SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Kau cuma boleh genit didepanku


__ADS_3

Pukul 8:00 pagi.


Saila masih berbaring di tempat tidurnya dengan kemeja putih Leon membalut tubuhnya. Ia masih tidur nyenyak di kasur putih dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Sementara Leon saat ini sudah berada di dapur. Seperti biasa, ia menyiapkan sarapan pagi untuk ia makan bersama Saila. Ia membuat beberapa roti panggang dan dua gelas susu, kemudian meletakkannya di atas meja.


Setelah semua sarapannya sudah siap di atas meja, ia berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan Saila yang masih tertidur pulas.


Leon membuka pintu kamarnya dengan pelan, berjalan masuk dengan pelan ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap istrinya sejenak. Ia tersenyum senang melihat Saila tertidur pulas dengan tubuh Saila membelakangi dirinya. Leon kemudian memajukan kepalanya, dan mencium pipi Saila di sana.


Saila merasakan sentuhan bibir Leon di pipinya. Ia menggerakkan tubuhnya menghadap Leon. Ia mengucek – ngucek mata ngantuknya, kemudian melihat jelas Leon yang duduk di sampingnya.


“Mas Leon sudah bangun sejak tadi?” tanya Saila dengan suaranya yang terdengar serak.


“Iya sayang, aku sudah masak sarapan pagi untukmu. Ayo bangun, kita sarapan sama – sama!” ajak Leon.


Saila bangun dari tempat tidurnya dan duduk di depan Leon.


“Mas Leon masak lagi?” tanya Saila.


“Iya,” jawab Leon.


“Kenapa Mas Leon tidak membangunkan aku. Aku juga bisa membantu Mas Leon masak?” tanya Saila kembali.


Leon menarik tangan istrinya, memegangnya di sana.



“Aku suka melakukannya untukmu sayang,” jawab Leon sambil mengusap – usap punggung tangan Saila.


“Atau kita sewa pembantu saja,” ucap Saila.


“Loh, kita, kan sudah punya pembantu Saila. Buat apa sewa lagi?” balas Leon.


“Pembantu yang Mas Leon bayar, kan, hanya bekerja untuk membersihkan apartemen ini. Yang aku maksud pembantu 24 jam. Bisa mengerjakan semuanya. Masak, bersih – bersih dan lain – lain. Dan Mas Leon bisa punya waktu santai denganku. Nggak perlu memasak lagi kalau pagi – pagi begini!” jelas Saila.


Leon kemudian memajukan kepalanya dan menempelkan jidatnya di dahi Saila.



“Baiklah. Sesuai keinginanmu. Aku akan suruh Ben mencari beberapa pembantu. Nanti kau pilih saja yang kau sukai!” ucap Leon.


Leon kembali menegakkan kepalanya melihat Saila.


“Kenapa harus pilih? Memangnya barang mau di pilih. Mas Leon tinggal cari ajah yang bisa mengerjakan semuanya. Nggak perlu pilih – pilih segala!” ucap Saila.


“Oke. Aku akan cari satu, seperti yang kau bilang,” balas Leon sambil tersenyum dan memegang atas kepala istrinya.


Saila membalas ucapan Leon dengan senyuman manisnya itu.


“Ayo kita sarapan sekarang!” ajak Leon kembali.

__ADS_1


“Aku belum lapar. Aku mau sama Mas Leon ajah disini,” ucap Saila dengan wajah manjanya itu.


Leon hanya tersenyum, kemudian menggerakkan tubuhnya untuk duduk di samping Saila.


Dan Saila langsung memegang lengan Leon, menyandarkan kepalanya di sana.


Ia kembali menggerakkan tubuhnya meletakkan kedua tangannya di bahu Leon, lalu meletakkan kepalanya sambil menatap Leon dengan wajahnya yang tersenyum.



“Ada apa?” tanya Leon melihat Saila yang menatapnya.


“Tidak apa – apa. Aku cuma suka melihat wajah Mas Leon,” jawab Saila.


Leon melingkarkan tangannya di belakang bahu Saila, memeluk bahu Saila disana.


“Kau ini sudah mulai genit ya!” goda Leon sambil menunjuk – nunjuk dahi Saila.



Saila tersenyum. “Memangnya nggak boleh?” tanya Saila.


“Boleh sayang. Boleh sekali, tapi kau cuma boleh genit di depanku. Kau dilarang genit di depan pria lain. Tersenyum pun tidak boleh!” ucap Leon.


