SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Masa lalu yang kelam


__ADS_3

Kini Leon sudah berada di kamar istrinya, sedangkan Ben pulang setelah berpamitan pada Nyonya Yasmin, Leon dan yang lainnya. Ia sempat mengeluh pada sahabatnya kalau Leon sudah mendapatkan kembali istrinya, sedangkan ia pulang tanpa mendapatkan apapun. Namun, tetap saja ia bahagia melihat Leon sudah diterima ayah dan ibu mertuanya, meskipun masih belum sepenuhnya.


***


Dari lantai 2


Terlihat Nyonya Yasmin yang baru saja keluar dari kamarnya, kemudian berjalan menghampiri kamar Saila. Ia mengetuk pintu kamar Saila ketika ia sudah berada di depan kamar Saila.


Saila yang mendengar ketukan pintu dari ibunya, berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju depan pintu, kemudian membuka pintu kamar untuk ibunya.


“Ada apa bu?” tanya Saila saat ia sudah melihat ibunya berdiri di depan pintu.


“Mana Leon? Ibu membawakan pakaian ganti untuknya. Suruh dia pakai ini untuk sementara!” kata Nyonya Yasmin menyodorkan pakaiannya di depan Saila.


Saila menerimanya, kemudian berkata: “Ini pakaian siapa bu?”


“Ini pakaian ayahmu. Ibu tidak menemukan pakaian Ansel yang cocok untuknya, jadi ibu memberikan pakaian ayahmu yang sudah tidak dipakai. Ini pakaiannya ketika dia masih muda. Berikan padanya ya!” kata Nyonya Yasmin.


“Baik bu!” balas Saila.


“Masuklah. Ibu pergi sekarang!” kata Yasmin tersenyum pada anaknya.


“Iya bu,” balas Saila.


Nyonya Yasmin pun pergi meninggalkan kamar Saila, dan Saila menutup kembali pintu kamarnya setelah melihat kepergian ibunya.


Sementara Leon yang baru saja selesai mandi, mendatangi Saila yang berdiri di dekat pintu kamarnya.


“Siapa yang datang?” tanya Leon saat ia sudah berdiri di depan Saila.


“Ibu datang memberikanmu baju ganti!” jawab Saila sambil menyodorkan pakaian ayahnya di depan Leon. “Ini pakaian ayah. Kata ibu, ini sudah tidak dipakai ayah. Mas Leon bisa pakai ini untuk sementara!” lanjut Saila.


Leon pun mengambil pakaiannya, kemudian berkata: “Apa ayah tidak keberatan kalau aku pakai bajunya?” tanya Leon.

__ADS_1


“Tentu saja tidak. Kalau ibu yang memberikannya, itu berarti ayah tidak keberatan. Jadi, kalau Mas Leon mau disukai ayah, Mas Leon harus bisa mengambil hati ibu!” jelas Saila sambil tersenyum pada suaminya.


“Benarkah?” tanya Leon yang seakan tidak percaya.


“Tentu saja. Mas Leon pikir, ayah setuju kita bersama karena apa? Itu semua karena ibu yang setiap hari membujuknya!” kata Saila menjelaskan di depan suaminya.


Leon memegang atas kepala istrinya dengan lembut, kemudian berkata: “Aku tahu sayang. Mulai sekarang, aku juga akan menuruti kata – katamu!”


“Benar ya,” balas Saila sambil tersenyum senang di depan Leon.


“Iya sayang!" Leon kembali memegang atas kepala Saila, memanjakan gadis yang ada di depannya itu. "Aku ganti pakaian dulu ya baru kita tidur. Karena mulai besok aku sepertinya harus bangun pagi – pagi untuk menyapa ayah dan ibu!” lanjut Leon.


Saila membalas Leon dengan menganggukkan kepalanya, dan Leon kembali membalikkan badannya, berjalan menuju kamar ganti untuk memakai pakaian yang di berikan ibu mertuanya itu.


Setelah berpakaian, Leon kembali keluar menghampiri istrinya yang kini berbaring tidur di atas kasur. Ia ikut naik di kasur dan berbaring di samping Saila sambil memeluk istrinya disana.


"Aku senang sekali ada Mas Leon disini!" kata Saila yang sudah berada di dada Leon. Ia ikut memeluk tubuh Leon dengan erat, menggesek - gesekkan wajahnya di dada Leon.


Seketika Saila berhenti, kemudian berkata: "Aku tidur sekarang. Aku tidak akan bergerak lagi!"


