SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Masalah tes pack


__ADS_3

Saat ini Leon tengah berada di perjalanan pulang setelah bertemu dengan Saila di Rumah Sakit. Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi ibunya yang berada di Prancis kalau ia akan menikahi seorang gadis.


Tentu saja hal itu membuat ibunya terkejut mendengar Leon yang tiba – tiba ingin menikah. Apalagi Leon menyuruh ibunya terbang dari Prancis ke sini untuk melamar gadis yang akan ia nikahi.


Sementara di Kediaman Mahesa.


Bima terlihat mondar mandir dengan ekspresi gelisah menunggu kedatangan anaknya.


Di sana ia di temani istrinya yang duduk di sofa dengan khawatir. Ada dua pelayan yang berdiri menunduk ketakutan di samping sofa yang di duduki Yasmin.


Bima dan Yasmin baru saja mengetahui hal yang mengejutkan dari kedua pelayan yang habis membersihkan kamar pribadi Saila. Mereka berdua menemukan tes pack milik Saila yang tergeletak di bawah tempat tidurnya.


Dan mereka langsung melapor pada kedua majikannya dengan benda yang mereka temukan di kamar Saila. Namun, Bima sama sekali belum mempercayai kalau tes pack yang di temukan pelayannya adalah milik anak gadisnya, sebelum ia menanyakan sendiri pada Saila. Pikirnya kalau itu pasti milik teman Saila.


“Sayang ... duduklah dulu. Kita tunggu Saila pulang baru kita tanyakan tentang masalah tes packnya. Itu pasti bukan milik Saila,” ucap Yasmin saat melihat suaminya terus mondar mandir di depannya, ia mencoba menenangkan suaminya di sana.


Bima menghentikan aksi mondar mandirnya itu, kemudian menghela nafasnya sesaat setelah mendengar ucapan istrinya. Ia berjalan menghampiri istrinya untuk duduk di sofa, tepat di samping Yasmin.


Namun, baru saja ia berjalan beberapa langkah untuk duduk di sofa, tiba – tiba ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumahnya. Suara langkah kaki itu adalah milik Saila yang baru saja pulang. Bima langsung membalikkan badannya mengahadap putrinya, melihatnya berjalan masuk.


Saat itu, Saila terkejut melihat Ruang Tamunya begitu ramai. Apalagi melihat ekspresi ayahnya yang terlihat serius menatapnya.


“Kau darimana saja?” tanya Bima saat Saila sudah berdiri di hadapannya.


“Aku dari kampus terus ke Rumah Sakit menjenguk teman, Yah,” jawab Saila.


Bima langsung menunjukkan tes pack yang ia pegang di depan Saila. Ia sudah tidak sabar menanyakan tentang tes packnya itu. Bahkan ia tidak berbasa - basi di depan Saila, dan langsung menunjukkan benda yang membuatnya gelisah sejak tadi.


“Ini milik siapa?” tanya Bima menatap serius anaknya.


Saila terkejut melihat tes pack yang di pegang ayahnya. Bagaimana bisa tes pack itu bisa berada di tangan ayahnya, pikirnya?


Apa yang harus ia katakan sekarang? Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang hamil.


Ayahnya pasti akan murka, namun ia juga tidak tahu harus mengatakan alasan apa pada kedua orang tuanya. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah berdiri diam tanpa berani mengatakan apapun.


Bima kembali bicara saat melihat Saila diam tak mau menjawab pertanyaannya.


“Saila ... ayah sedang bertanya padamu. Ini benda milik siapa?” tanya Bima dengan serius menatap anaknya yang seketika menunduk.


Saila masih menunduk ketakutan di depan ayahnya. Namun, kebisuan Saila membuat Yasmin merasa kalau tes pack itu adalah milik putrinya.


Ia pun berdiri dari tempat duduknya menghampiri putrinya yang terus menunduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat.


“Saila, ayahmu sedang bertanya nak,” sahut Yasmin memegang lengan anaknya.


Saila mengangkat kepalanya melihat ibunya, menatapnya dengan ekspresi gugup dan ketakutan.


“I-ibu ... .” Saila memanggil ibunya dengan nada pelan dan gagap.

__ADS_1


“Saila ... kamu tahu kan. Kalau ayahmu tidak suka dengan kebohongan. Jawab dengan jujur, benda itu milik siapa?” tanya Yasmin.


Saila kembali menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, merasa ketakutan tentang masalah kehamilannya sekarang. Ia begitu gelisah kalau ayah dan ibunya sampai tahu tentang dirinya yang hamil.


Namun, apa dayanya sekarang? Semua sudah terjadi, tes pack miliknya sudah di temukan ayahnya, tidak ada alasan yang bisa ia katakan pada ayahnya kecuali jujur mengenai kehamilannya.


“Saila!!” teriak Bima saat melihat Saila tak kunjung bicara. Ia sudah kesal melihat putrinya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Sontak saja membuat Saila terkejut. Ia dengan cepat mengangkat kepalanya melihat ayahnya yang berteriak di depannya. Bahkan bibirnya pun terlihat pucat saking ketakutannya melihat ayahnya.


“I-itu benda milik Saila,” jawab Saila dengan nada gugup tak berani menatap langsung wajah ayahnya.


Semua orang yang berada di situ begitu kaget saat mendengar ucapan Saila. Termasuk Yasmin dan Bima. Mereka berdua tidak percaya dengan jawaban yang di katakan putrinya.


Bima melangkah maju mendekati anaknya, memegang kedua bahu Saila sambil menatap anaknya dengan serius.