Saila hanya tersenyum lebar melihat suaminya. Dan saat itu, Leon ikut tersenyum sambil memegang rambut istrinya.



Saila kemudian memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Leon, begitu juga dengan Leon yang ikut memeluk erat istrinya, mengusap lembut rambut Saila, kemudian mencium atas kepala Saila.


Saila berlari masuk ke dalam kamar mandi dan muntah – muntah di sana.


Leon ikut kaget melihat Saila. Ia segera turun dari kasur, kemudian menghampiri Saila yang berada di dalam kamar mandi.


Saat di dalam kamar mandi, Leon terlihat sangat kaget dan khawatir melihat Saila muntah – muntah untuk pertama kalinya.


Ia dengan cepat menghampiri Saila yang berjongkok di depan toilet duduk. Leon ikut berjongkok di sana sambil mengusap – usap punggung Saila.


“Saila, apa yang terjadi denganmu sayang?” tanya Leon.


Saila menoleh ke arah Leon. “Aku juga nggak tahu. Ini pertama kalinya. Kemarin – kemarin aku nggak begini kok. Kenapa sekarang muntah – muntah?” ucap Saila dengan ekspresi bingungnya.


“Ya udah, kita ke dokter lagi untuk cek up, ya!” pinta Leon.


“Iya,” Saila mengangguk.


“Masih mau muntah?” tanya Leon.


Saila menggeleng – gelengkan kepalanya dengan wajahnya yang terlihat lelah dan tidak berdaya.


Leon pun menggendong istrinya untuk keluar dari dalam kamar mandinya. Ia berjalan menggendong Saila kembali ke tempat tidurnya. Ia langsung menurunkan Saila di kasur, kemudian menyelimuti sebagian tubuh istrinya di sana.

__ADS_1


“Kau tunggu disini. Aku ambilkan minum dan sarapanmu disini!” pinta Leon yang saat itu berdiri di samping tempat tidurnya.


“Nggak mau. Aku nggak lapar, Mas Leon!” tolak Saila. Saat itu, Saila sudah duduk bersandar di kasurnya, menatap Leon.


Leon menghela nafasnya, kemudian duduk di tepi tempat tidurnya.


“Saila ... kau itu habis muntah. Perlu mengisi perut. Kasihan bayi didalam perutmu itu. Dia butuh makan sayang,” ucap Leon sambil memegang perut istrinya.


“Baiklah. Aku akan sarapan. Ayo kita keluar!” ajak Saila yang menggerakkan tubuhnya untuk turun dari tempat tidurnya.


“Kau mau kemana?” tanya Leon.


“Loh, kita mau sarapan, kan?” tanya Saila.


“Kau duduk saja disini. Biar aku yang membawakan sarapanmu ke sini. Kita makan sama – sama. Oke!” pinta Leon.


“Baiklah. Terserah Mas Leon.”


Leon pun kembali berdiri dari tempat tidurnya, kemudian melangkah keluar dari kamarnya.


Ia berjalan pergi menuju dapurnya mengambil sarapan untuk Saila dan dirinya. Sementara Saila memejamkan matanya dengan tubuhnya yang masih bersandar di tempat tidurnya.


Tak lama kemudian, Leon kembali masuk ke dalam kamarnya membawa sarapan istrinya. Ia langsung duduk di tepi tempat tidurnya.


“Saila, aku sudah bawa sarapannya. Ayo makan!” ajak Leon.


Saila mulai membuka matanya kembali dan menegakkan tubuhnya di depan Leon.


Ia meraih roti yang ada diatas piring Leon, lalu menggigitnya sedikit.


Saila menguyah rotinya sambil menyodorkan roti yang ia pegang di depan mulut Leon.


"Kenapa kau malah memberikanku?" tanya Leon menatap Saila dan roti yang di pegang Saila secara bergantian.


"Aku menyuapi Mas Leon. Katanya tadi kita sarapan sama - sama," jawab Saila.


Leon langsung tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Berpikir kalau gadis di depannya itu benar - benar sangat polos.


Leon pun menggigit roti yang ada ditangan Saila sambil mengangkat bola matanya, menatap istrinya.


.


.


Bersambung


.


.


Bab selanjutnya bagian Sila ya sayang2ku. Jangan lupa Vote, like and komennya😘😘😘😘

__ADS_1


.


.


__ADS_2