat Saila dan Riana berjongkok di tempatnya tadi.


Ia kemudian menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Saila, Riana!" panggil Zidan.


Seketika Saila dan Riana berdiri dari tempatnya itu, menatap Zidan.


"Kak Zidan belum pulang?" tanya Saila.


"Iya, tapi kenapa kalian disini? Dimana Sila?" tanya Zidan yang saat itu mengeluarkan kepalanya di jendela kaca mobilnya.


"Sila tadi dibawa pergi sama Kak Leon," jawab Riana.


"Kenapa Leon membawa Sila pergi? Apa dia menarik Sila karena dia pikir itu dirimu?" tanya Zidan penasaran sambil menatap Saila. Ia pikir kalau Leon salah orang.


Saila menghela nafasnya dengan kasar, kemudian menjawab pertanyaan Zidan, "Ceritanya panjang, Kak. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang."


Ia melihat nama Ben di layar ponselnya. Ia angkatlah panggilan Ben di ponselnya itu. Di balik telfon, Ben menyuruh Saila menunggunya di kampus. Itu atas permintaan Leon pada Ben untuk menjemput istrinya di kampus.


Saila selesai bicara pada Ben. Dan Zidan kembali bicara ketika melihat Saila selesai menelfon.


"Apa itu suamimu?" tanya Zidan.


"Bukan. Ini Kak Ben. Dia mau datang menjemputku disini. Katanya disuruh sama Mas Leon. Dia bilang sudah dekat dari sini. Bentar lagi sampai, katanya!" jelas Saila.


Tak lama kemudian, Ben sudah sampai di depan kampus Saila. Ia turun dari mobilnya untuk menjemput Saila. Ben kembali menghubungi Saila, menanyakan keberadaan Saila dimana?


Sementara Saila yang masih berada di tempatnya tadi bersama Riana dan Zidan, langsung mengangkat panggilan Ben. Setelah bicara pada Ben, Saila kembali bicara pada Riana dan Zidan.


"Kak Ben sudah ada di depan. Sebaiknya aku pergi menemuinya. Mendingan Kak Zidan mengantar Riana pulang saja!" ucap Saila.


"Baiklah. Hati - hati dijalan ya!" ucap Zidan.


"Iya, terima kasih kak!" balas Saila.


Saila menoleh ke samping, menatap Riana.


"Ri, aku pulang ya!" pamit Saila pada Riana, sahabatnya.


"Iya, hati - hati dijalan!" ucap Riana.


"Terima Kasih!" balas Saila.

__ADS_1


Saila kemudian berjalan keluar dari kampus, menghampiri Ben yang sudah menunggunya di depan.


Saat Saila keluar, ia sudah melihat Ben berdiri sambil membuka pintu mobil untuknya. Saila masuk ke dalam mobil tanpa basa basi dengan Ben.


Ben kembali menutup pintu mobilnya, lalu berjalan ke depan mobilnya menuju pintu mobil di sebelah. Ia masuk di dalam mobil, kemudian menyalakan mobilnya meninggalkan kampus Saila.


Di dalam mobil.


"Apa Kak Ben tahu dimana Mas Leon sekarang?" tanya Saila serius.


"Tadi, waktu dia menghubungiku. Dia sedang di jalan. Katanya dia bersama dengan Sila, saudarimu, tapi aku tidak tahu dia pergi kemana," jawab Ben.


Saila menghela nafasnya dengan kasar sambil memalingkan wajahnya ke jendela kaca mobilnya.


Perasaannya campur aduk, antara khawatir, dan takut. Namun, ia juga merasa sedih, iri hati dan cemburu saat melihat Leon menarik tangan Sila masuk ke dalam mobilnya tadi.


"Kenapa aku merasa sedih saat melihat Mas Leon dan Sila bersama. Harusnya aku bahagia, karena mereka akhirnya bertemu. Setelah bayi ini lahir, Mas Leon akan kembali sama Sila. Dan semuanya akan baik - baik saja setelah Sila dan Mas Leon bersama?" dalam hati Saila.


Ben terlihat khawatir melihat Saila diam disana. "Saila!" panggil Ben.


Saila langsung menoleh. "Ya."


"Apa kau baik - baik saja?" tanya Ben.


"Aku baik kok, kak. Tidak apa - apa," jawab Saila.


Ben kembali fokus menyetir setelah mendapat jawaban dari Saila. Ia hanya tersenyum di sana tanpa bicara lagi dengan gadis 20 tahun itu.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Ben sudah sampai di depan Gedung Apartemen Leon.


Saila langsung turun dari mobil, kemudian pamit pada Ben untuk masuk ke dalam Gedung Apartemennya. Dan Ben kembali tersenyum menatap gadis yang sudah menjadi istri sahabatnya itu.


Ia meninggalkan Apartemen Leon ketika ia melihat Saila masuk ke dalam.


***


Dan saat Saila sudah berada di dalam lift, Saila memikirkan kembali suami dan saudari kembarnya.


"Sebenarnya, Mas Leon membawa Sila kemana? Kenapa dia tidak bicara saja di kampus tadi? Kenapa dia tidak menungguku? Atau Mas Leon ingin melepaskan rindunya pada Sila sampai dia tidak mengajakku, dan hanya mengajak Sila pergi. Dan kenapa aku sedih melihatnya?"


Pikiran Saila sangat kacau memikirkan apa yang terjadi pada Sila dan Leon sekarang? Banyak pertanyaan dalam benaknya tentang Sila dan suaminya.


.


.


.


Bersambung.


.


Hai sayang2ku😘😘😘😘. Kemarin aku lihat ada komen yang minta ig. Nih aku kasih ya. dewimutiawitular992.


Terima Kasih.😘😘😘😘Lope sekebun buat kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2