“Kau bilang apa tadi, benda ini milikmu?” tanya Bima sambil menunjukkan tes packnya di depan mata Saila.


“I-iya,” jawab Saila.


“Apa kau tahu ini apa?” tanya Bima kembali menunjuk – nunjuk anaknya dengan tes pack yang ia pegang.


“Tes-pack,” jawab Saila gagap dengan ekspresi ketakutan.


Bima kembali memegang erat kedua bahu anaknya, menatapnya dengan tatapan tajam.


“Saila, lihat ayah!” Pinta Bima dengan suaranya yang terdengar tegas.


Bima kembali bicara saat Saila menatapnya.


“Apa kau hamil?” tanya Bima dengan serius menatap anaknya.


Saila tampak diam menatap ayahnya.


Bima kembali bicara saat Saila diam tak menajawabnya.


“Jawab ... apa kau hamil?” tanya Bima dengan nada tingginya.


“I-iya,” Balas Saila menunduk.


Bima syok mendengar jawaban anaknya sampai ia langsung melepaskan tangannya dari kedua bahu anaknya. Ia menatap anaknya dengan tatapan marah.


Yasmin yang mendengar itu juga ikut syok. Ia tidak percaya kalau anaknya yang selama ini hanya tinggal di rumah tiba – tiba saja hamil. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat ia mendengar hal itu dari mulut Saila, menatap anaknya dengan mata melotot tak percaya.


Yasmin kembali memegang lengan Saila. “Saila sayang, kenapa kamu bisa hamil nak?” tanya Yasmin menatap anaknya dengan ekspresinya yang seketika sedih.


“Siapa yang menghamilimu?” sahut Bima yang kembali bertanya pada anaknya. Wajahnya sudah terlihat marah melihat Saila. Ia sampai mengepal tangannya menahan amarahnya itu.


Saila lagi – lagi diam membisu mendengar pertanyaan ayahnya. Apa yang harus ia katakan pada ayahnya tentang siapa yang menghamilinya?

__ADS_1


Ia tidak ingin kalau ayahnya sampai mencari Leon dan melakukan sesuatu pada Leon. Mengingat ayahnya yang begitu tegas. Ia ketakutan kalau ayahnya sampai menyuruh pengawalnya untuk menghajar Leon.


Bima kembali bertanya saat Saila hanya diam di sana. “Apa Zidan yang menghamilimu?” tanya Bima. Pikirnya kalau Zidan lah yang menghamili anaknya. Mengingat kalau hanya Zidan yang dekat dengan Saila selama ini.


“Bukan, Yah. Bukan Zidan,” jawab Saila dengan sigap saat mendengar pertanyaan ayahnya.


“Lalu siapa? Apa selama ini kau pacaran dengan seorang pria yang ayah tidak kenal?” tanya Bima kembali.


“I-iya,” jawab Saila. Ia terpaksa berbohong di depan ayahnya agar ayahnya tidak bertambah marah kalau ayahnya sampai tahu tentang dirinya yang di perkosa oleh kekasih Sila. Ayahnya pasti akan membunuh Leon.


“Bawa lelaki itu di hadapanku! Suruh dia datang ke sini besok!” tegas Bima menatap anaknya dengan tatapannya yang masih marah.


“Apa?” Saila terekjut.


“Kalau dia tidak datang besok. Ayah sendiri yang akan mencarinya. Menyeretnya ke sini!” tegasnya


“Iya ... Saila akan memanggilnya ke sini,” balas Saila.


Bima kemudian menoleh pada kedua pelayan yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


“Hei ... .” Panggilnya dengan keras.


Kedua pelayan itu langsung mengangkat kepalanya melihat Bima.


“Bawa nona kalian ke kamarnya! Jangan biarkan dia keluar kamar sampai aku yang menyuruhmu!” Perintahnya dengan tegas.


“Baik Tuan.”


Kedua pelayan itu pun berjalan cepat menghampiri Saila, kemudian menyuruh Saila mengikutinya naik ke lantai atas kamarnya.


Setelah mereka pergi, Bima langsung duduk di sofa menenangkan amarahnya yang masih belum reda.


Saat itu, Yasmin ikut duduk bersama suaminya dengan perasaannya yang tidak karuan mendengar anaknya yang tiba – tiba saja hamil.


“Berani sekali menghamili anakku!” ucap Bima dengan marah.


“Sayang ... ini semua salahku. Aku kurang menjaga Saila selama ini sampai dia hamil. Aku adalah ibu yang tidak becus,” ucap Yasmin sambil menangis di depan suaminya.


Bima menoleh melihat istrinya yang menangis. “Kenapa kau menyalahkan dirimu? Kau sudah menjadi ibu yang baik dan perhatian pada mereka. Harusnya aku yang di salahkan karena tidak memberikannya penjagaan yang ketat!” Bima menghapus air mata istrinya, menenangkan Yasmin yang menyalahkan dirinya tentang Saila yang hamil.


“Sekarang Saila hamil. Semoga saja Sila baik – baik saja di luar negri dan tidak mendapatkan masalah seperti Saila. Aku sangat khawatir dengan Sila melihat Saila sekarang. Aku takut kalau Sila juga akan seperti Saila sayang.”


Bima memeluk istrinya, menenangkan hati istrinya di sana. “Sudahlah. Kau jangan memikirkan yang macam – macam. Bukannya kau baru saja bicara dengan Sila tadi malam. Dia baik – baik saja, bukan?” jelas Bima sambil mengusap punggung istrinya.


“Iya,” balas Yasmin.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2