SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Kekecewaan Yasmin


__ADS_3

Kini Tuan Bima dan asistennya sudah berdiri di depan Rumah Sakit. Ia segera masuk ke dalam Rumah Sakit dengan langkah kaki tegasnya. Terasa aura dingin dan ketegangan dilorong Rumah Sakit yang mereka lewati dari tatapan dingin Tuan Bima, seakan ingin membunuh seseorang. Begitu marahnya Tuan Bima pada menantunya sampai ia terus memasang wajah seperti itu.


Bahkan orang – orang yang tak sengaja berpapasan dengannya merasa ketakutan melihat tatapan dingin Tuan Bima yang ia tunjukkan saat melihatnya.


Tuan Bima dan asistennya langsung memasuki lift menuju lantai 2 ruangan VIP Saila. Tak lama kemudian, lift yang di naiki Tuan Bima terbuka. Tuan Bima langsung keluar dari lift menuju ruangan Saila dengan langkah kaki tegaknya.


Dengan cepat, Ken mendorong pintu ruangan Saila yang membuat Saila yang ada di dalam terkejut mendengarnya.


“Ayah!” Saila bangun dari kasur menatap heran ayahnya yang ada di depan pintu.


Tuan Bima buru – buru masuk ke dalam ruangan dan melihat sekeliling ruangan yang luas itu, mencari keberadaan Leon, namun Leon sama sekali tidak terlihat di sana.


“Dimana Leon?” tanya Tuan Bima dengan suaranya yang terdengar tegas.


“Ayah tidak bertemu dengan Mas Leon diluar. Dia baru saja keluar membelikanku makanan!” jawab Saila kebingungan. Ia tak tahu kenapa ayahnya mencari Leon secara tiba – tiba, apalagi dengan tatapan dingin Tuan Bima yang menatapnya saat itu?


“Hari ini ayah akan membawamu pulang ke rumah!” ucap Tuan Bima dengan serius.


“Tapi, kata dokternya tadi, aku baru bisa pulang besok, Yah,” jawab Saila.


“Kenapa harus menunggu besok? Infusmu juga sudah di lepaskan! Ayah bisa memanggilkanmu dokter yang terbaik untuk merawatmu di rumah!” kata Tuan Bima.


“Tapi-


“Diamlah! Jangan membantahku terus!” tegas Tuan Bima yang membuat Saila seketika diam tanpa menyelesaikan ucapannya.


Tuan Bima pun berjalan mendekati anaknya, dan secara tiba – tiba menggendong putrinya dari sana. Saila tidak berani lagi untuk membantah ayahnya dan hanya diam menuruti kemauan ayahnya. Ia bahkan tak tahu masalah yang sebenarnya sampai ayahnya menjadi seperti itu.


Tuan Bima segera keluar dari ruangan itu sambil menggendong Saila. Ia berjalan keluar bersama Ken asistennya yang sejak tadi mendampinginya. Saat diluar, Tuan Bima tak sengaja berpapasan dengan dokter yang menangani Saila.


“Tuan Bima!” sapa dokternya sambil membungkuk hormat.


“Aku akan membawa putriku keluar dari Rumah Sakit!” ucap Tuan Bima dengan tegas.

__ADS_1


“Tapi, Nona Saila masih belum boleh keluar , Tuan,” jawab dokternya.


“Siapa kau berani menghalangiku? Aku bisa memberikannya dokter terbaik. Minggir kau. Jangan halangi aku!” kata Tuan Bima.


Dokter kandungannya Cuma bisa menunduk tanpa berani membantah keinginan Tuan Bima. Ia berjalan mundur ke samping membiarkan Tuan Bima melewati jalannya.


“Silahkan tuan!” kata si dokter mempersilahkan Tuan Bima pergi.


Tuan Bima pun kembali berjalan menyelusuri lorong Rumah Sakit sambil menggendong Saila yang sama sekali tak tahu apa – apa.


Mereka menaiki lift menuju lantai bawah Rumah sakit. Dan tak lama kemudian, lift yang mereka masuki sampai di lantai bawah, mereka keluar dari lift, kemudian berjalan keluar dari Rumah Sakit itu.


Ken buru – buru membuka pintu mobilnya setelah mereka sudah berada di luar Rumah sakit. Tuan Bima langsung memasukkan putrinya ke dalam mobil, kemudian ikut masuk ke sana.


Di dalam mobil.


“Ayah, ada apa sebenarnya? Kenapa ayah membawaku keluar dari Rumah Sakit?” tanya Saila penasaran.


Tuan Bima tidak merespon pertanyaan putrinya dan hanya duduk dengan pandangan lurus ke depan, kemudian berkata: “Ken, jalankan mobilnya!”


