SILA DAN SAILA

SILA DAN SAILA
Gadis yang tidak berharga


__ADS_3

Saat Saila menatap Leon, Leon kembali berdiri menghampiri Saila yang masih berdiri di depan pintu. Saila berdiri di sana melihat Leon berjalan ke arahnya, ia tidak bisa berbuat apa - apa sekarang, karena pada saat itu pintu kamar Leon terkunci. Saila tidak bisa keluar dari sana, ia hanya bisa meminta Leon untuk tidak melakukan sesuatu padanya.


"Tuan, Anda pasti salah paham. Aku bukan Sila yang Anda sabut tadi. Aku Saila, adik kembar Sila!" jelas Saila pada Leon yang tengah melangkah ke arahnya.


"Kau mau berbohong apa lagi sayang? Apa kau sudah cukup membohongiku selama ini?" tanya Leon sambil berjalan ke arah Saila. Ia mengira kalau Saila berbohong padanya.


"Aku benar - benar tidak berbohong. Aku bukan Sila, aku Saila saudara kembar Sila. Anda sudah salah orang tuan," ucap Saila menatap Leon dengan sorot mata ketakutan.


Leon tak menanggapi perkataan Saila, menurut Leon kalau Saila sekarang tengah berbohong lagi padanya, seperti kemarin yang mengatakan kalau ia tidak mengenalnya. Apalagi Sila tidak pernah mengatakan padanya kalau ia punya saudara kembar. Sila mengatakan padanya kalau ia lahir dari keluarga miskin, tidak memiliki saudara kembar atau pun saudara yang lain. Itu yang membuat Leon tidak percaya dengan Saila.


Saat Leon sudah begitu dekat dengan Saila, ia langsung menggendong gadis 20 tahun itu. Ia menggendong Saila di bahunya, kemudian berjalan kembali menuju tempat tidurnya.


"Kumohon ... lepaskan aku. Aku bukan Sila. Tolong turunkan aku. Aku mohon ... .!" teriak Saila sambil memukul - mukul belakang punggung Leon.


Leon tak menghiraukan teriakan Saila, atau penolakan dari gadis anggun itu. Ia semakin mempercepat langkahnya ke arah tempat tidurnya.


Leon melemparkan tubuh Saila ke kasur ketika ia sudah berada di sana. Saat itu, Saila langsung bangun, kemudian menggerakkan badannya mundur ke belakang, menatap Leon dengan ketakutan.


Leon membuka kancing baju kemejanya, kemudian naik ke kasur dengan posisi kedua lututunya bertumpu di kasur. Ia menarik kedua kaki Saila sampai Saila mendekat kepadanya, kemudian menindih tubuh Saila. Ia kembali memegang erat kedua tangan Saila, mencengkramnya di sisi kanan kiri kepala gadis itu.


Seketika Saila menangis di sana. "Hiks ... hiks ... hiks ... aku mohon lepaskan aku! Aku mohon tuan, tolong lepaskan aku!" Saila memohon - mohon pada Leon dengan wajah sedihnya.


Leon sedih melihat kesedihan Saila, apalagi mendengar tangisan gadis di depannya itu, namun rasa sakit hatinya pada Saila selama beberapa hari ini lebih besar di banding rasa kasihannya pada Saila. Ia sangat marah, danĀ  benci dengan tingkah Saila yang selalu membohonginya, apalagi melihat Saila begitu dekat dengan seorang pria. Rasa bencinya pada Saila yang lebih memilih pria lain di bandingkan dirinya, membuat ia ingin memaksa gadis yang ada di depannya, membuat ia ingin memiliki Saila, walaupun dengan paksaan akan ia lakukan.


"Kau masih belum puas bermain - main dengan banyak pria rupanya. Sekarang kau berpura - pura begini," ucap Leon.


"Apa yang tuan katakan. Aku sungguh bukan Sila?"


"Aku akan menghentikan permainanmu sekarang sayang. Kau akan merasakan kenikmatan dariku hari ini," ucap Leon sambil tersenyum seringai.

__ADS_1


Saila semakin ketakutan mendengar perkataan Leon, apalagi melihat ekspresi Leon yang tak biasa. "Aku mohon! Jangan lakukan tuan. Aku mohon!" Saila menangis memohon - mohon di depan Leon.


"Sssstttt ... jangan menangis. Aku akan melakukannya pelan - pelan sampai kau tidak merasakan sakit apapun," ucap Leon menatap Saila dengan penuh nafsu.


Leon benar - benar sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia menjadi pria egois di depan gadis yang ia kira Sila. Sila yang selalu ia manjakan, selalu ia cintai, gadis yang selalu ia turuti kemauannya, gadis yang selalu ia pentingkan di banding hal lain, gadis yang selalu ia jaga perasaannya. Begitu sakit hatinya ia pada Sila sampai ia memaksa Saila.


Saila terus - terusan menangis di depan Leon.


"Percaya padaku, aku bukan Sila. Aku bisa membuktikan pada Anda, tuan." Saila kembali meyakinkan Leon kalau ia bukan Sila.


