
Kini Leon berada di perjalanan untuk kembali ke Apartemennya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia belum sampai di Apartemen miliknya, namun ia sudah merasa hampa dan kesepian, karena tidak adanya Saila di sisinya.
Tiba – tiba terdengar bunyi dering ponselnya yang membuat ia langsung memasang Handsfree di telinganya. Ia angkatlah panggilan dari ponselnya itu tanpa melihat di layar ponselnya, siapa yang menghubunginya?
“Halo, ini siapa?” tanya Leon.
“Ini aku Ben!” kata Ben di balik telfon.
“Kebetulan kau menghubungiku. Aku ingin kau membantuku mencari tahu tentang seseorang!” kata Leon.
Leon berencana minta bantuan sahabatnya yang juga merupakan bawahannya untuk mencari tahu orang yang sudah mengirimkan surat dan fotonya pada ayah mertuanya. Ia sangat penasaran dengan orang tersebut.
“Sebelum aku membantumu. Kau harus ke Rumah Sakit dulu!” balas Ben dengan suaranya yang terdengar tegang.
“Ada apa?” tanya Leon mengerutkan keningnya di sana.
“Alexa masuk Rumah Sakit,” jawab Ben.
“Apa?” ucap Leon terkejut.
“Kau harus datang melihatnya. Sesuatu terjadi padanya!” kata Ben.
“Aku tidak punya waktu untuk datang melihatnya. Aku sudah tidak punya urusan dengannya, Ben. Apa kau sudah lupa yang dia lakukan pada Saila?” kata Leon menolak dengan tegas.
“Aku tahu kalau kau kesal dengannya, tapi ini berhubungan denganmu!” jelas Ben dengan serius di balik telfon.
“Ada hubungannya denganku?” tanya Leon mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan sahabatnya.
“Iya, makanya kau harus datang kesini dulu!” pinta Ben.
“Kau di Rumah Sakit mana?” tanya Leon kembali
“Rumah Sakit tempat Saila di rawat tadi!” jawab Ben.
“Baiklah. Aku ke sana sekarang!” balas Leon.
Leon mematikan Handsfree yang menempel di telinga kanannya, kemudian melepasnya kembali. Ia memutar mobilnya menuju Rumah Sakitnya tadi, dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju Rumah Sakit. Tak lama kemudian, mobil yang di kendarainya telah sampai di depan Rumah Sakit. Leon memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari mobil. Di depan Rumah Sakit, ia sudah melihat Ben tengah berdiri menunggu dirinya.
Sementara Ben yang melihat Leon berjalan menghampirinya terlihat kaget saat melihat wajah Leon yang bengkak dan merah.
“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Ben saat Leon sudah dekat dengannya.
“Nanti kuceritakan. Kau katakan dulu yang terjadi pada Alexa? Kenapa kau bilang dia ada hubungannya denganku?” tanya Leon.
__ADS_1
“Aku menghubungimu, karena kupikir yang menyuruh orang memukul Alexa adalah kau!” kata Ben dengan serius.
“Aku tidak pernah menyuruh orang memukulinya,” balas Leon.
“Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam. Dia dirawat di dalam, tapi lukanya tidak terlalu parah!” kata Ben mengajak Leon masuk.
Leon pun masuk ke dalam bersama dengan Ben. Mereka berdua berjalan cepat menyelusuri lorong Rumah sakit menuju ruangan dimana Alexa di rawat?
Hanya beberapa menit mereka berjalan, mereka sudah sampai di depan ruangan Alexa. Leon berdiri di depan pintu ruangan Alexa, menatapnya dari jendela kaca pintu bagian atas ruangan Alexa. Ia melihat Alexa tengah berbaring tak berdaya di kasur Rumah Sakit.
“Kenapa dia bisa jadi seperti itu?” tanya Leon melihat Ben kembali.
“Itu yang ingin kutanyakan padamu. Tadi, aku datang ke Apartemennya untuk meminta dokumen perusahaan yang dia bawa. Tapi saat aku sampai, dia sudah terbaring di lantai. Dan dia bilang ada empat wanita berjas hitam memukulinya habis – habisan, bahkan mengancamnya untuk meninggalkan negara ini. Aku pikir itu adalah perbuatanmu!” jelas Ben dengan serius.
Mendengar penjelasan Ben membuat Leon tidak terlalu terkejut, karena dari kata – kata sahabatnya itu, ia sudah bisa menebak siapa orang yang sudah melakukan itu pada Alexa?
Tentu saja yang memukuli Alexa adalah pengawal wanita Tuan Bima yang ia sewa untuk mencari tahu orang yang mengirimkannya surat. Saat menyelidiki Alexa, Tuan Bima tahu semua dari bawahannya tentang Alexa, bahkan ia tahu tentang masalah yang terjadi di Restoran. Ia pun menyuruh pengawalnya memberikan pelajaran pada Alexa, bersamaan saat ia memukuli Leon di rumahnya.
***
Ben melihat ekspresi yang di tunjukkan Leon membuat ia merasa kalau Leon tahu sesuatu.
“Kenapa dengan ekspresimu itu? Apa kau tahu orang yang melakukannya?” tanya Ben mengerutkan keningnya menatap sahabatnya.
Ia belum bisa memberitahukan orang yang ada dalam pikirannya pada Ben sebelum ia mengkonfirmasi sesuatu pada Alexa.