Mobil yang di kendarai Ken melaju meninggalkan Rumah Sakit. Sementara Leon baru saja datang setelah ia menemukan makanan yang diinginkan istrinya. Ia masuk ke dalam Rumah Sakit dan tidak mendapati istrinya di dalam ruangannya. Dokter Kandungan yang tadi berhadapan dengan Tuan Bima memberitahukan kalau Tuan Bima membawa Saila keluar dari Rumah Sakit.


Leon segera keluar dari Rumah Sakit untuk menyusul ayah mertuanya dan istrinya.


Saat diluar, Leon bertemu dengan Sila dan ibu mertuanya yang baru saja sampai.


Sila langsung berlari menghampiri Leon bersama ibunya.


“Kak Leon, apa yang dilakukan ayah padamu?” tanya Sila yang sudah terlihat sangat khawatir dan panik.


“Sebenarnya ada apa, Sila, Bu? Ayah baru saja membawa Saila keluar Rumah Sakit saat aku tidak ada!” kata Leon yang sudah terlihat bingung.


“Leon, ayahmu sedang marah karena sebuah surat yang diberikan seseorang. Saat ini dia sangat membencimu karena sudah berbohong tentang masalah pernikahan kalian!” kata Yasmin, kemudian maju mendekati Leon dan memegang lengannya. “Leon, katakan pada ibu. Apa kau benar – benar memperkosa Saila sampai dia hamil, hah? Kau berbohong pada kami kalau kalian pacaran, tapi kenyataannya tidak. Apa benar begitu?” tanya Yasmin menatap serius menantunya.

__ADS_1


Leon tertegun mendengar ucapan ibu mertuanya, matanya terbuka lebar. Ia terdiam sejenak karena kaget, kemudian memejamkan matanya di depan Yasmin. Saat Yasmin melihat Leon diam sambil memejamkan matanya, ia bisa menebak kalau semua pertanyaannya itu memang benar.


Namun, Yasmin masih menunggu bibir kaku menantunya itu bergerak menjawab pertanyaannya, berharap kalau tebakannya tidak benar.


“Leon, jawab ibu!” kata Yasmin kembali.


Leon mengangguk, mengiyakan pertanyaan ibu mertuanya. Seketika Yasmin melepaskan genggaman tangannya dari Leon. Tubuhnya lemah dan tak berdaya mengatahui jawaban dari Leon yang tidak ia harapkan. Ia memegang dadanya dengan kesedihan yang tampak di wajahnya.


“Ya tuhan Leon. Bagaimana bisa kau melakukan itu pada putriku?” kata Yasmin yang kecewa dengan menantunya.


Sila memegang salah satu lengan ibunya, kemudian berkata: “Ibu, biarpun begitu. Mereka sudah menikah dan mereka saling mencintai. Tolong jangan salahkan Kak Leon. Ini hanya kesalahpahaman, Bu!” kata Sila mencoba memberi pengertian pada ibunya.


“Ibu sangat kecewa padamu Leon!" kata Yasmin.


Seketika Leon berlutut di depan ibu mertuanya, memohon ampunan, kemudian berkata: “Ibu ... aku memang bersalah sudah melakukan itu pada Saila, tapi aku sangat mencintainya sekarang bu. Aku tidak bisa hidup tanpanya bu. Tolong maafkan kesalahanku. Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku itu, Bu!” kata Leon menundukkan kepalanya.


Yasmin terdiam sejenak menatap menantunya sambil menarik nafas panjangnya, kemudian mengeluarkannya. Berusaha menenangkan dirinya. Ia lalu membalikkan badannya membelakangi Leon.


“Ayo Sila, kita pulang. Ayahmu pasti akan marah kalau tahu kita disini!” kata Yasmin mengajak anaknya pergi dari sana.


Yasmin tidak merespon pengampunan Leon yang saat itu masih berlutut di depannya, karena rasa kecewanya pada Leon. Namun, jauh dari lubuk hatinya kalau ia merasa kasihan melihat menantunya seperti itu.


"Ibu ...!" Sila terlihat sedih dan kasihan melihat Leon yang masih berlutut di sana, apalagi saat ibunya tidak merespon Leon.


“Ayo pergi, Sila. Apa kau mau membuat ayahmu tambah marah kalau kita tetap disini?” kata Yasmin dengan tegas.


Sila segera melangkah mendekati ibunya. Saat Sila sudah berada di sampingnya, ia pun menarik tangan anaknya dan buru - buru pergi meninggalkan Leon. Sila sesekali melihat ke belakang, melihat Leon yang tidak beranjak dari tempatnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2