Leon tak peduli dengan ucapan Saila. Ia mencium paksa Saila di sana dengan penuh nafsu dan gairah.


"Mmmm ... mmm ... mmm!" Suara Saila yang menolak ciuman Leon.


Leon kembali mengangkat kepalanya melihat Saila. "Kalau kau melawan terus, kau akan merasakan sakit yang tidak pernah kau bayangkan!" Ancam Leon menatap Saila.


Leon kembali melanjutkan aksinya, ia mencium bibir merah Saila, menciumnya dengan penuh nafsu, kemudian turun ke leher Saila. Ia terus mencium leher Saila di sana, mencium telinga mungil gadis cantik itu, menjilatnya dengan lembut membuat Saila merasa tidak nyaman. Meskipun ia menolak Leon dan tidak mau di sentuh oleh Leon, namun tidak bisa di pungkiri kalau ciuman, sentuhan yang diberikan Leon padanya membuat ia merasakan kenikmatan sendiri dalam dirinya.


Saila dengan sigap menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. "Tolong ... hiks ... hiks ... jangan lakukan, kumohon jangan lakukan!" teriaknya dengan keras.


Leon tak peduli, ia kembali memegang kedua tangan Saila, kemudian mencium dada gadis itu.


"Aaaaaaa! Jangan ... hiks ... hiks ... jangan!" teriak Saila dengan tangisan yang tak henti - hentinya di sana.


Leon mencium semua bagian tubuh Saila dengan lembut dan penuh nafsu, sedangkan Saila hanya bisa menangisi nasibnya sekarang tanpa bisa melawan. Kekuatan Leon yang menindihnya membuat ia tak bisa melakukan apa - apa kecuali menangis dan memohon pada lelaki bertubuh tinggi itu.


Setelah puas mencium seluruh tubuh Saila, ia kembali menatap wajah gadis 20 tahun itu sambil memegang pahanya. Ia memegang kepala Saila, kemudian melakukannya di sana.


"Eegh ... ." Suara Leon ketika ia akhirnya melakukan keinginannya itu. Ia mencium kening Saila, kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Saila dengan mesra, menjilatnya di sana.

__ADS_1


Saila terlihat mengigit bibirnya, menahan rasa sakitnya, tanpa mengeluarkan suaranya di sana.


Leon kembali mengangkat kepalanya melihat Saila. "Gadis pintar," ucapnya saat melihat Saila menahan rasa sakitnya. "Tenang sayang, ini hanya sakit di awal. Kali ini aku akan melakukannya pelan - pelan sampai kau tidak merasakan sakit lagi," ucap Leon sambil mengusap kepala Saila.


Saat itu, Saila tak sudi menatap Leon, ia hanya meneteskan air matanya di sana dengan perasaan kecewa, karena kehormatannya telah di renggut oleh lelaki yang tak ia cintai, lelaki asing yang baru tiga kali ia temui. Begitu hancurnya hati Saila sekarang.


Leon kembali melanjutkan aksinya sesaat setelah mengatakan hal itu pada Saila.


"Eegh ... Ah ... Aah ... ah ... ah!" terdengar suara Leon kalau ia sangat - sangat menikmati tubuh Saila di sana. Ia menepati janjinya tadi pada Saila kalau ia akan melakukannya secara lembut, tidak membuat gadis itu merasakan sakit seperti ia pertama kali melakukannya tadi.


Leon melakukannya sambil terus meraba bagian tubuh Saila yang membuat Saila tak bisa menahannya lagi.


"Sudah cukup, aku mohon. Cukup, aku mohon!" Saila kembali memohon saat lelaki bertubuh altelis itu tidak berhenti melakukan aksinya. Bahkan Leon semakin menikmatinya dengan suaranya yang terdengar keras.


Setelah puas menikmati tubuh Saila, ia menghentikan aksinya tadi. Terdengar nafasnya yang tak beraturan, nafas ngos - ngosan sehabis melakukan aksi bejatnya pada Saila. Ia mencium bibir Saila, dan mencium kening Saila, kemudian melemparkan tubuhnya di samping Saila. Leon terlihat kelelahan akibat perbuatan yang ia lakukan pada Saila selama beberapa menit tadi.


Sementara Saila masih menangis sedih sambil menutupi bagian tubuhnya dengan selimut. Ia menggerakkan badannya membelakangi Leon sambil memegang erat selimut di dadanya. Ia sudah menjadi gadis yang tidak berharga sekarang, wanita tidak suci. Tubuhnya sudah ternodai dengan lelaki asing yang berbaring di sampingnya. Apa salahnya sampai ia mengalami hal yang tidak pernah ia bayangkan? Pikirnya.


Menurut pemikirannya kalau wanita akan dianggap berharga saat ia bisa menjaga kehormatannya sampai ia menikah dengan lelaki yang akan menjadi suami masa depannya. Sekarang ia sudah menjadi gadis yang tidak berharga. Hal yang begitu ia jaga selama ini telah hilang dalam semalam.


.


.


Bersambung.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2