Leon pun membuka pintu ruangan Alexa, dan masuk ke dalam bersama Ben. Ia berjalan menghampiri Alexa yang tengah terbaring lemah. Leon berdiri di samping tempat tidur Alexa, menatap wajahnya yang sudah di penuhi dengan beberapa bekas pukulan.
Seketika Alexa menggerakkan tubuhnya, kemudian membuka matanya saat ia merasakan kehadiran Leon dan Ben.
“Leon, kau disini. Kau datang untuk melihatku?” kata Alexa sambil tersenyum senang melihat Leon di depannya. Ia menggerakkan tangannya untuk bisa meraih lengan Leon. “Aku pikir kau sudah tidak peduli lagi denganku! Leon, tadi ada empat orang yang memukulku dan mengancamku untuk meninggalkan negara ini!” lanjut Alexa yang seketika memasang ekspresi ketakutan di depan Leon.
“Aku datang bukan karena itu, tapi mau menanyakan sesuatu padamu!” kata Leon dengan tegas sambil menatap Alexa.
Seketika Alexa berwajah sedih di depan Leon, kemudian menjawab: “Kau mau menanyakan apa?”
“Apa kau orang yang memberitahu orang tua Saila masalah hubunganku dengan Sila, hah?” tanya Leon.
Alexa langsung tertegun menatap Leon, karena perbuatannya telah diketahui. Ia terdiam sejenak dengan ekspresi kagetnya melihat Leon yang tampak dingin padanya.
Leon yang melihat ekspresi Alexa sudah bisa mengetahui kalau dibalik ini semua adalah perbuatan Alexa.
“Aku akan membelikanmu tiket ke Prancis. Kau harus pergi dari sini!” kata Leon dengan tegas.
__ADS_1
“Leon, kenapa kau juga mau mengusirku dari sini?” kata Alexa dengan suara kerasnya.
“Kalau kau masih menyayangi nyawamu itu, kau pergilah dari sini. Jangan tunjukkan wajahmu di depan Sila dan Saila. Perbuatanmu itu sudah keterlaluan Alexa. Aku sudah memperingatimu untuk tidak mengusik mereka, tapi kau malah mengirimkan surat kaleng pada orang tua Saila. Apa kau pikir mengatakan kebenaran pada orang tua Saila, mereka akan berterima kasih padamu, tidak Alexa, kau hanya membuat dirimu menderita. Lihatlah hasil perbuatanmu. Kau pantas menerimanya!” kata Leon dengan nada tegasnya.
“Leon, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu!” ucap Alexa meminta maaf pada Leon.
“Aku tidak butuh kau meminta maaf padaku. Yang aku butuhkan adalah kau pergi dari sini!” ucap Leon.
Leon membalikkan badannya setelah mengatakan itu pada Alexa tanpa mau tinggal lama – lama bicara dengan Alexa. Ia berjalan keluar bersama Ben meninggalkan Alexa yang melihat kepergiannya dengan wajah sedihnya.
Saat diluar ruangan, Leon langsung menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya di sana. Leon di temani Ben yang saat itu berdiri di sampingnya, menatap wajahnya dengan serius.
“Apa orang yang memukuli Alexa adalah orang suruhan ayah mertuamu?” tanya Ben.
“Emm!” jawabnya sambil mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ben.
“Hahh ... gila. Ayah mertuamu sadis sekali!” kata Ben dengan wajah kagetnya, seakan ia tidak mempercayai yang ia tahu tentang Tuan Bima. Ben kembali menoleh melihat Leon dan kembali tersadar dengan wajah Leon.
“Jangan – jangan wajahmu itu juga dipukuli ayah mertuamu, ya!” kata Ben menebak – nebak yang ada di pikirannya.
Leon hanya diam tak menjawab ucapan Ben. Melihat kebisuan Leon, membuat Ben mengetahui kalau itu semua memang benar.
“Ayo, kita obati lukamu itu. Kebetulan kita ada di Rumah Sakit sekarang!” ucap Ben berjalan melewati Leon beberapa langkah.
“Tubuhku tidak sakit sama sekali, tapi hatiku yang sangat sakit!” kata Leon menatap sahabatnya.
“Jangan katakan itu sobat, aku sudah tahu kalau hatimu sakit sekarang. Ayah mertuamu pasti membawa Saila, kan?” kata Ben yang seketika menatap sedih sahabatnya.
“Ya!” Leon hanya menjawab dengan satu kata pada Ben.
“Kalau kau tidak mau mengobati lukamu di sini. Kita sebaiknya pulang dan pikirkan bagaimana caranya kau bisa kembali dengan Saila lagi?” ucap Ben mencoba menenangkan sahabatnya.
“Baiklah,” jawab Leon.
Ben dan Leon pun berjalan meninggalkan ruangan Alexa untuk keluar dari tempat itu. Mereka meninggalkan Rumah Sakit menggunakan mobil pribadi Leon.
Sementara di tempat lain.
Terlihat seorang pria misterius, baru saja turun dari taksi. Ia berdiri di sebuah Gedung Apartemen sederhana sambil memegang koper di sampingnya. Ia datang ke negara ini setelah di hubungi orang suruhan Alexa yang mengatakan keberadaan Sila.
Pria misterius tersebut tersenyum sinis, kemudian berkata: “Sila ... aku sudah datang untuk menangkapmu!”
Ia menatap Gedung Apartemen itu sejenak, kemudian berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1