Leon mengelus - ngelus kepala istrinya, kemudian mencium kening Saila. "Gadis pintar!"


Sementara Sila yang sudah tidur di kamarnya dikejutkan dengan nada dering ponselnya. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal masuk di ponselnya.


Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja nakasnya, kemudian melihat nomor yang masuk di ponselnya, namun ia letakkan kembali ketika ia tahu bahwa nomor itu tidak terdaftar di ponselnya. Lagi – lagi ponselnya berdering yang membuatnya harus mengangkat nomor yang tidak dikenalnya.


“Halo.” Kata Sila saat ia sudah mengangkat dan meletakkan ponsel di telinganya.


“Sila, ini aku David!” kata lelaki di balik telfon.


“Kau!” seketika Sila bangun dari tempat tidurnya, dan duduk dengan kaget mendengar suara David. “Darimana kau dapat nomor telfonku?” tanya Sila.


“Dari seorang perempuan yang mengaku sebagai temanmu! Kenapa kau berusaha menghindariku, Sila? Apa kau ingin melupakanku begitu saja?” kata David dengan suaranya yang terdengar serak.

__ADS_1


“Kau memang pantas di lupakan. Pria sepertimu yang hanya mementingkan kesenangan saja tidak pantas ku pertahankan. Aku menyesal sudah mengenalmu. Setelah menjualku di klub malam hanya ingin mendapatkan uang agar kau bisa bersenang - senang, kau masih berani menghubungiku. Apa kau tidak waras? Kau pikir aku masih mau melihatmu. Aku tidak akan sudi!” kata Sila marah pada lelaki dibalik telfonnya.


“Sila, tenanglah sayang. Aku melakukan itu, karena aku membutuhkan uang. Kalau saja aku tahu kau kaya dan punya banyak uang. Aku tidak mungkin melakukan itu semua. Dan aku melakukannya untuk masa depan kita. Sayang, bisa kah kita bertemu. Aku merindukanmu!”


Sila langsung mematikan ponselnya, kemudian melemparnya ke lantai. Ia tidak ingin mendengar celotehan pria yang hampir menghancurkan hidupnya itu. Mendengar suaranya saja membuat ia jijik, apalagi kalau harus bertemu dengannya.


Setelah melempar ponselnya, ia kemudian memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya di sana.


Seketika gadis sexi itu menangis disana. Ia mengingat kembali masa lalunya saat bersama David. Dan masa lalunya itulah yang membuat ia sadar akan cintanya pada Leon. Meskipun Leon posesif padanya dulu, namun Leon tidak akan pernah menyakitinya seperti yang dilakukan David padanya.Tidak ada pria yang memperlakukannya dengan baik dan lembut kecuali Leon seorang.


“Bagaimana bisa pria itu bisa menemukanku disini? Aku bahkan mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya!” kata Sila. Ia terlihat ketakutan jika masa lalunya terulang kembali.


Beberapa saat setelah bicara dengan David membuat Sila susah untuk tidur, dan memilih duduk diam sendiri. Jika saja ia masih tinggal di luar negri dan tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, mungkin sekarang ia bisa pergi ke klub untuk minum, mengusir masa lalu yang kembali menghantuinya.


***


David adalah lelaki yang pernah di hubungi Alexa untuk menghancurkan hidup Sila. Alexa mencari tahu semua masa lalu tentang Sila dan menemukan fakta tentang David yang merupakan kekasih Sila yang punya sifat kejam dan seenaknya. Bahkan David pernah menjual Sila hanya karena ingin mendapatkan uang untuk kesenangannya sendiri. Namun, Sila bisa bebas karena mengganti semua uang yang diambil oleh David, bahkan Sila menggantinya tiga kali lipat demi bisa bebas. Masa lalu kelam itu membuat Sila menyesal telah meninggalkan Leon sampai ia setengah mati mencari keberadaan Leon.


***


Setiap Sila berhubungan dengan seorang pria, Sila memang tidak pernah mengatakan pada setiap pria yang ia pacari tentang asal usulnya sebenarnya. Dan semua mantan pacar Sila menganggap Sila sebagai wanita biasa yang hanya mengandalkan wajah dan tubuh sexinya.


 


.


.


.


Hai sayang2ku, sekarang kisah Sila ya, tapi mungkin nggak terlalu panjang amat ya. Setelah Sila selesai, tamat deh. Nggak usah panjang - panjang ya sayangku.


.

__ADS_1


__ADS_2